Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Food Estate Merauke Prioritaskan Tiga Komoditas

Selasa, 25 Januari 2011 | 09:31 WIB
Antara

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memprioritaskan tiga komoditas yaitu kedelai, padi, dan tebu untuk dibudidayakan dalam program tanaman pangan berskala luas (food estate) di Merakue, Papua.

“Luas lahan yang telah disepakati untuk program food estate adalah sekitar 570 ribu hektare yang terletak di wilayah Papua. Tapi perlu ada grand design lagi. Perlu ada penyesuaian lagi,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di Jakarta, Senin (24/1).

Pengembangan food estate Merauke sempat terjadi perbedaan pendapat antara Bupati Merauke dan Gubernur Papua mengenai luas wilayah untuk proyek tersebut. Bupati menginginkan luasnya mencapai berkisar 1 jutaan hektare, sedangkan Gubernur hanya mengajukan 500 ribu hektare.

Gubernur Papua Barnabas Suebu, kemarin menegaskan untuk infrastruktur pendukung kawasan tersebut adalah wewenang pemerintah pusat. “Belum tahu saya itu, pusat yang lebih tahu. Kalau dari Papua sendiri lebih banyak dari perizinan dan lahan serta kesiapan masyarakat,” ujar dia.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar meminta pemerintah untuk mempercepat pembangunan sentra-sentra pangan baru berskala di daerah-daerah. Itu dilakukan guna mengantisipasi krisis pangan yang kini sudah di depan mata. “Percepatan pembangunan basis-basis pangan baru, perlu segera di realisasikan.

Merauke Food Estate dengan 500 ribu hektare basis pangan yang mulai berjalan Agustus 2010 bisa menjadi contoh dan perlu dioptimalisasi,” kata Rofi’ di Jakarta, Senin.

Selain secara luasan, Merauke Food Estate bisa didorong hingga mencapai 1,2 juta hectare lahan. Untuk itu, pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, pasar, jalan, sumber energi, dan pergudangan di basis pangan baru tersebut. “Presiden SBY juga hendaknya segera merampungkan instr uksi presiden (inpres) mengenai pengendalian harga pangan,” ujar dia.

Menurut Rofi’ inpres tersebut sangat penting guna menjamin stabilisasi harga pangan dan program-program ketahanan pangan lainnya seperti pemberian bibit dan pupuk secara gratis. “Bahkan menjamin adanya penggantian biaya produksi ketika sawah para petani mengalami gagal panen,” tutur dia.

Akhir 2010, Organisasi Pangan Dunia (FAO) mengumumkan data tren harga pangan yang meningkat tajam secara global. Badan dunia tersebut memaparkan bahwa food price index telah naik 43 poin sejak Desember 2009 yaitu di angka 172 menjadi 215 pada Desember 2010.

FAO juga mencatat ada lima komoditas pangan yang secara price index meningkat tajam. Pada kelompok daging, Desember 2010 menunjukkan angka 142, padahal setahun sebelumnya hanya 120. Pada kelompok gandum naik 67 poin dalam setahun sehingga pada Desember 2010 berada pada posisi 238. (ina)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN