Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bulog: Penyerapan Gabah Terkendala HPP

Kamis, 10 Maret 2011 | 20:13 WIB
Antara

JAKARTA - Perum Bulog mengakui pihaknya kesulitan melakukan penyerapan gabah petani secara maksimal selama harga pembelian pemerintah (HPP) tidak mengalami kenaikan.

Staf ahli Bulog Mohammad Ismet di Jakarta, Kamis mengatakan, saat ini harga beras di pasaran lebih tinggi dibandingkan HPP yang ditetapkan pemerintah.

"Semakin besar selisih harga pasar dengan HPP maka produsen yakni petani dan penggilingan lebih memilih menjual ke pasar daripada ke Bulog," katanya dalam diskusi terbatas tentang perberasan.

Berdasarkan Inpres no 7/2009 HPP yang ditetapkan pemerintah untuk gabah kering panen (GKP) Rp 2.640/kg, gabah kering giling (GKG) Rp 3.300/kg dan beras Rp 5.060/kg.

Sementara itu, harga beras jenis IR III di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, saat ini mencapai kisaran Rp 5.700/kg.

Ismet mengatakan, jika harga beras di pasar sudah tinggi maka tidak lagi diperlukan HPP karena kebijakan tersebut tidak efektif untuk meningkatkan pengadaan dalam negeri.

Apalagi, lanjutnya, fungsi HPP adalah untuk mengamankan harga beras maupun gabah petani saat harga di pasaran mengalami penurunan. "Jika pemerintah tidak menaikkan HPP maka Bulog tidak akan bisa menyerap gabah petani. Kalaupun bisa hanya di daerah-daerah kantong produksi yang harganya turun," katanya.

Pada tahun 2011 ini pemerintah menargetkan Perum Bulog mampu melakukan pengadaan beras dalam negeri sebanyak 3-3,5 juta ton.

Ismet mengatakan, apabila produksi 2011 dapat mencapai 70,1 juta ton atau naik 6 persen dari 2010, maka dengan kemampuan pengadaan dalam negeri Bulgo yang rata-rata 5,9 persen maka secara normal hanya akan mencapai 2,35 juta ton.

"Untuk mencapai target pengadaan 3,5 juta ton perlu upaya lebih keras dengan berbagai langkah operasional yang harus didukung kebijakan perberasan yang kuat," katanya.

Senada dengan hal itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, Bulog akan kesulitan menyerap gabah petani apabila HPP tidak dinaikkan meskipun sudah ada Tabel Rafaksi yang dikeluarkan Menteri Pertanian.

Menurut dia, swasta telah melakukan pembelian gabah di atas HPP sehingga akan mempunyai stok gabah lebih banyak dibandingkan BUMN pangan tersebut akibatnya pasar akan dikuasi swasta.

"Jika Bulog menyerap gabah petani dengan HPP lama sulit, bahkan tercapai 50 persen (dari target) sudah bagus," katanya.

Apalagi, lanjutnya, saat ini waktunya sudah mepet untuk melakukan penyerapan, sehingga tanpa kenaikan HPP maka Bulog hanya bisa menyerap pada musim rendengan sedangkan musim gadu akan kesulitan. (tk/ant)

Editor :

BAGIKAN