Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

RI akan Revisi Target Penurunan Emisi Karbon

Kamis, 12 November 2015 | 13:55 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA – Ketua Dewan Pengarah Penanganan Perubahan Iklim Sarwono Kusumaatmadja menyatakan bahwa Indonesia bisa saja merevisi target penurunan emisi karbon yang diajukan dalam Intended Nationally Determined Contribution(INDC).


Sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) membebaskan setiap negara mengkaji kembali dan merevisi target dalam INDC. Jepang misalnya, telah merevisi target penurunan emisi karbon menyusul terjadinya gempa dan tsunami pada Maret 2011.


Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan emisi oleh Indonesia menjadi 29% yang akan dicapai pada 2030. Artinya, angka itu dinaikkan sekitar 3% dari target 26% pada 2020. Target yang dicantumkan dalam dokumen INDC tersebut telah diserahkan kepada Sekretariat UNFCCC.


"Target dalam INDC belum tentu kita revisi. Revisi sebagai kemungkinan. Bisa direvisi menjadi naik atau bisa juga diturunkan. Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini bisa memicu kita lebih kencang menggenjot penurunan emisi. Revisi itu wajar dan memang setiap negara dibebaskan mengevaluasi atau merevisi targetnya," kata Sarwono saat jumpa pers pembukaan Pertemuan Multipihak tentang Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia Menyongsong UNFCCC COP- 21 di Jakarta, Rabu (11/11).


Yang penting, kata Sarwono, pemerintah harus terbuka menyatakan kondisi dan posisi Indonesia. Indonesia juga menghadapi tekanan akibat perubahan iklim. Setelah El Nino, akan ada musim hujan dengan intensitas tinggi tapi pendek, dilanjutkan fenomena cuaca La Nina. Kemudian, musim kemarau akan kembali menghadang.


Saat ini, dunia internasional sedang menunggu langkah Indonesia terkait transformasi dan upaya jangka pendek dan panjang dalam menghadapi hal-hal perubahan iklim.


"Yang penting kita harus terbuka, tidak defensif, dan tidak menyangkal. Bagaimana kita bisa mengubah krisis menjadi peluang, program REDD+, konservasi, dan kebijakan energi terbarukan berjalan baik. Musim kemarau tahun depan akan menjadi test case, sejauh mana upaya pengendalian yang kita lakukan bisa efektif akan terlihat tahun depan," kata Sarwono. (eme)


Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN