Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para tenaga kesehatan mengenakan pakaian hazmat memberikan pengarahan kepada warga yan mengantre untuk menjalani tes wajib virus corona Covid-19, setelah terjadi lonjakan kasus di distrik Jordan, Kowloon, di Hong Kong pada 20 Januari 2021. ( Foto: Anthony Wallace / AFP )

Para tenaga kesehatan mengenakan pakaian hazmat memberikan pengarahan kepada warga yan mengantre untuk menjalani tes wajib virus corona Covid-19, setelah terjadi lonjakan kasus di distrik Jordan, Kowloon, di Hong Kong pada 20 Januari 2021. ( Foto: Anthony Wallace / AFP )

Hong Kong Berlakukan Karantina Pertama

Sabtu, 23 Januari 2021 | 07:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

HONG KONG, investor.id – Ribuan penduduk Hong Kong diperintahkan tinggal di rumah guna menjalani karantina virus corona Covid-19 pertama. Langkah ini dilakukan oleh pihak berwenang yang sedang memerangi wabah di salah satu distrik termiskin dan paling padat. Demikian disampaikan media setempat pada Jumat (22/1).

Surat kabar South China Morning Post (SCMP) melaporkan bahwa tindakan itu berlaku mulai Jumat tengah malam hingga Sabtu (23/1). Sekitar 1.700 polisi telah siap untuk menegakkan karantina (lockdown) yang mencakup sekitar 150 blok perumahan, dan hingga 9.000 orang.

Laporan menyebutkan, perintah dari pihak berwenang melarang siapa pun meninggalkan apartemen kecuali dapat menunjukkan hasil tes negatif Covid-19. Kasus-kasus infeksi mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir, dan karantina akan berlangsung sampai semua orang di area yang ditentukan telah menjalani tes.

Saat ditanyakan dalam konferensi pers Jumat sore, para pejabat kesehatan menolak mengomentari proposal tersebut. Tetapi beberapa media lokal melaporkan adanya karantina dari kutipan pejabat pemerintah sepanjang Jumat.

Sebagai informasi, Hong Kong adalah salah satu tempat pertama yang terkena virus corona sejak penyebarannya dari Tiongkok tengah.

Sejak itu, pihak berwenang Hong Kong berusaha mempertahankan angka kasus infeksi di bawah 10.000 dan 170 korban meninggal dunia. Pemerintah telah menetapkan aturan menjaga jarak yang efektif, namun berdampak pada sebagian besar ekonomi tahun lalu.

Selama dua bulan terakhir Hong Kong telah dilanda gelombang keempat infeksi yang mendorong pihak berwenang berjuang menurunkan angka kasus harian. Tetapi klaster-klaster terus bermunculan di wilayah Yau Tsim Mong, yakni sebuah distrik yang dihuni masyarakat berpenghasilan rendah dan terkenal akan ukuran perumahan paling sempit di dunia.

Walau di atas kertas, Hong Kong adalah salah satu kota terkaya di dunia. Tetapi negara itu menderita ketidaksetaraan yang meluas, kekurangan perumahan yang akut, dan harga sewa yang mahal gagal diselesaikan oleh pemerintah berturut-turut.

Perumahan Padat

Menurut laporan, rata-rata flat di Hong Kong berukuran sekitar 46 meter persegi. Namun banyak yang membaginya menjadi beberapa bilik yang lebih kecil, yakni 50 kaki persegi atau bahkan kurang. Kondisi ini diperparah dengan berbagi penggunaan kamar mandi dan pancuran di dalam bangunan yang sudah tua.

Jenis bangunan tersebut menjadi tempat bermunculan klaster-klaster baru Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir, dan mendorong pemerintah menerapkan karantina untuk kali pertama. Bahkan, beberapa hari terakhir, para petugas kesehatan mulai melakukan tes wajib di sekitar 70 bangunan di daerah tersebut, tetapi pemerintah sekarang telah memutuskan untuk menguji semua orang.

“Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi orang-orang yang bersembunyi, yang belum menjalani tes Covid-19,” kata SCMP mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya yang terlibat dalam rencana itu, Jumat.

Di sisi lain, daerah ini juga menjadi rumah bagi banyak etnis minoritas, terutama warga Hong Kong Asia Selatan. Golongan masyarakat yang sering menghadapi diskriminasi dan kemiskinan.

Awal pekan ini, pernyataan yang dikeluarkan pejabat kesehatan senior memicu penduduk ketika dia menuding bahwa warga etnis minoritas kemungkinan lebih mudah menyebarkan virus karena “Mereka suka berbagi makanan, merokok, minum alkohol dan mengobrol bersama”.

Tetapi para kritikus membantah. Menurut mereka kemiskinan dan kurangnya perumahan yang terjangkau memaksa orang untuk hidup dalam kondisi sempit. Hal ini menjadi penyebab penyebaran virus lebih mudah di distrik-distrik itu, bukan soal ras atau budaya.

Pernyataan pejabat kesehatan itu juga muncul ketika video para migran yang didominasi kulit putih tengah menari saat makan siang di Pulau Hong Kong yang lebih makmur, sehingga memicu kemarahan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN