Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pertumbuhan ULN Dipengaruhi Beberapa Faktor

Minggu, 19 April 2015 | 00:12 WIB
Oleh Margye J Waisapy dan Thomas Harefa

JAKARTA- Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto juga menilai pertumbuhan ULN Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor.

 

Faktor-faktor tersebut adalah pembayaran kewajiban yang jatuh tempo, adanya beleid BI yg mewajibkan debitor ULN untuk hedging, dan rencana kenaikan suku bunga The Fed mengurangi minat korporasi untuk mencari ULN.

 

“Ke depan pertumbuhan ULN swasta akan terus turun, seiring menguatnya dolar AS dan kenaikan suku bunga the Fed,” ujar dia di Jakarta, Jumat.

 

Ia menanggapi catatan Bank Indonesia (BI) yang menyebutkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per Februari 2015 sebesar US$ 298,9 miliar atau tumbuh 9,4% secara year on year (yoy). Meski demikian, tingkat pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan Januari 2015 yang sebesar 10,5% (yoy) atau mencapai US$ 298,6 miliar.

 

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, porsi ULN Indonesia pada Februari 2015 memang tumbuh melambat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah porsi dari kedua sektor dalam total ULN yang ada.

 

“Apabila proporsi meningkat, artinya proporsi punya risiko terhadap fluktuatif nilai tukar yang ada,” ujar Enny.

 

Sementara itu, ekonom Senior PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan, tren perlambatan ULN Indonesia dipengaruhi oleh kondisi dalam negeri pada 2014 dan view ekonomi di tahun ini.

 

Menurut Andry, perlambatan kredit serta melemahnya harga komoditas memengaruhi nilai utang swasta, terutama di sektor perbankan dan industri manufaktur.

 

“Potensi peningkatan tetap ada seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia, sehingga risiko mismatch currency dan tenor perlu diwaspadai. Namun, kebijakan BI sudah cukup tepat untuk menurunkan risiko tersebut,” ujar dia. (ID/gor)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/garuda-4-bank-teken-kerja-sama-lindung-nilai/113760

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN