Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

2020, Bank Sahabat Sampoerna Kaji IPO

Senin, 20 Juni 2016 | 14:41 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

TANGERANG – PT Bank Sahabat Sampoerna mempertimbangkan mitra strategis dan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tahun 2020. Pada tahun tersebut, Bank Sampoerna dinilai sudah matang dan menarik bagi para investor.


Direktur Utama Bank Sampoerna Ali Yong menjelaskan, pemegang saham memang berkomitmen untuk terus meningkatkan permodalan. Pada April 2016, pemegang saham baru menyuntikkan modal sebesar Rp 110 miliar yang membuat bank yang masih berkaitan dengan grup Alfa ini meningkat ke kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II atau bank dengan modal inti di atas Rp 1 triliun.


Untuk mencapai BUKU III dengan modal inti di atas Rp 5 triliun, perseroan harus melakukan aksi anorganik. “Mesti diakuisisi atau aksi anorganik lainnya, seperti IPO,” kata Ali pada acara buka Bank Sahabat Sampoerna di Kandank Jurank, Ciputat, Tangerang Selatan, pekan lalu.


Akan tetapi, menurut Ali, langkah pertumbuhan anorganik tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Menurut Ali, Bank Sahabat Sampoerna setidaknya harus memiliki aset di atas Rp 20 triliun apabila ingin dipinang pihak lain. “Saat ini terlalu kecil, belum seksi, mungkin dipertimbangkan setelah tahun 2020,” tegas dia.


Saat ini Bank Sahabat Sampoerna dimiliki oleh PT Sampoerna Investama dengan kepemilikan saham sebesar 83%. Setelah itu dimiliki oleh PT Cakrawala Mulia Prima yang masih berada di bawah naungan Grup Alfa sekitar 16%, dan Ekadharmajanto Kasih dengan porsi 1%.


Tahun ini, Ali mengungkapkan, industri perbankan mengalami tekanan yang cukup berat lantaran permintaan kredit yang menyusut. Pertumbuhan kredit yang pada awalnya ditargetkan mencapai 50%, direvisi menjadi 30%. Kendati pada Mei 2016 penyaluran kredit perseroan masih bisa bertumbuh 50%.


“Fokus kredit kami adalah untuk segmen kredit kecil, yaitu untuk nasabah dengan plafon di bawah Rp 3 miliar, sampai saat ini pertumbuhannya masih bagus. Namun permintaannya tidak setinggi yang diharapkan,” tutur dia.


Selain permintaan kredit yang menurun, tekanan terhadap rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga menjadi halangan untuk tahun ini. Ali menyebutkan, sampai Mei 2016, NPL perseroan tercatat naik ke angka 3,75%. Sampai akhir tahun ditargetkan bisa ditekan di bawah 3%.


Sementara itu, terhadap program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga subsidi 9%, menurut Ali, tidak banyak mempengaruhi bisnis Bank Sahabat Sampoerna. Pasalnya, plafon KUR yang diberikan pada program tersebut sebesar Rp 500 juta ke bawah dan hal tersebut tidak bersinggungan dengan bisnis perseroan.


Saat ditanya mengenai keikutsertaan Bank Sampoerna pada program KUR, menurut Ali, pihaknya belum siap berpartisipasi. “Kami tunda dua tahun lagi, karena saat ini terlalu kecil kredit yang kami salurkan,” jelas dia.


Sedangkan untuk suku bunga kredit yang diberikan, Ali mengungkapkan, Bank Sampoerna belum bisa memberikan suku bunga kredit kecil single digit seperti yang diarahkan regulator. Pasalnya, premi risiko dan cost of credit untuk segmen kredit kecil relatif lebih tinggi dibandingkan segmen kredit lainnya.


“Kalau suku bunga kredit korporasi turun, kredit komersial baru bisa turun, setelah itu sektor UKM dan sektor mikro,” terang dia. (gtr)


Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN