Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

AAUI Khawatirkan Pelepasan Saham Asing Butuh Waktu Lama

Selasa, 7 Oktober 2014 | 21:23 WIB
Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah


JAKARTA - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengkhawatirkan proses pelepasan saham asing (divestasi) di perusahaan asuransi Indonesia membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Untuk menerapkan aturan kepemilikan saham asing maksimal 80 persen seperti aturan saat ini saja diperkirakan membutuhkan waktu minimal lima tahun," kata Direktur Eksekutif AAUI, Julian Noor ditemui di Surabaya, Selasa (7/10).

Sementara jika aturan kepemilikan saham asing diperketat menjadi maksimal 49 persen seperti yang diatur dalam Rancangan Undang-undang Perasuransian yang baru disetujui DPR untuk disahkan menjadi UU, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama.

"Kalau prediksi kami bisa mencapai 10 tahun," ujarnya.

Kini, jelas dia, aturan kepemilikan asing di perusahaan asuransi lokal maksimal 80 persen dari modal disetor. Akan tetapi, pada perkembangan di lapangan banyak yang lebih dari 90 persen.

"Di sisi lain, pada dasarnya pelaku industri asuransi siap untuk mengadopsi aturan yang akan ditetapkan DPR dalam UU Perasuransian," katanya.

Tapi, tambah dia, pelaku industri asuransi menginginkan waktu implementasi soal kepemilikan saham bisa diperlonggar. Apalagi, menggelembungnya kepemilikan saham asing di perusahaan asuransi lokal yang didirikan berdasarkan joint venture antara investor lokal dan asing mayoritas disebabkan minimnya kemampuan investor lokal.

"Khususnya kemampuan mereka untuk menambahkan modal. Kalau investor lokal, masih belum mau banyak terlibat di industri asuransi karena profil usahanya yang cukup rumit," katanya.

Di samping itu, sebut dia, investor asing sudah siap untuk masuk ke industri ini dengan modal yang cukup besar. Apabila perusahaan asuransi hasil joint venture tersebut memerlukan tambahan modal maka hanya investor asing yang mampu menambah modal.

"Dampaknya kepemilikan saham investor lokal terdilusi dan komposisi saham awal berubah," katanya.

Oleh sebab itu, harap dia, pemerintah bisa menerapkan aturan soal kepemilikan asing lebih lama. Jika dilakukan secara mendadak AAUI khawatir perkembangan industri asuransi di Indonesia akan stagnan. (ID/ant/ths)

Editor :

BAGIKAN