Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BI: Belum Ada Sinkronisasi Hasilkan SDM Syariah

Senin, 13 Agustus 2012 | 20:03 WIB
Antara

JAKARTA - Langkah mencetak sumber daya manusia perbankan syariah hingga kini belum ada sinkronisasi antara akademisi dan praktisi. ”Saat ini banyak perguruan tinggi berusaha membuat studi syariah tapi tidak punya pengajarnya,” kata Kepala Departemen Perbankan Syariah Bank Indonesia, Edy Setiadi dalam diskusi bertajuk Menguak Krisis Sumber Daya Insani di Perbankan Syariah, di Jakarta, Senin.

Untuk itu, dia mengatakan perlu ada standarisasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat pendidikan berbasis syariah yang terformat, katanya dalam diskusi bertajuk Menguak Krisis Sumber Daya Insani di Perbankan Syariah, di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan banyak bank berbasis syariah justru tidak mengambil SDM perbankan syariah, tetapi justru SDM bank konvensional. "Tantangannya pemenuhan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia," ujarnya.

Edy mencontohkan adanya perbedaan pengembangan SDM di bank syariah dan bank konvensional. Menurutnya, di bank konvensional tiap bulan diadakan pelatihan, sedangkan di bank syariah sudah setahun tidak diadakan pelatihan.

Menurut dia perlu adanya pelatihan yang arahnya berjalan baik dengan kurikulum terintegrasi dengan baik, dan juga tenaga pengajar berkualitas.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Ahmad K Permana mengatakan saat ini banyak SDM melupakan pengetahuan tentang bank (banking knowledge), tetapi fokus pada pengetahuan syariah.

Menurut dia sebagai bankir profesional, seseorang harus memiliki komposisi kemampuan seperti, pengetahuan perbankan (50 persen), pengetahuan syariah (30 persen), dan soft skill (20 persen).

Dia mengatakan kurikulum di perguruan tinggi syariah harus disesuaikan dengan kebutuhan industri perbankan syariah. Sebab, menurutnya, selama ini daya serap industri perbankan terhadap lulusan perguruan tinggi syariah masih rendah. (tk/ant)

Editor :

BAGIKAN