Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BI Imbau Perbankan Syariah Perhatikan Substansi Produk

Senin, 6 Februari 2012 | 16:33 WIB
Antara

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengimbau perbankan syariah agar mempertimbangkan substansi syariah saat menghadirkan produk kepada masyarakat.

"Seharusnya dalam meluncurkan produk, perbankan syariah tidak hanya berdasarkan aturan syariah. Namun perlu juga mempertimbangkan apakah produk tersebut betul-betul sesuai dengan substansi yang sesuai dengan ekonomi syariah," kata Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI Mulya Effendi Siregar pada seminar perbankan Syariah di Jakarta Senin.

Contoh produk perbankan syariah yang disoroti oleh BI misalnya adalah gadai emas.

Nasabah tidak pernah memperoleh informasi yang jelas mengenai adanya penambahan dana saat harga emas bergerak naik, padahal kondisi itu membuat pihak ketiga meminta dana tambahan dari nasabah.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka BI berencana untuk mengeluarkan Surat Edaran (SE) mengenai gadai emas. "Surat edaran Bank Indonesia tentang gadai emas akan dikeluarkan pada pekan ini," kata Mulya tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai isi surat edaran tersebut.

Namun, ia menilai bahwa bank syariah memiliki potensi untuk terus berkembang di Indonesia, termasuk saat terjadi krisis ekonomi. "Perbankan syariah memiliki keunikan layanan yaitu berfokus pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), UMKM terbukti bertahan pada krisis 1998 dan 2008 dan bank syariah lebih banyak melayani UMKM, artinya bank syariah juga berpotensi untuk terus tumbuh di Indonesia," tambah Mulya.

Menurut data BI, total aset dari 11 Bank Umum Syariah (BUS) dan 24 Unit Usaha Syariah (UUS) per Desember 2011 adalah sebesar Rp 145,56 triliun, sedangkan aset Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) mencapai Rp 3,34 triliun.

Sedangkan pembiayaan yang diberikan (PYD) dari BUS dan UUS adalah Rp 102,65 triliun per Desember 2011 sedangkan PYD BPRS adalah sebesar Rp 2,55 triliun.

Untuk angka Gross Non Performing Financing (NPF) adalah 2,52 persen per Desember 2011 atau turun dari 3,02 pada periode sebelumnya sedangkan angka Net NPF adalah 1,34 persen dari 2,11 persen pada Desember 2010.

Rasio Kecukupan Modal (CAR) BUS per Desember 2011 adalah 14,6 persen sementara BPRS mencapai 23,5 persen sehingga share industri perbankan syariah dibanding perbankan nasional konvensional adalah 3,82 persen.

Indonesia juga menempati posisi ke-4 dunia setelah Iran, Malaysia dan Arab Saudi pada 2011 menurut BMB Islamic Index dalam Islamic Finance COuntry Index dengan angka indeks 29.

"Ke depannya, tantangan perbankan syariah Indonesia adalah dalam Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, khususnya bank syariah Malaysia," kata Mulya seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan bahwa perbankan syariah di Malaysia dapat kuat karena didukung oleh keinginan politik pemerintah Malaysia. "Di Malaysia, kebijakan perbankan syariah adalah top-down, berbeda dengan Indonesia yang menerapkan kebijakan bottom-up sehingga pertumbuhannya tahap demi tahap dan lambat," ungkap Mulya.

BI memperkirakan market share bank syariah pada 2013 akan mencapai 5 persen dan pada 2015-2020 adalah sebesar 20 persen. (tk)

Editor :

BAGIKAN