Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor Daily

Investor Daily

Jakarta Kuasai 52% Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Senin, 17 Januari 2011 | 14:37 WIB
Antara

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, hingga November lalu lebih dari separuh pangsa pasar perbankan syariah nasional masih terpusat di ibukota. Ini menunjukkan bahwa Jakarta masih menjadi sentral kegiatan perekonomian terutama untuk sektor perbankan syariah.

“Berdasarkan data kami, hingga November 2010, share perbankan syariah di Jakarta mencapai 52% dari total keseluruhan pangsa perbankan syariah di Indonesia,” ujar Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI Mulya Siregar di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengatakan, meski Jakarta masih mendominasi pangsa pasar perbankan syariah, numun pertumbuhannya yang mencapai 44% masih kalah dibandingkan provinsi Bangka Belitung. Hingga November 2010, pertumbuhan perbankan di provinsi hasil pemekaran itu mencapai 142%. “Ini menunjukkan, perbankan syariah mulai menggenjot pengembangan tidak hanya di Pulau Jawa, meski dari segi share memang masih kecil,” kata Mulya.

Berdasarkan peta mutakhir bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) November 2010, ada enam daerah yang pertumbuhan perbankan syariahnya mencapai lebih dari 100%, yakni Sulawesi Barat mencapai 570%, Bangka Belitung 142%, Nusa Tenggara Timur 131%, Kalimantan Tengah 114%, Sulawesi Tengah 107%, dan Bali mencapai 102%.

Dari sisi non performing finance (NPF), menurut Mulya, provinsi Banten merupakan daerah yang memiliki NPF tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 15,9%. Tertinggi kedua ditempati oleh Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara yang sama mencapai 4,62%. “Selain Banten, daerah yang lainnya masih undercontrol di bawah 5%,” tutur dia.

Sebelumnya, Mulya mengatakan, total aset perbankan syariah hingga akhir Desember 2010 mencapai Rp 100 triliun. Angka ini secara pangsa pasar mencapai 3,3% dari keseluruhan aset perbankan nasional.

“Pertumbuhan aset pada Desember 2010 kemarin melonjak signifikan bertambah sekitar Rp 7 triliun dari bulan sebelumnya. Ini menunjukkan kinerja perbankan syariah semakin baik setiap waktu,” ujar Mulya.

Dia mengatakan, komposisi aset hingga akhir 2010 tersebut terdiri atas gabungan aset BUS dan UUS yang mencapai sekitar Rp 97 triliun dan bank pembangunan rakyat syariah (BPRS) sebesar Rp 2-3 triliun.

Pada 2011, Mulya memaparkan terdapat tiga proyeksi pertumbuhan perbankan syariah, yakni optimistis (tumbuh 55% atau sebesar Rp 150 triliun), moderat (tumbuh sebesar 45% atau mencapai Rp 141 triliun), kemudian pesimistis yang hanya tumbuh 35% atau mencapai Rp 131 triliun.

“Bank sentral memproyeksikan perbankan syariah dapat tumbuh paling tidak dalam kategori moderat, pada akhir 2011 diharapkan aset perbankan syariah dapat mencapai Rp 141 triliun,” tutur dia. (c03)

Editor :

BAGIKAN