Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kepemilikan Asing di Sektor Asuransi Harus Dibatasi

Rabu, 9 Januari 2013 | 14:34 WIB
Antara

JAKARTA - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berpendapat kepemilikan asing atau badan hukum asing dalam sektor asuransi nasional harus dibatasi untuk menjaga keseimbangan agar kepentingan nasional tetap terjaga.

"Kami tidak membenci asing, tapi menurut kami perlu adanya keseimbangan agar kepentingan nasional tetap terjaga," kata Ketua AAUI Kornelius Simanjuntak seusai rapat dengar pendapat umum RUU Usaha Perasuransian dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Rabu.

Menurut Kornelius, jika kepemilikan asing dibatasi maksimal 80% dan lokal 20% sebagaimana diatur pada Bab III pasal 7 RUU Asuransi itu cukup bagus.

"Tapi, pada kenyataannya, kepemilikan asing bisa mendekati 100% dan lokal hanya sekian 0,00% karena terjadi delusi. Maka, kepentingan nasional perlu dijaga agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata dia.

Kornelius menyarankan agar menambah kepemilikan perusahaan perasuransian, warga negara asing atau badan hukum asing harus memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pemodal lokal.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bidang Aktuari dan Riset Sumaryoso Maryono. Ia mengatakan dalam praktik di lapangan kepemilikan asing itu bisa lebih besar tidak seperti yang tercantum dalam pasal 7 RUU Asuransi tersebut. "Ini menjadi rancu. Awalnya seperti itu kok realisasinya beda dengan itu," katanya.

Menurut dia, penambahan kepemilikan asing ini dilakukan dengan alasan terjadinya kerugian dan untuk ekspansi, sehingga dibutuhkan injeksi modal dari pemegang saham.

Peningkatan SDM lokal
Sementara itu, Kepala Departemen Hukum dan Perundangan AAJI Adi Purnomo mengungkapkan, yang diperlukan dari pemodal asing ini sebetulnya komitmen untuk mengembangkan industri asuransi nasional dalam jangka panjang, yaitu peningkatan sumber daya manusia lokal.

Karena, faktanya ada beberapa pemilik asing di perusahaan perasuransian itu yang hanya berinvestasi dalam jangka pendek saja, setelah itu keluar. "Karena selama ini ada 7 hingga 8 pemilik modal asing di perusahaan asing itu keluar karena beralasan bisnisnya tidak berkembang dan sulit ekspansi, sehingga diperlukan komitmen dengan cara investasi di bidang sumber daya manusia," kata dia.

Menurut dia, pemodal asing yang mau berinvestasi di perusahaan asuransi harus disyaratkan dua tahun pertama tidak boleh merekrut profesional dari industri asuransi tapi harus membangun sistem SDM-nya dari nol. (ant/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN