Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

OJK Dorong Perbankan Adopsi AI

Jumat, 5 Maret 2021 | 04:43 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri perbankan, khususnya bank-bank kecil untuk memanfaatkan atau mengadopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna meningkatkan skala usahanya. Dengan menerapkan AI, perbankan juga bisa meningkatkan efisiensi.

"Dengan AI ini bisa menekan cost dan dengan begitu, ke depannya tentu AI ini bisa semakin diterapkan industri bank kecil," terang Kepala OJK Institute Agus Sugiarto dalam webinar, Kamis (4/3).

Menurut Agus, penerapan AI akan menghemat anggaran perbankan, di samping itu juga akan memberikan layanan yang maksimal kepada nasabah perbankan. Penerapan AI juga mempermudah bank dalam hal pengambilan keputusan strategis dengan cepat. "Nasabah akan sangat diuntungkan karena bisa mengakses layanan keuangan melalui ponsel," ungkap Agus.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Digital dan Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Indra Utoyo mengungkapkan, AI bukan suatu hal yang baru, teknologi AI terus berkembang dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19 dalam hal transformasi digital. Menurut dia, semua industri mengadopsi digital lebih masif saat pandemi, khususnya perbankan.

AI disebut sebagai fondasi bagi industri, karena bisa memberikan rekomendasi lebih cepat dalam hal mengambil keputusan. Indra juga memaparkan tiga manfaat dari AI, yakni  produk, kemudian proses, dan insight.

Dalam hal produk, AI bisa memberikan pelayanan lebih personal dan relevan, dengan proses otomasi dan simpel. Kedua, terkait proses, AI juga membuat proses internal menjadi otomasi sehingga memudahkan operasional. Ketiga, AI bisa memberikan prediksi atau insight untuk pengambilan keputusan strategis perusahaan.

"Tergantung perannya nanti apakah di produk, marketing, atau operation. Tapi dari survei, 51% eksekutif mengatakan peran AI itu untuk create value," jelas Indra.

Di samping itu, Indra menuturkan, lembaga keuangan merupakan salah satu leading sector yang mengadopsi AI untuk memperkuat bisnisnya. Namun masih sedikit tertinggal dari perusahaan high tech dan telekomunikasi yang lebih dulu menerapkan AI.

Tantangan dan Peluang Perbankan
Selain manfaat penggunaan AI, Indra juga menyebutkan tantangan dan peluang perbankan dalam mengadopsi AI. Pertama, dari sisi data, tantangannya adalah masih minimnya kuantitas dan kualitas data unik milik Indonesia yang bersifat terbuka. Sedangkan peluangnya, pemerintah sudah memulai pelaksanaan program satu data Indonesia melalui Perpres Nomor 39 Tahun 2019 untuk kebutuhan berbagi demi kemajuan riset dan pengembangan inovasi teknologi.

Kedua, sumber daya manusia (SDM). Tantangan yang dihadapi adalah masih minimnya talenta dan edukasi di bidang AI, sedangkan peluangnya adalah kebutuhan akan talenta AI yang terus berkembang menyambut industri 4.0.

Ketiga, etika dan regulasi. Saat ini belum ada instrumen peraturan yang mengatur etika serta kebijakan AI di Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Namun, masih ada peluang, yakni tersedia payung hukum  untuk pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial.

Keempat, riset dan inovasi. Harmonisasi link and match antara akademia, industri, pemerintah, dan komunitas lokal masih belum optimal merupakan salah satu tantangannya. Untuk peluangnya, Indonesia adalah negara dengan ekosistem start-up yang kondusif.

"Data ini pendukung paling penting untuk AI. Dibutuhkan sumber data, analytics, integrasi berbagai sistem sehingga menjadi aplikasi. Ini tantangan di aspek data, masalah data privacy, security ini jadi perhatian kita juga AI mode risk management," terang Indra.

Pihaknya menyebut, saat ini perbankan sudah masuk open banking, di mana layanan perbankan sudah terbuka di industri lain seperti fintech atau e-commerce. "Kita kolaborasi dengan fintech, digital player, ini butuh pengelolaan data yang baik, inovasi juga semakin berkembang. Dengan AI ini semakin terbuka lagi," lanjut Indra.

BRI memanfaatkan AI dalam produk paylater sebagai credit scoring. Sebab, untuk kredit melalui digital nilainya tergolong kecil yakni di bawah Rp 20 juta, sehingga bisa dibantu oleh machine learning dari AI.

Setali tiga uang, Direktur Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Rudy Tandjung menyatakan, adanya AI tentu lebih banyak mendatangkan manfaat bagi perbankan, terlebih bagi bank-bank kecil yang terkendala permodalan.

Di sisi lain, adopsi AI juga meningkatkan efisiensi perbankan. "Nantinya akan ada pekerjaan yang sudah tidak relevan karena sudah ada AI, kalau masalah SDM, mereka harus di re-skilling, harus belajar lagi," tutur Rudy.

Pemerintah juga membentuk Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia dengan 5 bidang prioritas, yaitu layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, serta mobilitas dan kota cerdas. Dalam rencana induk pembangunan industri nasional tahun 2015-2035, disebutkan juga beberapa layanan di sektor unggulan yang perlu diterapkan AI yaitu layanan publik, pertanian dan maritim, energi dan utilitas, rantai pasok, pertahanan dan keamanan, serta keuangan dan ritel.
 
"Kondisi Indonesia kita lihat sentralisasi data sudah cukup baik, kependudukan ada di Dukcapil, perorangan ada di SLIK OJK, ini banyak lagi informasi yang sudah ada, tapi bagaimana data itu di-share kepada para pelaku pasar untuk risk management tanpa mengurangi dan mengimbangi kerahasiaan data nasabah, ke depan blockchain akan sangat membantu," pungkas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN