Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa. Foto ilustrasi: IST

Perdagangan obligasi di bursa. Foto ilustrasi: IST

IIF akan Terbitkan Global Bond US$ 500 Juta

Selasa, 19 Januari 2021 | 13:00 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) berencana menerbitkan surat utang global (global bond) untuk keperluan kerangka kerja pembiayaan yang berkelanjutan (sustainable financing framework). Global bond anyar ini merupakan bagian dari program euro medium-term notes (EMTN) dengan plafon hingga US$ 500 juta.

Hal tersebut terungkap melalui hasil pemeringkatan Fitch Ratings, yang menyematkan peringkat BBB atas usulan global bond IIF. Prospektus yang berisi mengenai tingkat kupon dan detail penerbitan tahap pertama global bond akan diumumkan kemudian.

“Peringkat program EMTN sejalan dengan peringkat jangka panjang IIF, karena surat utang yang akan diterbitkan merupakan kewajiban langsung, tidak tersubordinasi dan tidak dijamin oleh perusahaan,” tulis Fitch, dikutip Investor Daily, Senin (18/1).

Hingga berita ini diturunkan, Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance Reynaldi Hermansjah belum menjawab pesan singkat dan telepon Investor Daily.

Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance Reynaldi Hermansjah
Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance Reynaldi Hermansjah

Sementara itu, Fitch menilai, pengawasan dan dukungan terhadap IIF sangat kuat jika dilihat dari struktur kepemilikan saham. Seperti diketahui, IIF secara tidak langsung dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan disponsori oleh Asian Development Bank (ADB), serta International Finance Corporation (IFC), Grup Bank Dunia. Pengawasan pemerintah Indonesia terhadap IIF dilakukan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), yang menyetujui anggaran tahunan dan rencana jangka panjang IIF.

Mayoritas pendanaan untuk operasi IIF berasal dari pemegang saham melalui modal disetor dan pinjaman, termasuk pinjaman subordinasi ADB dan Bank Dunia yang diberikan kepada pemerintah, didistribusikan kepada SMI untuk kemudian dipinjamkan ke IIF.

“Pinjaman subordinasi ini diberikan pada 2011 dan 2017 dengan total US$ 400 juta atau 272% dari ekuitas IIF saat ini. Kami yakin pinjaman subordinasi ini menunjukkan dukungan pemerintah yang berkelanjutan,” tulis Fitch.

Selain itu, IIF juga memiliki persyaratan modal minimum, sehinggga mewajibkan pemegang saham untuk menambah modal saat turun di bawah saldo. Apabila ada kasus gagal bayar oleh IIF, maka implikasi politiknya juga sangat besar lantaran bisa mempengaruhi kepercayaan lembaga multilateral terhadap proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.

Fitch menilai, jika ada default, dampak sosial terhadap IIF akan terbatas. Hal ini lantaran tujuan IIF adalah membiayai proyek infrastruktur yang layak secara komersial.

Sementara itu, SMI dapat diminta oleh pemerintah untuk membantu proyek infrastruktur yang belum menguntungkan.

Namun, lanjut Fitch, infrastruktur merupakan sektor utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah juga mendorong partisipasi perusahaan swasta pada sektor infrastruktur. Fitch menilai, peran IIF cukup penting bagi pemerintah dalam membantu sektor swasta ikut terlibat proyek infrastruktur.

Fitch mencatat, meskipun ada pandemi Covid-19, IIF membukukan laba bersih Rp 17,5 miliar hingga semester I-2020, atau meningkat 212,5% dibanding periode sama tahun 2019 sebesar Rp 5,6 miliar. Kualitas aset dipertahankan dengan kredit macet bersih di level 0,6%, dari sebelumnya 0,7%.

Total aset IIF turun 2% secara tahunan hingga semester I-2020, tetapi kredit bisa naik 23% yang didukung pencairan pinjaman baru sebesar Rp 1,8 triliun. IIF juga menerima dua komitmen baru senilai Rp 1,1 triliun untuk pembiayaan proyek energi terbarukan pada semester I-2020 IIF tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan dalam jangka menengah, kecuali senilai US$ 200 juta pada 2021.

Fitch meyakini, risiko pembiayaan kembali (refinancing) bisa dimitigasi oleh IIF dengan akses pendanaan di pasar modal, hubungan dengan bank, dan dukungan pemegang saham.

Rekam Jejak

Pada Oktober 2020, IIF berhasil menggelar Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2020 dengan jumlah pokok sebesar Rp 1,5 triliun.

Sejumlah proyek yang didanai IIF
Sejumlah proyek yang didanai IIF

Sebelumnya, Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance Reynaldi Hermansjah mengatakan, dana yang diperoleh dari PUB Obligasi Berkelanjutan I Tahap II akan digunakan perseroan untuk pelunasan atas seluruh jumlah terutang Obligasi Seri A dari PUB Obligasi Berkelanjutan I Tahap I.

“Sementara sisanya akan digunakan perseroan untuk ekspansi kegiatan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur sesuai dengan kegiatan usaha perseroan,” kata dia.

Adapun, IIF tercatat memberikan pinjaman senilai Rp 500 miliar bertenor tujuh tahun kepada PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera, anak usaha PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) pada Desember 2020. Pinjaman dari IIF tersebut akan digunakan untuk mendanai pengembangan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) tahap 2 di Gresik, Jawa Timur.

Pasar Menjanjikan

Dihubungi secara terpisah, Head of Economics Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, global bond IIF berpeluang diburu oleh investor asing lantaran memiliki peringkat yang baik.

Yield yang akan ditawarkan oleh global bond ini pun harusnya lebih menarik disbanding perusahaan-perusahaan sejenis secara global,” kata dia kepada Investor Daily.

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, saat ini di pasar surat utang global memang bisa dikatakan cukup banyak korporasi atau Negara yang melakukan penerbitan global bond seperti yang dilakukan IIF dengan harapan dana yang diperoleh bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

“Dengan melihat kondisi tersebut bisa diartikan bahwa kebutuhan pendanaan cukup tinggi dan di negara-negara lain juga melakukan hal yang sama (seperti IIF), tinggal seberapa kompetitif margin imbal hasil yang ditawarkan, suku bunga, dan juga rating. Kalau lihat rating Indonesia, itu sudah cukup bagus sebagai modal agar surat utang tersebut bisa terserap pasar,” kata dia saat dihubungi Investor Daily, Senin (18/1) malam.

Di sisi lain, IIF merupakan pembiayaan infrastruktur dan proses pengembangan infrastruktur di Indonesia saat ini masih terbuka lebar. Pengembangan infrastruktur untuk mewujudkan konektivitas laut, darat, maupun udara di Indonesia masih sangat dibutuhkan, mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, hingga infrastruktur langit.

Mungkin saat ini belum dibutuhkan, apalagi di situasi pandemic Covid-19, namun ke depan ketika pemulihan ekonomi berhasil maka pembangunan infrastruktur menjadi hal pertama yang menjadi prioritas.

“Pembangunan infrastruktur juga tidak bisa dilakukan mendadak, butuh 2-3 tahun, karena itu jika dilakukan mulai sekarang sangatlah tepat. Kan tidak mungkin setelah bandara full capacity baru memutuskan membangun, yang ada kita kehilangan potensinya,” ungkap Reza.

Dia juga menjelaskan, di tengah situasi seperti saat ini, investasi di surat utang jauh lebih aman bagi para investor yang cenderung konservatif ketimbang harus menanamkan modalnya di ekuitas atau komoditas.

Dalam kondisi seperti saat ini, risiko dari surat utang jauh lebih rendah dari investasi lainnya, lain halnya dengan ekuitas dan komoditas saat ini fluktuasinya sangat terasa.

“Kalau surat utang itu ada margin berjalannya, sehingga risiko lebih aman,” ujar dia. (tl)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN