Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
pefindo

pefindo

Pefindo Raih Mandat Pemeringkatan Obligasi Rp 40,7 Triliun

Kamis, 16 Januari 2020 | 13:57 WIB
Thereis Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) per 15 Januari 2020 telah menerima mandat pemeringkatan penerbitan obligasi dengan nilai total rencana emisi sebesar Rp 40,69 triliun. Penerbitan surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/ MTN) mendominasi dari keseluruhan penerbitan obligasi dalam daftar tersebut. 

Kepala Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Hendro Utomo mengatakan bahwa berdasarkan update mandat yang diterima Pefindo, penerbitan MTN pada 2020 mencapai Rp 10,22 triliun. “Memang mandatnya cukup banyak, ada 19 emiten yang akan terbitkan MTN tahun ini,” katanya di Jakarta, Kamis (16/1). 

Menurut Hendro, maraknya penerbitan MTN tahun ini, kemungkinan disebabkan oleh peraturan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) POJK Nomor 20/POJK.04/2019 yang mengatur tentang penerbitan efek bersifat utang atau sukuk yang dilakukan tanpa penawaran umum (EBUS) atau yang biasa disebut surat utang jangka menegah atau MTN yang akan berlaku pada Juni 2020. “Mungkin OJK baru saja menerbitkan regulasi terkait MTN, yang baru berlaku Juni 2020. Mungkin penerbitannya dipercepat sebelum ada pemberlakuan peraturannya menjadi lebih ketat. Ini pendapat saya pribadi,” ujarnya. 

Penerbitan obligasi yang pemeringkatannya dilakukan Pefindo terdiri atas Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) baru dengan rencana emisi senilai Rp 7,75 triliun, Rencana Realisasi PUB sebesar Rp 9,69 triliun. Kemudian obligasi memiliki nilai rencana emisi sebesar Rp 6,35 triliun, Sekuritisasi senilai Rp 3,97 triliun, Sukuk mencapai Rp 1,7 triliun, dan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp 1 triliun. 

Sementara itu berdasarkan sektornya, sektor perbankan adalah yang tertinggi dengan nilai Rp 6,97 triliun dari empat perusahaan. Sedangkan di posisi kedua, sektor jalan tol dengan nilai rencana emisi sebesar Rp 4,85 triliun dengan jumlah perusahaan sebanyak empat. Kemudian sektor multifinance, di posisi nomor tiga, memiliki nilai rencana emisi sebesar Rp 3,8 triliun dari lima perusahaan. Keempat, sektor pulp and paper dengan nilai rencana emisi sebanyak Rp 3,6 triliun. Kelima, sektor perkebunan dengan nilai rencana emisi sebesar Rp 2,6 triliun, sedangkan sisanya berasal dari sektor lain dengan total 45 perusahaan.

Sementara itu, Divisi Riset dan Ekonom Pefindo Fikri C. Permana menyatakan, tahun 2020 obligasi korporasi dan Surat Utang Negara (SUN) masih akan positif. Dia menjelaskan, kondisi makroekonomi Indonesia yang masih stabil dan inflasi yang terjaga akan semakin menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.  

“Kalau saya lihat kenapa asing masuk ke kita karena memang kondisi makro sangat baik. Real yield baik, inflasi juga terjaga sehingga pertumbuhan ekonomi kita dianggap lebih baik. Ditambah sovereign rating Indonesia sudah investment rate dan rupiah juga masih stabil. Makanya saya lihat surat utang kita secara agregat sangat positif,” jelasnya.

Melihat potensi tersebut, Fikri mengatakan bahwa kemungkinan investor asing akan lebih memilih untuk menaruhkan investasinya pada SUN karena memiliki risiko yang rendah. “Yang akan jadi pilihan mereka adalah yang risk free yaitu SUN. SUN masih dianggap likuiditasnya lebih baik dari instrumen lain seperti surat utang korporasi,” kata dia.

Kendati demikian, Fikri menyatakan bahwa tak menutup kemungkinan asing juga bisa masuk ke instrumen lain seperti obligasi korporasi. “Saya lihat masih mungkin, karena risiko obligasi korporasi kita masih rendah. Default rate kita paling hanya sekitar 0,7 persen. Tapi mungkin literasi terhadap surat utang korporasi rendah,” ujarnya.

Fikri memproyeksikan, pada tahun ini kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 akan berada di kisaran 5,1% dengan tingkat inflasi pada level 3,2%. Sedangkan, suku bunga acuan Bank Indonesia diprediksi berada pada level 4,5%, dan nilai tukar rupiah per dolar AS berapa pada level Rp 14.300. Selain itu, imbah hasil (yield) SUN 10 tahun akan berada pada kisaran 6,5% dan jumlah penerbitan obligasi akan mencapai Rp 158,5 triliun.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN