Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak-anak menikmati es loli yang dijual oleh para pedagang di sepanjang jalan di Amritsar, India pada 2 Juli 2021. ( Foto: NARIDER NANU / AFP )

Anak-anak menikmati es loli yang dijual oleh para pedagang di sepanjang jalan di Amritsar, India pada 2 Juli 2021. ( Foto: NARIDER NANU / AFP )

PBB: 2020 Jadi Tahun Terpanas yang Dialami Asia

Rabu, 27 Oktober 2021 | 10:21 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa Asia mengalami tahun terpanas dalam catatan 2020, bahkan cuaca ekstrem ini telah menimbulkan banyak korban dalam perkembangannya di benua tersebut. Demikian pernyataan yang disampaikan menjelang pertemuan puncak konferensi perubahan iklim “UN Climate Change Conference of the Parties (COP26)”.

Dalam laporan tahunan “Keadaan Iklim di Asia” atau State of the Climate in Asia, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO)PBB mengatakan bahwa setiap bagian wilayah telah terpengaruh.

“Dampak cuaca dan perubahan iklim yang ekstrem di seluruh Asia pada 2020, menyebabkan hilangnya nyawa ribuan orang, jutaan orang terlantar dan menghabiskan anggaran ratusan miliar dolar. Selain itu mendatangkan banyak korban pada infrastruktur dan ekosistem. Pembangunan berkelanjutan terancam, dengan kerawanan pangan dan air, risiko kesehatan dan degradasi lingkungan meningkat,” ujar WMO, yang dikutip AFP.

Laporan itu dirilis beberapa hari sebelum kegiatan COP26 di Glasgow, Skotlandia yang dimulai 31 Oktober hingga 12 November. Laporan ini juga mengungkapkan total kerugian rata-rata tahunan akibat bahaya terkait iklim. Semisal di Tiongkok yang menderita kerugian sekitar US$ 238 miliar, kemudian diikuti oleh India sebesar US$ 87 miliar, Jepang dengan US$ 83 miliar dan Korea Selatan pada US$ 24 miliar.

Tetapi ketika ukuran ekonomi dipertimbangkan maka kerugian tahunan rata-rata diperkirakan mencapai 7,9% persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk Tajikistan; 5,9% untuk Kamboja, dan 5,8% untuk Laos.

Perpindahan Berkepanjangan

Di sisi lain, peningkatan panas dan kelembaban diprediksi menyebabkan hilangnya jam kerja di luar ruangan secara efektif di seluruh benua, dengan potensi biaya miliaran dolar.

“Cuaca dan bahaya iklim, terutama banjir, badai, dan kekeringan, memiliki dampak signifikan di banyak negara di kawasan ini. Jika digabungkan, dampak-dampak ini berdampak signifikan pada pembangunan berkelanjutan jangka panjang,” tutur Kepala WMO Petteri Taalas.

Laporan juga menyebutkan, banyak terjadi perpindahan terkait cuaca dan iklim di Asia yang berkepanjangan, di mana masyarakat tidak dapat kembali ke rumah atau berintegrasi secara lokal.

Menurut laporan 2020, bencana banjir dan badai memengaruhi sekitar 50 juta orang di Asia sekaligus mengakibatkan lebih dari 5.000 kematian. Jumlah ini di bawah rata-rata tahunan dalam dua dekade terakhir (158 juta orang terkena dampak dan sekitar 15.500 kematian), dan merupakan kesaksian atas keberhasilan sistem peringatan dini di banyak negara di Asia – yang mencakup sekitar tujuh dari 10 orang.

Tahun terpanas Asia dalam catatan memperlihatkan rerata suhu 1,39 derajat Celcius di atas rata-rata 1981–2010. Suhu 38,0 C yang tercatat di Verkhoyansk, Rusia untuk sementara adalah suhu tertinggi yang diketahui di utara Lingkaran Arktik.

Gletser Mencair

Pada 2020, suhu permukaan laut rata-rata mencapai rekor tertinggi di Samudra Hindia, Pasifik, dan Arktik. Suhu permukaan laut dan pemanasan laut di dan sekitar Asia pun menunjukkan peningkatan lebih dari rata-rata global. Suhunya bahkan telah memanas lebih dari tiga kali lipat rata-rata di laut Arab, dan sebagian Samudra Arktik.

Luas minimum es laut Arktik (setelah pencairan musim panas) pada 2020 tercatat menyusut sebagai yang terendah kedua dalam catatan satelit sejak 1979. Di samping itu, ada sekitar 100.000 kilometer persegi gletser di Dataran Tinggi Tibet dan di Himalaya – yang diklaim sebagai volume es terbesar di luar wilayah kutub dan sumber dari 10 sungai besar Asia.

“Pencairan gletser semakin cepat dan diproyeksikan bahwa massa gletser akan berkurang 20% hingga 40% pada 2050, mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian sekitar 750 juta orang di wilayah tersebut. Kondisi ini memiliki konsekuensi besar pada permukaan laut global, siklus air regional dan bahaya lokal seperti tanah longsor dan longsoran,” demikian isi laporan

Laporan jga menyatakan, seperempat dari hutan bakau Asia berada di Bangladesh. Namun, hutan bakau di negara yang terkena badai tropis itu menurun 19% dari 1992 hingga 2019. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN