Menu
Sign in
@ Contact
Search
Deputi Dubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas tengah menyerahkan bantuan kepada kelompok-kelompok masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (6/7)

Deputi Dubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas tengah menyerahkan bantuan kepada kelompok-kelompok masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (6/7)

ULN Jadi Sumber Pembiayaan Ekonomi Nomor Dua

Kamis, 25 Juli 2019 | 22:11 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan, porsi utang luar negeri (ULN) dalam postur pembiayaan perekonomian Indonesia menempati urutan kedua setelah kredit bank umum. Dengan demikian, saat ini Indonesia masih membutuhkan utang luar negeri untuk menjaga perekonomian.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara yang mulai hari ini resmi digantikan oleh Destry Damayanti mengatakan, Indonesia masih tergantung pada pasokan dana asing dari ULN, tetapi harus dikelola secara hati-hati.

Dia menyebut, jika berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2019, pembiayaan perekonomian Indonesia dari ULN telah tumbuh sekitar Rp 2.133 triliun per Juni dari total Rp 9.093 triliun.

Di sisi lain, sumber pembiayaan melalui ULN tercatat meningkat 10,5% dibandingkan Juni 2018 sebesar Rp 1.930 triliun. Namun secara pertumbuhan mengalami perlambatan dari 14,5% menjadi 10,5% secara tahunan.

“Sumber pembiayaan perekonomian nomor satu didominasi melalui kredit bank umum. Tercatat per Juni 2019, sumber pembiayaan perekonomian dari bank kredit umum sebesar Rp 5.228 triliun dari total Rp 9.093 triliun pembiayaan perekonomian Indonesia secara keseluruhan” jelas dia di Gedung Bank Indonesia, Selasa (23/7).

Selain dua sumber tersebut, pembiayaan perekonomian juga bersumber dari pasar modal, industri keuangan non-bank, kredit bank perkreditan rakyat (BPR), dan finansial teknologi.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pasar modal menyumbang Rp 922 triliun diikuti oleh industri keuangan non-bank sebesar Rp 698 triliun, kredit BPR Rp 105 triliun, dan perusahaan teknologi finansial (tekfin) Rp 8,3 triliun.

Mirza mengatakan, tekfin menjadi sumber pembiayaan perekonomian sebab pinjaman dalam jangka pendek periode satu bulan, tiga bulan, sehingga ada indikasi jatuh tempo, pertumbuhannya tercatat pesat mencapai 274% yoy pada Juni 2019, meskipun suku bunga tekfin tinggi, namun masih diminati. Bahkan tercepat ketimbang kredit bank umum yang hanya 10,05%. Hal ini mengindikasikan masih banyak masyarakat yang belum tersentuh oleh industri perbankan unbankable. (try)

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com