Menu
Sign in
@ Contact
Search
Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Indonesia Siap Tampung Relokasi Pabrik dari Tiongkok

Kamis, 11 Juni 2020 | 11:22 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com) ,Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah Indonesia menyiapkan kawasan industri di Batang, Jawa Tengah untuk menampung pabrik milik perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang akan direlokasi dari Tiongkok. Daerah Batang dipilih karena ketersediaan lahan dan infrastruktur pendukung lainnya sehingga bisa cepat menangkap peluang relokasi investasi global ke Tanah Air.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, pemerintah berencana memindahkan pengembangan kawasan industri (KI) di Brebes ke Batang dikarenakan masalah pembebasan lahan yang belum selesai. Kedua daerah tersebut merupakan kabupaten yang sama-sama berada di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah.

“Proyek pembangunan kawasan industri di Brebes kemungkinan akan dipindahkan ke Batang. Pengembangan industri di Brebes masih membutuhkan pembebasan lahan, dan jika harus membangun dari nol, maka membutuhkan proses dan waktu yang lama,” ujar Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Selasa (9/6/2020).

Erick Thohir. Foto: IST
Erick Thohir. Foto: IST

Menurut Erick, langkah tersebut harus dilakukan karena pemerintah harus cepat bergerak mengembangkan kawasan industri untuk menggaet relokasi investor global ke Indonesia.

“Tidak mungkin bebaskan lahan dulu, bangun infrastruktur dulu, baru dua tahun jadi, itu sudah telat. Ini makanya kita harus lebih agresif,” tuturnya.

Dia menambahkan, investor yang berasal dari Jepang dan AS merupakan investor potensial yang berniat merelokasi sebagian pabriknya yang berada di Tiongkok. Mereka akan merealisasikan investasinya di Indonesia enam bulan lagi dan sudah bersiap untuk membangun industri di kawasan tersebut.

Jumlah kawasan industri dalam konstruksi, jumlah KI sudah operasional, investasi sektor industri, dan pertumbuhan industri.
Jumlah kawasan industri dalam konstruksi, jumlah KI sudah operasional, investasi sektor industri, dan pertumbuhan industri.

Rencananya, pengembangan kawasan industri di Batang akan menggunakan lahan milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN dengan luas 4.000 hektare (ha) dan sudah ada 300 meter jaringan rel kereta api dan pelabuhan peninggalan Belanda yang akan dikonversi menjadi lahan industri.

“Semua akan dikonversikan jadi lahan industri, untuk mengantisipasi percepatan pemindahan partner dari Jepang dan Amerika Serikat,” kata Erick.

Ia menjelaskan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan direktur utama PTPN sudah meninjau langsung ke lokasi untuk melihat upaya ini sebagai sebuah langkah percepatan agar investasi asing dapat ditarik masuk ke dalam negeri.

Realisasi PMA.
Realisasi PMA.

Akan tetapi, ia memastikan, untuk proyek strategis besar di BUMN yang bekerja sama dengan asing tetap harus juga mendorong peran serta pengusaha lokal.

“Seperti proyek strategis besar di BUMN kita minta partner asing yang bermitra dengan kita. Kita minta yang di bawah harus jadi domain pengusaha lokal. Bagaimana BUMN bisa menarik investasi dari luar negeri,” tuturnya

Dikutip dari laman BKPM, Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan kerja ke sejumlah kawasan di Jawa Tengah pada 6-7 Juni lalu. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan iklim investasi dalam situasi kenormalan baru atau new normal.

“Kita ingin pastikan bahwa di era new normal ini, kegiatan investasi kembali berjalan normal seperti sedia kala,” ujar Bahlil.

Bahlil Lahadalia. Foto: IST
Bahlil Lahadalia. Foto: IST

Bahlil mengunjungi sejumlah kawasan yaitu Kawasan Industri Brebes, areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara IX Batang, serta Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang.

Dalam kunjungannya, Kepala BKPM juga melakukan koordinasi dengan Bupati Batang Wihaji untuk pengembangan industri dan investasi di wilayah tersebut. PLTU Batang menelan investasi sebesar Rp 60 triliun.

Nantinya pembangkit ini akan membantu PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menambah suplai listrik Jawa-Bali sebesar 5,7%. “Selain itu, kita harapkan akan memasok listrik untuk kebutuhan industri di beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Kendal, dan Semarang. Apalagi, kita lihat kawasan ini semakin tumbuh dengan pesat, kebutuhan listriknya juga otomatis bertambah,” ujar Bahlil.

Peringkat daya saing Asean, Produktivitas negara-negara di Asean, Skor kemudahan berbisnis di Asean.
Peringkat daya saing Asean, Produktivitas negara-negara di Asean, Skor kemudahan berbisnis di Asean.

Saat ini Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi favorit investasi dalam negeri maupun asing. Bahlil mengatakan, iklim investasi di Jawa Tengah sangat kondusif dan menjadi daya saing tersendiri bagi wilayah ini.

“Suasananya yang tenang, tidak ributribut, infrastruktur tersedia dengan baik, dan keramahan masyarakat yang membuat daya saing investasi Jawa Tengah kian membaik,” ujar Bahlil.

Jawa Tengah berada pada peringkat empat realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) periode triwulan I-2020 dengan nilai Rp 19,3 triliun (9,1%) dari total realisasi investasi. Investasi PMDN jauh mendominasi senilai Rp 14,6 triliun, sementara investasi PMA sebesar US$ 321 juta (Rp 4,7 triliun). (c02/ac/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com