Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pasar Tradisional juga mercepat proses transfformasi digital

Pasar Tradisional juga mercepat proses transfformasi digital

Pasar Tradisional Tak Luput Percepatan Digitalisasi di Masa Pandemi

Rabu, 30 September 2020 | 13:30 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 telah mempercepat proses digitalisasi di berbagai bidang. Tak terkecuali pasar tradisional. Hal ini membuat pasar yang merupakan urat nadi perekonomian Indonesia dapat terus memutarkan roda perekonomian di tengah pandemi.

Ekonom Senior Indef Dr Aviliani SE mengatakan pandemi Covid-19 mempercepat transformasi di seluruh bidang, begitu pula dengan pasar. Pasar akan mengalami distorsi yang besar, kebiasaan digitalisasi tidak akan berubah setelah pandemi berlalu. Hal ini dikarenakan masyarakat lebih cerdas, mendahulukan keamanan dan kenyamanan.

Ekonom Senior Indef Dr Aviliani SE
Ekonom Senior Indef Dr Aviliani SE

“Keberadaan pasar tetap ada, kegiatan transaksi dilaksanakan secara digital dan pasar itu sendiri diarahkan untuk tujuan wisata. Karenanya pasar harus berbenah menjadi tempat yang aman dan nyaman. Ini salah satu upaya agar pelaku pasar seperti kuli panggul tidak kehilangan pekerjaan,” ungkap Avi dalam keterangan pers diterima Rabu (30/9).

Ketua Umum Gerakan Pakai Masker (GPM) Sigit Pramono mengatakan menurut ahli, pandemi Covid-19 telah mendorong berkembangnya empat mega shift dalam perilaku konsumen, yaitu munculnya solidaritas sosial, digitalisasi (go virtual), kecenderungan bekerja dari rumah dan masyarakat yang akan fokus untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Perubahan perilaku konsumen yang bekerja dari rumah dan berkembangnya sistem digital itu nantinya akan memunculkan sistem perekonomian baru, yaitu low touch economy. Dimana interaksi langsung/kontak fisik akan berkurang. Dengan demikian akan timbul kebiasaan baru yaitu cashless society, dimana masyarakat mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi.

“Pelaku usaha harus siap dengan keadaan ini. Semua bisnis harus menuju kearah digital, baik pelaku pasar rakyat, perbankan maupun bisnis lain,” ujar Sigit.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Y Joko Setiyanto menjelaskaan jauh sebelum adanya pandemi ini, pihaknya sudah mencanangkan digitalisasi pasar rakyat. Kongres yang dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo tersebut dilaksanakan pada 12 Desember 2018.

Saat itu para pelaku pasar telah menyadari pentingnya proses digitalisasi untuk kegiatan di pasar dan saat ini merupakan keharusan melaksanakannya. “Salah satu buktinya adalah telah disiapkan satu platform digital untuk pasar yang dikenal dengan Pazza,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia Sis Apik menyebutkan tahap awal yang harus disiapkan adalah sistem pembayarannya. Saat ini beberapa pasar telah menggunakan sistem pembayaran secara elektronik, yaitu menggunakan layanan fintech dan kartu elektronik. BNI merupakan salah satu pelopor penyedia kartu elektronik Tapcash.

Setelah sistem pembayarannya siap, pelaku pasar harus membangun digital ekosistem, seperti yang sekarang ini sudah ada aplikasinya seperti sayurbox. Kedepan, semua pelaku pasar harus dibangun kearah itu.

“Selain mengurangi sentuhan fisik dan jaga jarak, menggunakan aplikasi ini lebih aman dan efisien, lebih mudah dikontrol serta meminimalkan tindakan kriminal,” tutup Apik.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN