Menu
Sign in
@ Contact
Search
Karyawan bank menghitung uang dolar AS di Bank Mandiri, KCP Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan bank menghitung uang dolar AS di Bank Mandiri, KCP Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Utang Pemerintah Aman

Selasa, 27 Oktober 2020 | 08:20 WIB
Triyan Pangastuti dan Abdul Muslim (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Meski meningkat, utang pemerintah dinilai masih dalam batas aman karena sebagian besar utang adalah hasil penjualan surat berharga negara (SBN) dengan mayoritas pembeli dari dalam negeri. Peningkatan utang setahun terakhir disebabkan oleh membengkaknya kebutuhan dana APBN untuk menangani Covid-19 dan stimulus ekonomi.

Demikian rangkuman keterangan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin, serta Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Mereka memberikan keterangan secara terpisah. Sri Mulyani mengatakan, terjadinya pandemi Covid-19 membuat utang pemerintah RI bertambah, dan hal ini juga dialami negara-negara lain.

Pasalnya, belanja pemerintah meningkat untuk mengatasi wabah dan memulihkan kembali perekonomian yang terkontraksi, sementara penerimaan negaraturun.

Sri Mulyani. Foto: IST
Sri Mulyani. Foto: IST

Menkeu mengatakan, rasio utang Indonesia terhadap produk domestic bruto (PDB) mencapai 38,5% pada 2020 dan diperkirakan menembus 41,8% dari PDB pada 2021. Jumlahnya meningkat diban ding 2019 yang masih 30,5% terhadap PDB.

Kendati begitu, ia memastikan bahwa pemerintah akan tetap mengelola utang secara prudent.

“Jika (ada yang) bilang mayoritas utang kita berasal dari luar negeri, itu tidak benar. Mayoritas utang kita sekarang ada di dalam negeri, asing memegang porsi 30%, bahkan sekarang turun,” ujar Sri Mulyani saat menjadi juri pada lomba Debat Hebat APBN 2020 yang disiarkan virtual pada Senin (26/10/2020).

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEBUI) Jurusan Ilmu Ekonomi atau Tim A (Fiscus UI) berhasil meraih juara pertama dalam lomba Debat Hebat APBN 2020 dengan skor 85,3. Tim ini mendapatkan dana pembinaan Rp 15 juta.

Sri Mulyani mengatakan, tren utang asing berangsur-angsur terus menurun dan saat ini di bawah 30% dari utang pemerintah Indonesia.

Posisi utang Pemerintah, dominasi utang, dan rincian pinjaman luar negeri
Posisi utang Pemerintah, dominasi utang, dan rincian pinjaman luar negeri

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, posisi utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 5.756,87 triliun per September 2020, dengan rasio utang terhadap PDB (debt to GDP ratio) mencapai 36,4% dari PDB. Utang ini naik sekitar 22,5% dibanding posisi per September 2019 Rp 4.700,28 triliun.

Utang per September 2020 tersebut, rinciannya sekitar 85% berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 4.892,57 triliun. Dari SBN itu, mayoritas sebanyak 74,17% berasal dari surat utang dengan denominasi rupiah Rp 3.629,04 triliun dan SBN denominasi valuta asing (valas) senilai Rp 1.263,54 triliun.

Untuk kepemilikan asing di SBN hingga 23 Oktober 2020 mencapai Rp 953,74 triliun, atau 26,64% terhadap keseluruhan utang pemerintah tersebut. Angka ini sangat menurun dibandingkan kepemilikan asing di SBN pada 20 Januari 2020 yang mencapai Rp 1.077,06 triliun atau menembus 38,65%.

Perkiraan rasio utang terhadap PDB berbagai negara
Perkiraan rasio utang terhadap PDB berbagai negara

Utang SBN ini dipegang oleh banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga Indonesia tidak didikte kreditor. Hal ini berbeda dengan kondisi saat krismon 1998, di mana utang Indonesia mayoritas hanya ke beberapa lembaga seperti IMF, sehingga bisa didikte dengan Presiden Soeharto saat itu harus menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) total Indonesia pada akhir Agustus 2020 sebesar US$ 413,4 miliar, atau setara dengan Rp 6.076,9 triliun (kurs Rp 14.700 per dolar AS). Utang luar negeri ini meningkat 5,7% secara tahunan. (ns/ant/sumber lain/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com