Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST.

Utang Pemerintah 36.4% PDB Masih Cukup Aman

Selasa, 27 Oktober 2020 | 08:51 WIB
Triyan Pangastuti dan Abdul Muslim (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, posisi total utang luar negeri dan domestik pemerintah Indonesia senilai Rp 5.756,87 triliun, atau rasio utang terhadap PDB saat ini telah mencapai 36,4% dan diperkirakan 38,5% pada akhir 2020, masih cukup aman.

Menurut dia, toleransi pemerintah boleh berutang dengan rasio hingga 60% terhadap PDB pada APBN 2020 juga dibuat pada tahun 2019, ketika pandemi Covid-19 belum melanda dunia, termasuk Indonesia.

“Kalau dari sisi aman, atau nggak, utang pemerintah Indonesia yang telah mencapai 36,4-38% terhadap PDB, ya kondisinya masih aman. Karena UU APBN 2020 kan juga menyatakan rasio utang terhadap PDB boleh mencapai 60%,” ujar Josua kepada Investor Daily, kemarin malam.

Perkiraan rasio utang terhadap PDB berbagai negara
Perkiraan rasio utang terhadap PDB berbagai negara

Artinya, lanjut dia, asumsi tersebut dibuat ketika kondisi ekonomi Indonesia masih diproyeksikan tumbuh minimal 5% tahun 2020. Karena itu, ketika terjadi resesi pada 2020 dengan indikator ekonomi berkontraksi, atau tumbuh negatif pada kuartal II dan III, rasio utang tehadap PDB diperkirakan Josua masih berpeluang mencapai 40% tahun ini. Dan jika hal ini terjadi masih wajar, karena sedang resesi.

Ia menegaskan, rasio utang bisa saja naik hingga 40% PDB tahun ini, jika serapan anggaran berjalan cepat dan Indonesia membutuhkan dana segar dan stimulus untuk menopang dan ‘memompa’ perekonomian ketika pendapatan pajak sedang melambat dan cenderung turun.

Posisi utang Pemerintah, dominasi utang, dan rincian pinjaman luar negeri
Posisi utang Pemerintah, dominasi utang, dan rincian pinjaman luar negeri

“Jadi, kita sebenarnya nggak perlu heboh dengan rasio utang terhadap PDB yang telah mencapai 36,4%. Bahkan, itu masih dimungkinkan naik hingga 40% dan defisit APBN bisa 6%, karena pengeluaran kita besar untuk stimulus ekonomi ketika pendapatan pajak melambat akibat dampak Covid-19,” tuturnya.

Pada kuartal II-2020, ekonomi telah terkontraksi 5,32% akibat pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pada kuartal III tahun ini, kontraksi diperkirakan masih terjadi, meski kondisinya membaik. (ns/ant/sumber lain/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com