Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Rendahnya Inflasi 2020 Sinyal Lemahnya Daya Beli

Senin, 4 Januari 2021 | 22:21 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan rendahnya angka inflasi menunjukkan perekonomian sedang terpukul. Kondisi pandemi Covid-19 berimplikasi pada penurunan daya beli.

“Permasalahannya bukan  karena masalah kelangkaan atau distribusi tetapi tidak adanya daya beli dan permintaan barang dan jasa,” ucap Tauhid saat dihubungi pada Senin (4/1).

Berdasarakan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi sepanjang tahun 2020 mencapai 1,68%. Bila dibandingkan sampai dengan 2014, inflasi pada tahun 2020 ini berada dalam angka rendah. Pada tahun 2014 inflasi sebesar 8,3%, kemudian menurun menjadi 3,35% pada 2015. Tahun 2016 sebesar 3,02%, dan 2017 sebesar 3,61%.Tahun 2018 tingkat inflasi mencapai 3,13% dan 2019 inflasi tercatat sebesar 2,72%.

Tauhid mengatakan inflasi rendah akan berdampak kurang baik untuk perekonomian. Sebab inflasi terjadi saat perekonomian sedang berjalan tidak optimal. Tidak adanya kenaikan harga barang dan jasa tentu menyebabkan menurunnya keuntungan bagi pelaku usaha termasuk UMKM.   .

“Inflasi terlalu rendah menunjukkan kemampuan membeli masyarakat kecil sekali.  Supply melimpah sehingga pelaku usaha banyak overstock di samping keuntungannya terus menurun,” ucapnya.

Menurutnya pemerintah harus menggenjot pemberian bantuan sosial (bansos) agar ada peningkatan konsumsi  barang dan jasa oleh masyarakat. Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) diharapkan akan lebih dioptimalkan sehingga ada peningkatan permintaan barang dan jasa selain sembako.

“Kalau ada permintaan otomatis  akan ada supply inflasinya akan bergerak naik,” ucap Tauhid.

Indef memperkirakan inflasi tahun 2021 akan berada di kisaran plus minus 2,5%. Sebab proses pemulihan ekonomi nasional belum berjalan baik. Pemulihan ekonomi akan bergantung pada penanganan di bidang kesehatan.

Tauhid menuturkan upaya pengadaan dan penyaluran vaksin  dinilai masih berjalan lambat. Hal ini akan mempengaruhi rasa kepercayaan masyarakat untuk melakukan belanja.

“Tetapi kalau kondisinya sudah mulai normal paling tidak separuh tahun di 2021 maka saya melihat inflasi akan bergerak lebih tinggi di 2021 ini,” ucap Tauhid.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN