Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Inflasi. IST

Ilustrasi Inflasi. IST

Rendahnya Inflasi Inti akan Pengaruhi Proses PEN

Selasa, 2 Februari 2021 | 05:14 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kondisi inflasi inti yang hanya mencapai 0,14% pada Januari 2021 dinilai menunjukkan bahwa potensi pemulihan ekonomi nasional (PEN) khususnya di kuartal I masih relatif rendah. Apalagi bila tren inflasi inti yang rendah masih terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

“Hal ini selaras dengan upaya pemerintah misalnya dalam proses penanggulangan kesehatan artinya inflasi inti ini juga akan dipengaruhi dari sana. Ketika penanganan kesehatan lebih cepat dan lebih bagus saya kira ini akan meningkatkan inflasi inti,” ucap Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi Senin (1/2/2021).

Advertisement

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti pada Januari 2021 sebesar 0,14%, angka ini lebih tinggi dari posisi Desember 2020 yang sebesar 0,05%. Tetapi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelum terjadi penurunan sebab pada Januari 2020 inflasi inti mencapai 0,19%.  Secara year on year (yoy) inflasi inti juga mengalami pelemahan menjadi 1,56%. sementara pada bulan Desember tahun 2020 yang lalu inflasi intinya sebesar 1,60%. Sedangkan pada Januari 2021 inflasi inti secara yoy sebesar 2,88%.

“Inflasi inti 1,56% yang melambat dibandingkan Desember 2020, terendah sejak dihitung pertama kalinya pada tahun 2004,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual di kantornya, Senin (1/2/2021).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto

Ia mengatakan  perlambatan inflasi inti tahunan menandakan permintaan domestik masih lemah dan ini akan berdampak pada konsumsi rumah tangga. Hal ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang masih membayangi perekonomian di banyak negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama pemerintah dan masyarakat untuk disiplin menjalankan  protokol kesehatan.

“Dengan adanya vaksinasi dan kepatuhan kita semua terhadap protokol ksehatan mudah mudahan pemulihan ekonomi berlangsung cepat. Tetapi tanpa peran serta masyarakat dalam mematuh protokol kesehatan ini akan sulit dilakukan,” ucap Suhariyanto.

Yusuf Rendy berpendapat bila permasalahan di sektor kesehatan belum diselesaikan maka perekonomian juga belum bisa tumbuh optimal. Saat permasalahan kesehatan sudah selesai maka keyakinan masyarakat kelas menengah dan atas akan tumbuh dan kegiatan belanja akan berjalan.

“Untuk kelompok menengah ke atas balik lagi  ke kesehatan saat permasalahan kesehatan sudah selesai optimisme mereka akan tumbuh dan mereka akan spending dengan sendirinya,” ucapnya.

Yusuf Rendy Manilet
Yusuf Rendy Manilet

Sedangkan untuk masyarakat menengah ke bawah pemerintah harus menyalurkan program bantuan sosial secara cepat dan tepat sasaran. Pemerintah sudah menganggarkan untuk perlindungan sosial sebesar Rp 150,96 triliun dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Pemerintah harus memperhatikan ketepatan data dalam penyaluran bansos sebab salah satu evaluasi dari tahun program PEN tahun 2020 terkait perlindungansosial adalah masalah data.

“Apalagi saat ini pemreintah mengubah pola bantuan, bantuan sembako di beberapa daerah diganti menjadi bantuan tunai, apakah bantuan tunai sudah tersampaikan dengan baik kepada orang tepat ini yang harus terus dievaluasi,” ucapnya.

Sementara itu, Ekonom Ryan Kiryanto mengatakan dengan posisi inflasi inflasi I nti 0,14% serta inflasi tahunan 1,55% yoy mengindikasikan aktivitas konsumsi di masyarakat menurun dibanding Desember 2020. Hal ini bisa dimaklumi sebab ada kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sebagian Jawa dan Bali  selama Januari 2021.  Padahal dua wilayah ini lazimnya merupakan motor kegiatan ekonomi dan konsumsi.

“Dengan PPKM otomatis permintaan barang dan jasa di dua wilayah besar ini tertekan yang berakibat pada rendahnya inflasi bulanan maupun tahunan per posisi Januari 2021,” ucap Ryan saat dihubungi Senin (1/2/2021).

Pengamat Ekonomi dan Perbankan
Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Ia mengatakan dengan adanya PPKM sebagian masyarakat juga masih banyak yang tinggal dan bekerja dari rumah sehingga berdampak pada menurunnya permintaan barang konsumsi, kecuali untuk kebutuhan pokok saja seperti sembako.

Menurut Ryan Indonesia masih beruntung  sebab masih terjadi inflasi berarti masih ada kegiatan ekonomi dan konsumsi dan tidak terjadi deflasi. Pemerintah harus menyeimbangkan sisi permintaan dengan sisi penawaran supaya arah ekspektasi inflasi ke depan terkendali pada angka yang ditargetkan 3% +/- 1%.

“Jadi rendahnya inflasi tetap patut disyukuri, yang penting bukan deflasi. Intinya, inflasi terjadi karena demand side masih belum kuat, sementara dari supply side tidak ada masalah,” ucap Ryan.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN