Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Josua Pardede.Sumber: BSTV

Ekonom Josua Pardede.Sumber: BSTV

Defisit CAD Mulai Melebar, Indikasi Akselerasi Pemulihan Ekonomi Berjalan

Sabtu, 22 Mei 2021 | 04:51 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor,id - Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal I tercatat US$ 1,0 miliar atau 0,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) setelah pada kuartal sebelumnya mencatat surplus sebesar US$ 0,9 miliar atau setara 0,3% terhadap PDB.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, CAD yang kembali melebar menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi mulai teakselerasi dan berjalan solid.

Sejalan dengan komponen neraca perdagangan barang  yang tercatat surplusnya mulai menurun di kuartal I hanya US$ 7,9 miliar, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat US$ 10 miliar.

“Indikasikan bahwa aktivitas ekonomi domestik mulai menggeliat dan dorong permintaan impor,” tuturnya saat dihubungi Jumat (21/5/2021).

Selain itu, geliat di sektor industri juga mulai tercermin dari  peningkatan impor dan ekspor.  Pertumbuhan impor yang lebih cepat didorong defisit atau neraca dagang barang yang alami penurunan surplusnya.

Kemudian terkait defisit primary income dilihat  sebagai pendorong sisi lain, transaksi finasnsial surplusnya tetap positif . neraca pembayaran Indonesia (NPI)-nya alami surplus juga.

“Memang kalau dilihat kedepan dengan kuartal I CAD sudah defisit arahnya potensi kedepan seiring ekonomi domestik meningkat kebutuhan barang barang, impor bahan baku dan barnag modal cenderung meningkat”tuturnya

Sementara itu dari sisi investasi diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan adanya Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Meski begitu, ia memproyeksikan defisit CAD hingga akhir tahun akan melebar di 1%.

“Ini sentimen untuk peningkatan permintaan impor bahan impor akan meningkat seiring peningkatan investasi. Tapi saya pikir meskipun potensinya hingga akhir tahun deifist CAD melebar masih mungkin dikisaran 1%,” tandasnya.

Sementara itu, terkait NPI pada tiga bulan pertama tahun ini mencatat surplus sebesar US$ 4,1 miliar, sementara pada kuartal akhir tahun lalu mencetak defisit sebesar US$ 0,2 miliar. Surplus ini akan mendorong ketahanan sisi eksternal.

Adapun transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2021 mencatat surplus, terutama ditopang oleh investasi portofolio. Pada triwulan I 2021, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$ 5,6 miliar dolar AS (2,0% dari PDB), setelah pada triwulan sebelumnya mencatat defisit  sebesar 1,0 miliar dolar AS atau 0,4% dari PDB.

Untuk investasi portofolio tercatat net inflow, sebesar US$ 4,9 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian surplus pada triwulan sebelumnya sebesar  US$ 2,0 miliar, terutama didorong oleh penerbitan global bonds dan peningkatan aliran masuk modal asing di pasar saham.

“Tentunya dillihat dari Transaksi modal dan Finasnial  (TMF) ada investasi langsung dan investasi porotofolio dan kalau dilihat sendiri di kuartal I lalu surplus menurun yang disebabkan kenaikan US Treasurry sehingga terjadi penurunan investasi atau modal asing di pasar obligasi,”tuturnya.

Meski begitu, untuk ke depan Josua menilai aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio makin meningkat seiring persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih berlangsung.

“Saya pikir ke depan inevstasi portofoolio cenderung menarik sebab kita dengar hasil penerbitan Samurai Bond capai JYP 100 miliar, hal ini mengindikasikan adanya permintaan investor global terhadap obligasi pemerntah Indonesia masih tetap tinggi solid makanya daya tarik inevstasi protoflio di pasar obligasi Indonesia masih cukup menarik,”jelasnya

Tak hanya itu, faktor stabilitas rupiah dan komitmen pemerintah sisi kebijakan fiskal yang akan terus dijaga secara prudent khususunya di tahun depan akan semakin memperkuat fundamental.

“Saya pikir itu salah satu modal inevstasi protoflio di pasar obligasi Indonesia masih menarik,” jaurnya.

Adapun Lembaga Internasional Morgan Stanley, memproyeksi sejumlah bank sentral di Asia mulai melakukan normalisasi kebijakan di tahun depan, termasuk Bank Indonesia (BI). Sejalan dengan kebijakan Federal Reserve mulai akan menghentikan pembelian US Treasury atau tapering off di tahun depan.

Akan tetapi Josua menilai The Fed belum akan melakukan tapering off di tahun ini, sebab langkah ini akan diambil sejalan dengan pemulihan ekonomi di AS.  Meski beberapa indikator pemulihan seperti inflasi sudah diatas 4 persen, namun tingkat pengangguran belum kembali ke level sebelum pandemi, dan itu masih jadi perhatian pemerintah AS.

“Dalam rapat FOMC ada notulensi mengatakan bahwa ada beeberapa anggota FOMC mulai buka kemungkinan tapering off dengan berbagai data dirilis beberapa terakhir. Namun belum mengkonfirmasi cukup kuat dan baik solidnya pemulihan ekonomi AS, setidaknya akhir 2022 atau awal 2023 baru mulai arah arah tapering off sebab yang perlu dilihat indikator tingkat pengangguran,”tegasnya.

Sementara itu, ia menilai kebijakan Bank Indonesia dalam waktu dekat masih akan akomodatif dan belum akan menaikkan suku bunga acuan dan masih di level 3,5%.

Pasalnya BI juga harus memastikan kebijakan yang ditempuh sejalan dengan proses pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19.

“Jadi BI pun arah kebijakannya akomodatif masih akan berjalan untuk memastikan untuk memastikan pemulihan ekonomi akan terlihat.” pungkasnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN