Menu
Sign in
@ Contact
Search
Adhi S Lukman, Foto: IST

Adhi S Lukman, Foto: IST

Gapmmi: Kenaikan TDL Berpotensi Tambah Beban Industri Mamin

Selasa, 29 Juni 2021 | 15:47 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -  Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan bahwa rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bakal menambah beban industri makanan dan minuman (mamin). Oleh karena itu Gapmmi meminta pemerintah untuk mengkaji ulang rencana tersebut.

Demikian dikemukakan Adhi S Lukman, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (29/6/2021).

Ia menjelaskan, pandemi Covid-19 masih berlangsung di Indonesia, bahkan lonjakan kasus per hari dalam tiga pekan terakhir mencapai rata-rata 20,000 kasus. Kondisi ini memberikan dampak yang signifikan baik bagi masyarakat maupun industri. Tantangan terbesar Pemerintah saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, menekan lonjakan kasus Covid-19 dengan tetap memastikan roda perekonomian nasional berjalan.

Industri termasuk di dalamnya industri makanan dan minuman (mamin) berupaya untuk bertahan di tengah penurunan kesehatan karyawan yang berdampak pada produktivitas kerja, melemahnya daya beli masyarakat, tantangan logistik dan kenaikan harga komoditas pangan dunia.

Gapmmi, tandas Adhi, mengapresiasi dan mendukung kebijakan Pemerintah yang membantu industri makanan dan minuman selama ini dengan kebijakan insentif yang telah dikeluarkan selama masa pandemi ini.

“Sebagai industri penyedia kebutuhan sehari-hari masyarakat, industri makanan dan minuman sangat rentan terhadap situasi yang diakibatkan oleh pandemi dan kebijakan apapun yang akan diambil oleh Pemerintah. Baik kebijakan yang terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 kepada masyarakat maupun kebijakan yang terkait dengan industri, seperti kebijakan di bidang perpajakan, infrastruktur, tarif dan retribusi, logistik dan kebijakan lainnya,” katanya.

Lebih lanjut Adhi menambahkan, perubahan kebijakan atau kebijakan baru yang berpotensi menambah biaya produksi, akan memberikan tambahan beban yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan industri makanan dan minuman.

Terkait dengan rencana Pemerintah untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 20% dalam waktu dekat, Adhi meminta Pemerintah mengkaji rencana tersebut dengan bijaksana. Secara makro, kebijakan tersebut sedikit banyak akan berpengaruh pada PDB, konsumsi rumah tangga, dan inflasi. Hal tersebut dikarenakan konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional.

Sedangkan secara sektor, kenaikan TDL diestimasikan akan berdampak negatif terhadap output industri, dan daya saing produk yang dihasilkan di dalam negeri sekaligus membebani konsumen.

“Dengan situasi seperti ini, bila benar kebijakan tersebut akan diterapkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), ini akan menjadi pukulan dan beban yang sangat berat bagi industri makanan dan minuman,” katanya

Adhi S Lukman, Foto:: IST
Adhi S Lukman, Foto:: IST

Selama ini, jelas Adhi, biaya listrik bagi Industri di Indonesia terutama bagi industri makanan dan minuman berkontribusi sekitar 3% dari Harga Pokok Produksi.

Bila PLN berencana untuk menaikkan 20% maka, biaya produksi untuk Industri Makanan dan Minuman akan naik sekitar 0.6%.

“Kenaikan biaya produksi ini mau tidak tidak mau akan berpengaruh pada harga produk yang akan meningkat, dimana produk makanan minuman sangat sensitif terhadap harga. Pada akhirnya biaya ini akan menjadi beban dari masyarakat umum, yang saat ini masih terkena imbas dari pandemi Covid-19 dimana daya beli dan kemampuan ekonomi masih tidak lebih baik”, tambah Adhi.

Juga kenaikan TDL akan berpengaruh terhadap rantai pasok keseluruhan, sehingga pemasok juga akan mengalami biaya produksi (seperti industri kemasan, plastik, kaleng, gelas, dll yang mana industry ini lebih banyak mengkonsumsi listrik PLN).

Untuk itu Adhi menambahkan bahwa rencana kenaikan TDL bagi industri sebaiknya ditinjau ulang, apalagi adanya issue kenaikan harga komoditas pangan seperti biji bijian dan sumber protein juga. Ada baiknya dilakukan upaya bersama oleh industri, Pemerintah dan lembaga terkait untuk mencari solusi yang lebih tepat untuk mengatasi situasi dan kondisi yang tidak kondusif saat ini.

Berdasarkan studi ilmiah, maka dapat disampaikan bahwa akan lebih bermanfaat terhadap ekonomi nasional apabila Pemerintah dapat meningkatkan efisiensi produksi pada sektor kelistrikan. Bahkan, apabila sektor tersebut dapat meningkatkan efisiensi sebesar 10%, maka dapat berkontribusi terhadap peningkatan PDB sebesar 0.34% - 0.57%. Selain itu, efisiensi 10% dapat memberikan dampak yang sangat luar biasa positif terhadap indikator perekonomian lainnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com