Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iskandar Simorangkir. Foto: youtube

Iskandar Simorangkir. Foto: youtube

Kemenko Perekonomian: Deflasi Juni Terjadi Karena Faktor Musiman

Kamis, 1 Juli 2021 | 18:32 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan terjadinya deflasi pada Juni 2021 sebesar 0,16% lebih kepada faktor musiman. Apalagi pada bulan Mei juga ada momentum Lebaran sehingga terjadi kenaikan harga sejumlah barang. Pada bulan Juni terjadi normalisasi harga ke posisi semula.

“Deflasi sebesar -0,16% pada bulan juni lebih disebabkan karena faktor musiman karena panen melimpah dan telah berakhirnya Idul Fitri tercermin dari deflasi bahan makanan yang cukup besar -1,10% dan transportasi deflasi -0,35%,” ucap  Iskandar ketika dihubungi pada Kamis (1/7).

Meskipun pada 3 Juli-12 Juli 2021 ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat  tetapi inflasi diperkirakan akan tetap terjaga sebab  supply dari faktor musiman mulai berkurang dan demand masih pulih khususnya sektor esensial dan kritikal.

“Untuk sektor kritikal dan esensial masih diperbolehkan. Diperkirakan inflasi tetap terkendali,” ucap Iskandar.

Senior Vice President-Economist Bank Permata, Josua Pardede
Senior Vice President-Economist Bank Permata, Josua Pardede

Senior Vice President-Economist Bank Permata, Josua Pardede  mengatakan deflasi terjadi karena adanya normalisasi beberapa komponen belanja masyarakat. Pada saat yang sama juga terjadi kenaikan kasus covid sehingga pada pertengahan Juni pemerintah melakukan   penguatan ppkm mikro sehingga inflasi inti agak sedikit melambat.

“Memang lebih rendah dari yang diperkirakan, tetapi karena faktor harga bergejolak dan harga dari pemerintah mengalami deflasi,” ucap Josua saat dihubungi pada Kamis (1/7).

Dia memperkirakan inflasi akan tetap rendah sebab pemerintah akan memberlakukan PPKM darurat. Aktivitas masyarakat dan pusat perbelanjaan dibatasi apalagi dengan tren kasus yang meningkat sekarang masyarakat lebih khawatir untuk keluar rumah. Masyarakat akan menahan belanja, tingkat konsumsi akan difokuskan untuk kebutuhan pokok.

“Saya pikir inflasi memang memiliki kecenderungan melandai lagi akibat PPKM darurat,” ucapnya.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Piter Abdullah dalam webinar Mencari Solusi Penanganan Pinjaman Online Ilegal yang digelar Majalah Investor, Senin, 21 Juni 2021.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Piter Abdullah dalam webinar Mencari Solusi Penanganan Pinjaman Online Ilegal yang digelar Majalah Investor, Senin, 21 Juni 2021.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam mengatakan deflasi pada bulan Juni ini didorong oleh deflasi komponen harga bergejolak  dan komponen harga diatur pemerintah, serta perlambatan laju inflasi inti yang dipicu oleh melambatnya permintaan domestik.  Selain penurunan harga pada komponen makanan, terjadi penurunan tarif angkutan karena imbas dari normalisasi tarif transportasi pasca lebaran

“Melambatnya permintaan domestik merupakan dampak dari lonjakan kasus covid dan pengetatan PPKM Mikro sejak pertengahan bulan Juni 2021,” ucap Piter .

Piter mengatakan pelaksanaan PPKM darurat akan menekan permintaan ke posisi terendah.  Dengan asumsi supply masih terjaga ,alam akan terjadi tren penurunan harga.  Menurut Piter hal ini tidak  terelakkan, PPKM darurat akan menurunkan mobilitas dan minat orang untuk belanja. Selain Itu kekhawatiran akan melonjaknya kasus covid akan juga menurunkan minat Masyarakat untuk belanja.

“Hal itu adalah konsekuensi logis dari PPKM darurat. Harga dari terjadinya second wave karena kita tidak patuh kepada pemerintah dan tidak disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN