Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekretaris Eksekutif I Komite PC PEN Raden Pardede. Foto: IST

Sekretaris Eksekutif I Komite PC PEN Raden Pardede. Foto: IST

Raden Pardede: Penurunan Defisit APBN akan Terjadi Saat Perekonomian Pulih

Rabu, 7 Juli 2021 | 23:51 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Staf Khusus Menteri Kooordinator Perekonomian Raden Pardede mengatakan, defisit fiskal baru akan bisa turun bila perekonomian sudah pulih. Dengan kondisi pandemi Covid-19 penerimaan pajak tertekan dan jumlah belanja meningkat. Hal ini yang menyabkan defisit dalam jumlah tinggi.

“Dengan situasi seperti ini yang ktia lihat adalah yang perlu dilakukan pemerintah adalah bagaimana membuat strategi jangka menengah Intinya kalau mau mengurangi defisit maka pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi,,” ucap  Raden Pardede dalam acara Webinar Kajian Tengah Tahun Indef pada Rabu (7/7).

Utang pemerintah per Mei 2021 mencapai Rp 6.418,15 triliun (40,5% PDB) meliputi Surat Berharga Negara (SBN) Rp 5.580 triliun (86,94%) dan pinjaman Rp 838 triliun (13,06 %). Di lain sisi, posisi total utang luar negeri kuartal I-2021 mencapai US$ 415,6 miliar, meliputi Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah US$ 203,4 miliar  dan ULN swasta US$ 209,4 miliar.

Upaya melakukan pemulihan ekonomi juga haru sejalan dengan reformasi perpajakan. Sebab saat terjadi kenaikan penerimaan maka jumlah defisit juga berkurang. Reformasi perpajakan dinilai juga akan meningkatkan basis wajib pajak, kepatuhan wajib pajak, yang berujung pada kenaikan penerimaan negara.

“Kalau ekonomi bertumbuh maka di samping jumlah pembayaran pajak tambah maka ekonomi yang akan dipajaki pun akan lebih tinggi ke depannya,” ucapnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST
Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Foto: IST

Senada dengan Raden, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, meskipun secara nominal dan rasio ke PDB meningkat, diharapkan bisa membaik seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi.  Tren pemulihan ekonomi global  sudah pulih dan diharpakan ekspektasi domestik mengikutinya. Pemulihan ekonmi diharapkan akan mendorng penurunan dari nominal hutang dan dari sisi rasio utang ke PDB. Catatan Kemenkeu menunjukan hingga semester I 2021  realisasi penerimaan pajak  sudah mencapai Rp 557,8 triliun atau 45,4% dari target tahun ini Rp 1.229,6 triliun ini tumbuh 4,9%.

“Realisasi penerimaan pajak sudah lebih meningkat dibandingka ntahun 2020. Dengan konsolidasi fiskal yang dilakukan pemerintah  kita harapkan tren defisit fiskal berkurang. Kalau defisit fiskal berkurang, hutang ke depan juga akan mengecil,” kata Josua saat dihubungi pada Selasa (6/7) malam.

Josua mengatakan reformasi perpajakan melalui revisi UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)  harus dilakukan karena banyak distorsi di penerimaan pajak. Menurutnya upaya intensifikasi belum berjalan optimal sehingga masih banyak wajib pajak yang belum melaksanakan kewajiban membayar pajak. Reformasi dilakukan untuk kepentingan jangka panjang dan pada saat yang bersama ada komitmen pemerintah untuk mengembalikan defisit fiskal ke posisi 3% dari PDB di tahun 2022.

“Tujuan dari revisi UU KUP adalah penerimaan jangka panjang sehingga bisa lebih optimal dan tidak terjadi shortfall. Defisit fiskal bisa mengecil ini akan mengurangi beban hutang  dan ruang fiskal membesar artinya banyak belanja yang bisa dioptimalkan kembali,” kata Josua.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN