Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno dalam Investor Daily Summit 2021, Kamis (15/7/2021)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno dalam Investor Daily Summit 2021, Kamis (15/7/2021)

Investor Daily Summit 2021

Menpar Sandiaga Uno: Desa Wisata Jadi Lokomotif Kebangkitan Pariwisata

Kamis, 15 Juli 2021 | 16:20 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id Desa wisata berpotensi menjadi lokomotif kebangkitan industri pariwisata pasca dihantam pandemi Covid-19. Dari 82 ribu desa di Indonesia, sebanyak 1.500 desa sedang menjadi rintisan (startup) desa wisata dan ditargetkan akan menghasilkan 244 desa wisata mandiri atau setara dengan unicorn.

“Di tengah pengembangan destinasi wisata baru, juga ada pengembangan destinasi wisata skala mikro, yaitu desa wisata. Desa wisata ini semangat sekali mengembangkan desanya menjadi destinasi wisata. Kebetulan kita juga ada Anugerah Desa Wisata. Ada 1.500 lebih desa wisata dan ini bisa jadi lokomotif kebangkitan indsutri pariwisata Indonesia,” kata Menteri Pariwisata Sandiaga Salahudin Uno saat membuka Investor Daily Summit 2021 hari ketiga bertema Memacu Pariwisata, Membangun Ekonomi Daerah yang digelar secara daring oleh Investor Daily dan Beritasatumedia Holdings, Kamis (15/7/2021).

Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah sudah menetapkan lima destinasi wisata super prioritas. “Pariwisata Indonesia memiliki lima destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba, Borobudur dan sekitarnya yang meliputi dua provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, termasuk Pemalang yang merupakan kawasan strategis yang juga tersentuh Badan Otorita Borobudur, lalu ada Mandalika kawasan wisata berbasis olahraga, Labuan Bajo dengan infrastruktur yang baik, dan Likupang. Kemudian selanjutnya dikembangkan lima destinasi wisata baru, yaitu Bangka Belitung, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, dan Raja Ampat,” papar Sandiaga.

Lima destinasi super prioritas dan lima destinasi wisata baru, itu sempat mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019 menjadi 16,11 juta orang. Namun angka itu terjun bebas pada 2020 menjadi 4,05 juta akibat pandemi atau turun 75%. Angka itu makin anjlok pada 2021 yang hanya mencapai 564,5 ribu.

Setali tiga uang dengan wisman, wisatawan nusantara (wisnus) meski tak seterjun bebas wisman, namun anjlok dari 282.925.854 perjalanan pada 2019 menjadi hanya 198 perjalanan pada 2020 atau turun 29,7%. “Aktivitas wisnus pada 2021 tertahan kebijakan pembatasan mobilitas akibat melonjaknya Covid-19,” kata Sandiaga.

Anjoknya wisman dan wisnus itu memberikan dampak negatif ke sektor lainnya karena multiflyer effect industri pariwisata sangat luas. “Pertumbuhan PDB ekonomi kreatif atau ekraf pada 2020 diperkirakan -2,39% atau hanya meraup Rp1.134,9 triliun, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sektor ekraf sebanyak 479.206, dan penurunan tenaga kerja pariwisata sebesar 6,67% jika dibandingkan tahun 2019 sebesar 14,96 juta jiwa. Devisa pariwisata yang pada 2019 sebesar US$16,9 miliar turun 79,1% menjadi U$3,54 miliar,” papar Sandiaga.

Akses Internet

Meski kondisinya demikian, pandemi Covid-19, lanjut Sandiaga, justru menjadi momentum terbaik untuk revitalisasi destinasi pariwisata dan infrastruktur. Sandiaga mengungkapkan ada lima langkah utama yang bisa dilakukan untuk pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif (Parekraf), yaitu peningkatan kapasitas SDM, revitalisasi destinasi pariwisata dan infrastruktur ekraf, peningkatan resiliensi dan daya saing usaha, inovasi produk dan jasa, serta pemulihan dan perluasan pasar.

“Nah, revitalisasi destinasi pariwisata ini salah satunya adalah desa wisata. Ada tiga kunci untuk desa wisata, yaitu pelatihan, pendampingan, dan wirausaha. Saya yakin dana desa yang sudah digelontorkan untuk 75 ribu desa bisa digunakan dengan baik, termasuk untuk pengembangan desa wisata, karena kami tidak menambah dana, kami hanya men-traffict desa wisata,” ujar Sandiaga.

Pertama, ungkap Sandiaga, pelatihan desa wisata. Ini termasuk bagaimana dana bisa dikelola oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Kedua, pendampingan yang dilakukan bagaimana agar Bumdes menciptakan produk ekraf. Ketiga, wirausaha. “Kami yakin jika UKM di desa wisata berkembang, maka akan tercipta peluang kerja baru. Dana sudah ada dari Kementerian Desa, kami yang mentraffict-nya. Dari 1.500 desa wisata, ada empat tahapan. Pertama, tumbuh dan berkembang dari desa rintisan (startup), masuk jadi desa berkembang, lalu desa maju, dan desa mandiri. Desa mandiri itu ekivalen nya unicorn. Targetnya 244 unicorn dari desa wisata,” kata Sandiaga

.Sandiaga optimistis ke depan desa wisata ini akan berhasil. Apalagi melihat tren orang-orang bekerja dari desa wisata. “Jadi orang sekarang bekerja dari tempat-tempat yang unik, seperti desa di Bali, desa di Malang, jadi ikon desa-desa wisata. Kampung-kampung di Bogor sekarang juga berpartisipasi dalam 1.500 desa wisata ini. Karena itu, kami juga bekerja sama dengan PHRI untuk meningkatkan jumlah homestay di desa wisata,” kata Sandiaga.

Untuk menunjang desa wisata, Sandiaga juga meminta akses fiber optik untuk teknologi internet dan teknologi digital hadir di desa-desa wisata. “Mari kita hadirkan fiber optik dan teknologi digital di desa pariwisata. Karena tiktok, zoom, instagram, facebook, membutuhkan teknologi internet di desa wisata sebagai bagian mendorong lokomotif perbaikan nasional,” tandas Sandiaga.

Walikota Bogor Dr.H.Bima Arya Sugiarto optmistis desa wisata dapat memulihkan pariwisata Bogor yang terpuruk. “Kota Bogor sangat bergantung pada jasa. Sebelum pandemi, penuh oleh pengunjung dari corporate dan pemerintah. Sedangkan wiken penuh pengunjung dari Jakarta. Jadi pendapatan terbesar kedua Kota Bogor adalah adalah Mice dan pariwisata. Karena itu kami membuka titik-titik baru pariwisata, termasuk desa wisata tematik seperti Harja Mulya yang berada di area pesawahan. Bahkan Luna Maya pernah diendorse untuk Desa Wisata Harja Mulya” ungkap Bima Arya.

Hal senada dikatakan Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo. “Pemalang punya topografi lengkap dan potensial, mulai laut dan gunung. Kami sedang kembangkan untuk menjadi desa wisata,” ujar Mukti.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN