Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultra mikro

Pembentukan holding ultra mikro

Holding Ultra Mikro Tingkatkan Kinerja Keuangan Konsolidasi

Jumat, 20 Agustus 2021 | 10:56 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto mengatakan, sinergi ekosistem usaha ultra mikro,  yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM melalui pembentukan holding BUMN Ultra Mikro (UMi) diyakini akan meningkatkan kinerja keuangan konsolidasi ke depan.

“Selama ini, ketiga perseroan sudah dikenal kuat dalam penyaluran dana dan pemberdayaan usaha masyarakat kecil dengan layanan produk keuangan masing-masing,” kata Toto melalui keterangan tertulis, pada Jumat (20/8/2021).

Ia mengatakan, kinerja ketiga perusahaan itu sehat meski ekonomi diadang pandemi, terlebih BRI yang menunjukkan pertumbuhan  berkelanjutan. Disebutkan, holding akan mampu memperbaiki struktur beban dana sekaligus memperluas ekspansi bisnis pembiayaan segmen usaha ultra mikro secara nasional.

"Mereka bisa meningkatkan integrasi setiap channel. Itu juga bisa dilakukan untuk meningkatkan kinerja. Bukan tidak mungkin percetakan laba lebih besar," kata Toto.

Toto Pranoto dalam peluncuran buku Reinventing Indonesia, Menata Ulang Bangsa di Beritasatu Plaza, Rabu (23/9/2020). (Foto: Beritasatu/Primus Dorimulu)
Toto Pranoto  Foto: Beritasatu/Primus Dorimulu)

Pada tahap awal, lanjutnya, holding akan memangkas banyak beban dana pada layanan jasa keuangan masing-masing perseroan. BRI akan mampu menyediakan channel likuiditas lebih kepada PNM dan Pegadaian.

Terlebih, BRI memiliki likuiditas yang melimpah di tengah masa pandemi sehingga butuh optimalisasi. Di samping itu, perbaikan struktur dana lanjutan dapat dilakukan melalui sinergi data nasabah.

Dengan pemangkasan biaya dana, Toto melanjutkan, tahap berikutnya adalah memperdalam penetrasi bisnis pembiayaan dan pemberdayaan. Hal ini dilakukan dengan cross selling sekaligus co-location atau sinergi jaringan yang membuat penetrasi bisnis holding semakin dalam menjangkau segmen usaha ultra mikro.

"Hal ini pun semakin efektif lantaran masing-masing anggota tetap mempertahankan keunikan bisnisnya sehingga menyediakan solusi keuangan lebih lengkap," ujarnya.

Sebagai gambaran, BRI mampu mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 2,23% yoy, atau tercatat sebesar Rp 1.096,45 triliun pada akhir Juni 2021. Dana murah (CASA) masih mendominasi struktur pendanaan BRI, dimana tercatat sebesar 59,56% atau tumbuh signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 55,81%.

Keberhasilan BRI  meningkatkan CASA membuat biaya dana (COF/Cost of Fund) menjadi turun dari semula 3,54% pada akhir kuartal II 2020 menjadi 2,18% pada akhir kuartal II 2021.

Sementara itu, baik Pegadaian dan PNM saat ini diperkirakan memiliki CoF di kisaran 9% sampai 10%.

Jika CoF  bisa dipangkas, lanjut Toto, peningkatan manfaat layanan juga akan semakin dirasakan oleh pelaku usaha di segmen ultra mikro sebagai nasabah. Pasalnya, efisiensi pada struktur dana akan membuat bunga pembiayaan menjadi lebih rendah. "Solusi keuangan pun akan menjadi lebih lengkap, dan akan mengakomodir pelaku usaha untuk cepat naik kelas," ujarnya.

Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Sumber: BSTV

Senada, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara menyampaikan integrasi untuk memperkuat ekosistem usaha UMi melalui holding akan sangat baik dalam meningkatkan permodalan di masing-masing perseroan.

Hal itu, menurut Mirza akan memperkuat ekspansi, terlebih di segmen usaha ultra mikro membutuhkan keahlian tata kelola khusus. Bukan hanya terkait penyaluran dana atau pembiayaan saja, tetapi juga menonjolkan pendampingan dan pemberdayaan.

Dengan demikian, fundamental bisnis akan semakin kuat di tataran bawah karena suntikan modal bagi bisnis wong cilik ditindaklanjuti dengan pembinaan untuk mendorong usaha tersebut ‘naik kelas’. Implikasinya di masa datang, penguatan usaha di tataran bawah membawa pertumbuhan kinerja perseroan.

"Holding ini positif karena akan membuat permodalan lembaga pembiayaan serta sumber dana kredit mikro menjadi lebih kuat. Ini bagus untuk Indonesia. Diharapkan juga informasi kredit menjadi lebih terintegrasi. Ini untuk menangkap potensi pertumbuhan sekaligus mitigasi risiko," jelasnya.

BRI sebagai induk holding akan melaksanakan rights issue dengan keterlibatan pemerintah di dalamnya, melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam bentuk non tunai. Terkait proses tersebut, pemerintah akan mengalihkan seluruh saham Seri B miliknya (inbreng) dalam Pegadaian dan PNM kepada BRI. Dana hasil dari aksi korporasi itu di antaranya akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan holding ultra mikro tersebut.

Dengan adanya holding ini, pemerintah ingin memastikan penyaluran pembiayaan kredit kepada pelaku ultra mikro dan mikro yang membutuhkan kredit dengan bunga rendah akan jauh lebih terarah, mudah dan juga ada pertambahan nasabah baru yang signifikan. Sinergi tiga BUMN untuk ultra mikro ini ditargetkan memperluas pendanaan bagi kurang lebih 29 juta pelaku usaha ultra mikro pada 2024 mendatang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN