Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo. Sumber: BSTV

Presiden: Ekonomi Menuju Pulih, Masyarakat Diimbau Tidak Lengah

Kamis, 16 September 2021 | 10:27 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Terhitung sejak puncak pandemi, 15 Juli hingga 14 September 2021, angka positif baru Covid-19 sudah turun 92,7%. Berbagai indikator pandemi sudah membaik, termasuk positivity rate yang sudah di bawah 3% dan bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang sudah di bawah 15%. Keberhasilan mengendalikan pandemi yang cukup signifikan menjadi modal bagi pemulihan ekonomi Indonesia.

“Ekonomi Indonesia menuju pulih karena pandemi bisa kita kendalikan. Tapi, saya mengimbau agar kita tetap waspada, tidak lengah. Karena pandemi dengan berbagai variannya masih mengancam,” kata Presiden Joko Widodo dalam diskusi dengan 13 pemimpin redaksi media massa nasional di Istana Negara, Rabu (15/9/2021). 

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

Presiden yakin, setelah bertumbuh 7,07% pada kuartal kedua 2021, ekonomi Indonesia akan terus melaju di kuartal ketiga 2023.

Meski tidak setinggi kuartal kedua, demikian Presiden, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2021 bisa mencapai 4%, plusminus satu persen. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat tertahan pada satu setengah kuartal pertama 2021, Juli hingga pertengahan Agustus, kemudian kembali meningkat seiring dengan pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Sejak pekan kedua September 2021, seluruh provinsi di Indonesia beralih dari PPKM level empat ke PPKM level tiga.

Beberapa indeks kepercayaan publik terhadap pemerintah
Beberapa indeks kepercayaan publik terhadap pemerintah

Diakui, rem yang diinjak pemerintah lewat PPKM Darurat untuk mengendalikan pandemi sejak 3 Juli hingga akhir Juli 2021 cukup dalam. Namun, tanpa langkah itu, angka positif harian yang sempat mencapai 56.757 pada 15 Juli 2021 akan terus meroket. Tanpa PPKM, demikian Presiden mengutip perkiraan para epidemolog, kasus harian bisa menembus 150.000 awal September dan selanjutnya bakal melampaui level 400.000.

“Saya dikelilingi para ahli. Semua kebijakan pemerintah untuk mengendalikan pandemi, kami gunakan ahli,” ungkap Jokowi.

 Positivity Rate Covid-19 sampai 15 September 2021
Positivity Rate Covid-19 sampai 15 September 2021

Lewat penerapan PPKM, angka positif harian turun drastis dalam tempo dua bulan. Pada 14 September 2021, kasus harian tinggal 4.128 dan pada 15 September, angka positif baru 3.948 dengan jumlah testing di atas 150.000 per hari. Pengendalian pandemi adalah kunci pemulihan ekonomi.

Oleh karena Itu, tren penurunan ini perlu dipertahankan oleh seluruh lapisan masyarakat, antara lain, dengan  penerapan ketat protokol kesehatan (prokes). Setiap warga harus disiplin menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Meski vaksinasi mengalami akselerasi, pola hidup warga yang disiplin menjalankan prokes adalah kunci.

Di sejumlah negara, kasus pandemic yang sudah turun, dalam sekejap kembali meroket. AS, misalnya, sudah memasuki gelombang keempat meski di negara itu vaksinasi sudah di atas 60%.

Sebagian warga bahkan sudah disuntikkan vaksin ketiga. Negeri Paman Sam itu memiliki sejumlah perusahaan farmasi produsen vaksin seperti Pfizer, Moderna, dan Johnson & Johnson. Tapi, penularan Covid-19 masih terjadi.

Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 sampai 15 September 2021
Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 sampai 15 September 2021

Sebagai negara kepulauan, kata Presiden, Indonesia tidak cukup menjaga ketat bandara dan pelabuhan besar. Warga Indonesia perantau bahkan juga orang asing, masuk ke Indonesia lewat pelabuhan kecil.

“Ada sekitar 1.200 pelabuhan kecil yang sedang kita perketat pengawasannya. Meski sulit, tapi harus kita kendalikan agar tidak terjadi lagi gelombang baru pandemi,” papar Presiden.

Hingga 15 September 2021, sudah 75,1 juta orang atau 36,1% yang menerima dosis pertama dan 43 juta orang atau 20,6% yang sudah menerima vaksin kedua. Hingga 15 September 2021, vaksinasi setiap hari umumnya di bawah 1,2 juta. Pada Rabu (15/09/2021), vaksinasi mencapai 1,280 juta per hari, di antaranya 397.309 vaksin kedua. Masalah utama pada vaksinator. Stok vaksin, bulk dan botolan, saat ini mencapai 125,6 juta.

Membaik

Pergerakan indeks PMI dan IPR
Pergerakan indeks PMI dan IPR

Berbagai indikator ekonomi, kata Presiden, juga menunjukkan perbaikan. Ia menyebutkan Purchasing Manager Index (PMI) dan Indeks Penjualan Ritel yang kembali membaik. Indeks Kepercayaan terhadap Pemerintah yang sempat turun ke level 109,9, kini naik ke 115,6. Indeks Kepercayaan Perbaikan Ekonomi Nasional naik dari 108,7 ke 118,6. Indeks Kepercayaan Stabilitas Harga meningkat dari 97,6 ke 113,1. 

Selain pengendalian pandemi, pemerintah terus memberikan stimulus untuk menaikkan daya beli masyarakat menengah bawah dan menggerakkan kegiatan dunia usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada tahun 2021, dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) mencapai Rp 744,8 triliun, meningkat dari realisasi PEN sebesar Rp 575,8 triliun tahun 2020. Dana PEN akan ditambahkan pemerintah jika kondisi ekonomi membutuhkan tambahan stimulus.

Persoalaan saat ini adalah pada penyaluran dana PEN. Presiden mengimbau para kepala daerah untuk mempercepat belanja anggaran negara, baik dana APBD maupun dana PEN.

Realisasi penanganan Covid-19 & PEN. Sumber:  Kemenko Perekonomian, Beritasatu Research
Realisasi penanganan Covid-19 & PEN. Sumber: Kemenko Perekonomian, Beritasatu Research

“Hingga September 2021, realisasi anggaran oleh pemda masih kurang dari 50%, bahkan ada yang di bawah 40%,” ujar Jokowi. Meski masih dalam suasana pandemi, demikian Presiden, pemerintah terus melakukan transformasi, yakni hilirisasi, digitalisasi UMKM, dan ekonomi hijau serta pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Hilirisasi yang menonjol adalah pabrik pengolahan nikel, bauksit, tembaga, dan sawit. Digitalisasi UMKM sudah melibatkan 15,5 juta pelaku.

Sedang untuk ekonomi hijau dan EBT, pemerintah mulai membangun Green Industrial Park. Pembangunan ibukota Negara (IKN) di Kalimantan Timur akan direalisasikan pemerintah. Pemindahan IKN, kata Presden, bukan sekadar pemindahan fisik ibukota, tapi transformasi peradaban. IKN yang baru adalah kawasan hijau yang dibangun secara modern dan sejak awal didesain menjadi digital city. Cara hidup dan cara kerja di IKN yang baru akan jauh berbeda di di IKN lama.

Indikator Perbaikan

Neraca perdagangan. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu,  BeritaSatu Research
Neraca perdagangan. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu, BeritaSatu Research

Sementara itu, membaiknya perekonomian juga tercermin pada beberapa indikator. Di antaranya adalah data neraca perdagangan Agustus yang membukukan surplus US$ 4,74 miliar. Ini merupakan surplus yang dicapai selama 16 bulan berturut-turut. Yang menarik, ekspor Agustus merupakan rekor tertinggi ekspor bulanan, dengan nilai US$ 21,42 miliar. Dibanding Agustus 2020 (year on year/yoy), terjadi kenaikan pesat hingga 64,10%.

Dari data Badan Pusat Statistik tersebut terungkap pula bahwa impor bahan baku dan penolong melonjak 59,59% (yoy) menjadi US$ 12,38 miliar. Sektor ini berkontribusi hingga 74,2% terhadap total impor.

Meningkatnya nilai impor bahan baku/penolong menggambarkan permintaan industri cukup bagus. Cadangan devisa (cadev) Indonesia hingga akhir Agustus 2021 juga menyentuh rekor tertinggi dalam sejarah, sebesar US$ 144,8 miliar.

Cadangan devisa. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu,  BeritaSatu Research
Cadangan devisa. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu, BeritaSatu Research

Dari jumlah itu, tambahan Special Drawing Rights (SDR) sebesar 4,46 miliar SDR atau setara dengan US$ 6,31 miliar berasal dari Dana Moneter Internasional (IMF). Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Bank Indonesia juga menyatakan defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2021 diprediksi tetap rendah, ditopang oleh kinerja ekspor yang tinggi sejalan dengan kenaikan permintaan global dan harga komoditas dunia. Inflasi terjaga rendah.

Pada Agustus 2021, laju inflasi tercatat 0,03%, terendah sepanjang tahun ini. Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2021 sebesar 0,84% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2021 terhadap Agustus 2020) sebesar 1,59%.

Indeks manufaktur yang diukur dengan Purchasing Manager’s Index (PMI) meski pada Agustus belum menunjukkan ekspansi, angkanya naik ke lebih 43,7 dari posisi 40,1 pada Juli. Indeks penjualan riil berada di posisi tinggi, yakni 196,5 per Agustus.

Kondisi likuiditas tetap longgar didorong kebijakan moneter yang akomodatif dan dampak sinergi Bank Indonesia dengan pemerintah dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Hingga 31 Agustus 2021, bank sentral sudah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana sebesar Rp 137,49 triliun. BI juga telah menambah likuiditas atau quantitative easing (QE) di perbankan sebesar Rp 118,4 triliun hingga 31 Agustus 2021.

Pertumbuhan PDB Indonesia. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu,  BeritaSatu Research
Pertumbuhan PDB Indonesia. Sumber: BI, BPS, Kemenkeu, BeritaSatu Research

Dengan demikian, injeksi likuiditas oleh BI sejak 2020 hingga 31 Agustus 2021 mencapai Rp 844,92 triliun atau setara 5,3% Produk Domestik Bruto (PDB). Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga, meskipun fungsi intermediasi perbankan masih perlu ditingkatkan. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) perbankan Juni 2021 tetap tinggi sebesar 24,30%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL) tetap terjaga, yakni 3,24% (bruto) dan 1,06% (neto).

Di tengah kondisi likuiditas yang tetap longgar dan penurunan suku bunga kredit baru, intermediasi perbankan melanjutkan pertumbuhan positif meskipun belum kuat yaitu sebesar 0,50% (yoy) pada Juli 2021. Pertumbuhan kredit konsumsi terus meningkat, terutama KPR yang tumbuh sebesar 6,79% pada bulan Juli 2021, sejalan dengan tingginya permintaan kredit kepemilikan rumah.

Kredit UMKM juga tetap tumbuh positif sebesar 1,93% pada Juli 2021. Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2021 terus tumbuh seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan pembayaran digital, dan akselerasi digital banking.

Nilai transaksi uang elektronik (UE) meningkat 57,71% (yoy) mencapai Rp 25,4 triliun. Nilai transaksi digital banking juga tumbuh 53,08% (yoy) menjadi Rp 3.410,7 triliun. Volume transaksi digital banking juga meningkat sebesar 56,07% (yoy) mencapai 649,8 juta transaksi. Nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debet, dan kartu kredit tercatat Rp 642,3 triliun, tumbuh 6,84% (yoy), seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. (hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN