Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Pendanaan Jadi Kunci Transisi Energi

Selasa, 21 September 2021 | 08:32 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis Indonesia dapat mencapai netral karbon (net zero emission) lebih cepat dari 2060 jika ada dukungan pendanaan, termasuk dari internasional.

Luhut mengatakan, Indonesia sangat berkomitmen untuk menjalankan agenda perubahan iklim, yakni mencegah kenaikan suhu bumi 1,5 derajat celcius. Hal ini telah ditegaskan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan. Untuk itu, Indonesia akan melakukan upaya terbaik untuk mencapai net zero emission lebih cepat. Percepatan dapat terjadi jika ada dukungan pendanaan dan teknologi.

“Dukungan pendanaan (financial support) sangat penting untuk mendukung transisi ke energi terbarukan. Perlu bantuan dari negara maju untuk mencapai netral karbon pada 2060 atau lebih cepat,” kata dia dalam The 4th Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Indonesia Clean Energy Forum (ICEF), Senin (20/9).

Saat ini, lanjutnya, pemerintah tengah menyusun mekanisme transisi energi, terutama untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbasis batu bara. PT PLN (Persero) tengah menyusun rencana untuk menghentikan operasi PLTU secara bertahap dan segera beralih ke energi terbarukan.

“Kami optimis bisa lebih cepat karena teknologi juga semakin berkembang jadi bisa lebih efisien,” ujar Luhut.

Luhut menegaskan, perubahan tersebut mutlak terjadi, bahkan dalam enam tahun ke depan. Pasalnya, saat ini semua industri yang bernilai hampir US$ 100 miliar pun pembangunannya sudah mulai menggunakan energi terbarukan. Sementara Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar.

“Pada 2050, Eropa canangkan tidak mau pakai barang yang dari fosil energi. Kita punya barang-barang dari renewable energy atau green product. PLN juga harus ikut dan berbenah,” tegasnya.

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan, untuk mencapai net zero emission, IESR memperkirakan nilai investasi yang diperlukan hingga 2030 menyentuh US$ 25-30 miliar per tahun atau sekitar Rp 420 triliun per tahun. Angka tersebut akan lebih tinggi pada 2030–2050, yakni mencapai US$ 50-60 miliar per tahun. Nilai investasi itu termasuk untuk pengembangan teknologi rendah karbon di sektor kelistrikan, transportasi, dan industri.

“Investasi itu juga mencakup pengembangan green hidrogen, serta bahan bakar sintetik untuk sektor transportasi yang tidak dapat dielektrifikasi, seperti pesawat dan kapal,” sebut Fabby.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN