Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Inflasi

Ilustrasi Inflasi

Inflasi Oktober 0,12% Sinyal Positif Perekonomian Kuartal IV- 2021

Selasa, 2 November 2021 | 04:29 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mendata inflasi pada Oktober 2021 mencapai 0,12%. Terjadi peningkatan setelah sebelumnya terjadi deflasi 0,04% pada September 2021. Kondisi inflasi pada Oktober ini, kata pengamati ekonomi Ryan Kiryanto, menunjukkan konsumsi masyarakat sudah meningkat. Sehingga berdampak baik untuk perekonomian kuartal IV- 2021.

“(Inflasi) ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat seiring dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi menyusul dilonggarkannya kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di seluruh wilayah Indonesia terutama Jawa dan Bali. Jelas ini kabar baik, pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan akan tumbuh positif lagi,” ucap Ryan saat dihubungi Investor Daily pada Senin (1/11).

Ryan  memperkirakan inflasi sepanjang tahun 2021 akan berada pada kisaran 2 sampai 2,2%. Pada Oktober ini terjadi penurunan harian Covid-19 sebab terjadi akselerasi vaksinasi dan masyarakat disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes). Mobilitas masyarakat juga mulai meningkat baik untuk kepentingan pekerjaan maupun kepentingan pribadi. Termasuk kegiatan pariwisata. Hal ini membuat orang-orang sudah berani mendatangi tempat- tempat wisata.

“Jelas ini kabar baik, seiring dengan vaksinasi agresif, protokol kesehatan yang semakin bagus. Masyarakat disiplin dan berani keluar rumah, hal itu yang membuat konsumsi naik. Karena konsumsi naik maka sebagian barang komoditas harganya terkerek inilah yang menimbulkan inflasi,” kata Ryan.

Staf Ahli OJK Ryan Kiryanto. (Investor Daily/Nida Sahara)
Staf Ahli OJK Ryan Kiryanto. Foto: (Investor Daily/Nida Sahara

Menurutnya saat ini, perekonomian bisa berjalan optimal sebab kebijakan dari sisi kesehatan bisa berjalan seiringan dengan kebijakan ekonomi. Saat awal terjadi pandemi Covid-19 pemerintah menjalankan kebijakan pembatasan. Hal ini membuat daya beli masyarakat tertahan atau penutup demand. Saat sudah terjadi pelonggaran pembatasan maka tingkat belanja masyarakat meningkat. Ryan mengatakan telah terjadi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tidak lagi 10%. Artinya masyarakat mulai menggunakan dana yang tersimpan. Sementara itu pertumbuhan kredit meningkat ke angka 2,11%.

“Ini saling mengkonfirmasi, inflasi naik, konsumsi rumah tangga naik, belanja naik, DPK agak turun sedikit, lalu kredit naik. Kesimpulannya ada geliat ekonomi yang lebih baik di kuartal IV ini,” ucap Ryan.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan  pada Oktober 2021 terjadi inflasi sebesar 0,12%. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Oktober) 2021 sebesar 0,93% dan tingkat  inflasi  tahun ke tahun (Oktober  2021 terhadap Oktober  2020)  sebesar 1,66%. Dari semua kelompok pengeluaran inflasi tertinggi terjadi pada kelompok transportasi dengan inflasi sebesar 0,33% dan andil ke inflasi secara keseluruhan sebesar 0,04%.

“Ini disebabkan karena adanya kenaikan tarif angkutan udara,” ucap Margo dalam telekonferensi pers di Kantor BPS, Jakarta pada Senin (1/11).

Kepala BPS Margo Yuwono. Foto: Humas BPS
Kepala BPS Margo Yuwono. Foto: Humas BPS

Dia mengatakan  jika dilihat lebih dalam pada kelompok pengeluaran transportasi  dari 4 subkelompok pada kelompok ini, 3 subkelompok mengalami inflasi dan 1 subkelompok  mengalami deflasi. Subkelompok yang mengalami inflasi, yaitu subkelompok pengoperasian  peralatan transportasi pribadi sebesar 0,13%; subkelompok jasa angkutan penumpang sebesar  1,23%;  dan  subkelompok  jasa  pengiriman  barang  sebesar  0,05%.  Sementara subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu subkelompok pembelian kendaraan  sebesar 0,05%.  Kelompok ini pada Oktober 2021 memberikan andil inflasi sebesar 0,04%.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu: tarif angkutan udara  sebesar 0,03% dan bensin sebesar 0,01%,” ucapnya 

Kelompok makanan , minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,10% dengan andil ke inflasi 0,03%.  Dari  4  subkelompok  pada  kelompok  ini,  seluruhnya  mengalami  inflasi.  Subkelompok yang  mengalami inflasi tertinggi, yaitu subkelompok rokok dan tembakau sebesar 0,46% dan  terendah yaitu subkelompok makanan sebesar 0,04%. Kelompok ini pada Oktober 2021 memberikan andil inflasi sebesar 0,03%.  Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu: cabai merah dan minyak  goreng  masing-masing  sebesar  0,05%;  daging  ayam  ras  sebesar  0,02 %;  rokok  kretek filter sebesar 0,01%.

“Sementara komoditas yang dominan memberikan andil deflasi, yaitu: telur ayam ras sebesar 0,03%; tomat sebesar 0,02%; bawang merah, sawi hijau, bayam, dan kangkung masing-masing sebesar 0,01%,”  ucapnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu

Sementara itu, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan inflasi berpotensi menguat secara bertahap seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat pasca pelonggaran PPKM. Momentum Natal dan Tahun Baru serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi. Selain itu, risiko kenaikan harga pangan akan mendorong tekanan inflasi.

Outlook inflasi 2021 diperkirakan dapat mencapai 1,8% secara year on year (yoy). Seiring dengan peningkatan mobilitas, pemerintah mengantisipasi terjadinya ledakan mobilitas yang dapat berisiko penularan wabah Covid-19 dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan memperketat syarat perjalanan antardaerah”, ucap Kepala BKF Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu dalam siaran pers yang diterima pada Senin (1/11).

Laju inflasi Oktober dipengaruhi oleh naiknya inflasi administered price seiring mobilitas masyarakat yang meningkat di tengah masih tumbuh terbatasnya inflasi inti dan melambatnya inflasi volatile food.

“Pelonggaran PPKM secara bertahap mendorong peningkatan mobilitas masyarakat, baik di dalam daerah maupun antardaerah. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan masyarakat secara umum,” kata Febrio.

Beberapa kelompok pengeluaran mengalami tren kenaikan inflasi, seperti pada kebutuhan sandang, jasa perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi. Di sisi lain, juga terdapat perlambatan terbatas pada kesehatan, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman atau restoran.

Inflasi volatile food mengalami penurunan, mencapai 3,16% (yoy), turun dari angka September 3,51% (yoy) dipengaruhi penurunan harga pangan, seperti telur ayam ras dan sayur-sayuran. Anjloknya harga telur disebabkan oleh pasokan telur secara nasional masih surplus karena penyerapan yang belum maksimal akibat berbagai pembatasan kegiatan. Harga sayuran pun menurun karena melimpahnya stok akibat faktor panen.

Di sisi lain, peningkatan harga terjadi juga pada komoditas cabai merah, daging ayam ras, serta minyak goreng. Harga minyak goreng meningkat tajam akibat harga Crude Palm Oil (CPO) global yang masih dalam tren meningkat. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga akses pangan masyarakat miskin dan rentan dengan melakukan penyaluran bantuan sosial pangan serta melakukan stabilisasi harga pangan pokok, terutama beras.

“Pemerintah pusat dan daerah juga terus memantau potensi kenaikan harga pangan di akhir tahun mengingat faktor masuknya musim penghujan dan momen perayaan Natal dan liburan akhir tahun,” katanya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN