Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.

RASIO TERHADAP PDB TURUN JADI 37%

Utang LN RI Kuartal III Bertambah Lebih Kencang

Senin, 15 November 2021 | 10:53 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuratal III-2021 tercatat sebesar US$ 423,1 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang sebesar 2% (yoy). Pertumbuhan yang lebih kencang ini disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan ULN baik di sektor publik maupun sektor swasta.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan, posisi ULN pemerintah pada kuartal III-2021 tercatat US$ 205,5 miliar atau tumbuh 4,1% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan kuartal II-2021 yang mencapai 4,3% (yoy). “Perkembangan ini disebabkan oleh pembayaran neto pinjaman seiring lebih tingginya pinjaman yang jatuh tempo dibanding penarikan pinjaman,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam publikasi pada Senin (15/11).

Advertisement

Ia menambahkan, hal ini terjadi di tengah penerbitan global bonds, termasuk Sustainable Development Goals (SDG) Bond sebesar 500 juta euro, yang merupakan salah satu penerbitan SDG Bond konvensional pertama di Asia. “Penerbitan SDG Bond ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan langkah yang signifikan dalam pencapaian SDG,” tandas Erwin.

Menurut Erwin, ULN pemerintah yang senantiasa dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel diutamakan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Program PEN ini antara lain mencakup dukungan pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,9% dari total ULN Pemerintah).

Selain itu, lanjut dia, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,3%), sektor jasa pendidikan (16,5%), sektor konstruksi (15,5%), dan sektor jasa keuangan dan asuransi (12,1%). “Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah,” tandas Erwin.

ULN bank sentral, ungkap Ewin, mengalami peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya meski tidak menimbulkan tambahan beban bunga utang. Dibandingkan kuartal II-2021, posisi ULN bank sentral pada kuartal III-2021 mengalami peningkatan sebesar US$ 6,3 miliar menjadi US$ 9,1 miliar terutama dalam bentuk alokasi special drawing rights (SDR).

Pada Agustus 2021, Erwin kembali mengingatkan bahwa IMF mendistribusikan tambahan alokasi SDR secara proporsional kepada seluruh negara anggota, termasuk Indonesia, yang ditujukan untuk mendukung ketahanan dan stabilitas ekonomi global dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19, membangun kepercayaan pelaku ekonomi, dan memperkuat cadangan devisa global dalam jangka panjang.

“Alokasi SDR dari IMF ini adalah kategori khusus dan tidak dikategorikan pinjaman dari IMF karena tidak menimbulkan tambahan beban bunga utang dan kewajiban yang akan jatuh tempo ke depan,” tegas Erwin.

Sedangkan ULN swasta, lanjut dia, pada kuartal III-2021 tumbuh sebesar 0,2% (yoy), setelah pada periode sebelumnya mengalami kontraksi 0,3% (yoy). Pertumbuhan ULN swasta tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1% (yoy), melambat dari 1,6% (yoy) pada kuartal II-2021.

Sementara itu, pertumbuhan ULN lembaga keuangan mengalami kontraksi sebesar 2,7% (yoy), lebih rendah dari kontraksi kuartal sebelumnya yang sebesar 6,9% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, posisi ULN swasta pada kuartal III-2021 tercatat sebesar US$ 208,5 miliar. Berdasarkan sektor, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, dengan pangsa mencapai 76,4% dari total ULN swasta. “ULN tersebut masih didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,1% terhadap total ULN swasta,” ucap Erwin.

Tetap Sehat

Ia mengeklaim bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan. ULN Indonesia pada kuartal III-2021 tetap terkendali, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 37%, menurun dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya yang sebesar 37,5%.

“Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 88,2% dari total ULN,” kata Erwin.

Untuk menjaga agar struktur ULN tetap sehat, menurut Erwin, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN