Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Joko Supriyono.Ketua Umum  Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang dan Tantangan Hilirisasi CPO live di Beritasatu TV, Kamis (18/11/2021). Sumber: BSTV

Joko Supriyono.Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang dan Tantangan Hilirisasi CPO live di Beritasatu TV, Kamis (18/11/2021). Sumber: BSTV

Gapki: Hilirisasi Sawit RI Sudah Berjalan Baik

Kamis, 18 November 2021 | 14:10 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com ) ,Tri Listiyarini

JAKARTA, investor.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan, hilirisasi sawit nasional telah berjalan dengan baik. Hal itu tercermin dari porsi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tidak lebih dari 20% dan sisanya dalam bentuk produk olahan. Hal itu terjadi di antaranya berkat dukungan regulasi dari pemerintah berupa kebijakan pungutan ekspor (PE) dan bea keluar (BK) sawit.

Joko Supriyono menjelaskan, dalam satu dekade terakhir, komposisi produk sawit yang diekspor sama yakni sudah bukan lagi didominasi CPO. Pada 2020 misalnya, porsi ekspor CPO tidak lebih dari 20% dan yang paling besar justru produk olahan (refined) seperti dalam bentuk refined, bleached, and deodorized (RBD) yang memiliki banyak variasi atau jenis, oleokimia, biodiesel, olahan minyak kernel (crude palm kernel oil/CPKO), dan produk yang sudah diolah melalui prosesing di dalam negeri. “Jadi, sebenarnya, ekspor CPO itu sudah minimal, ini bukti bahwa hilirisasi di Indonesia sudah berjalan baik, on the right track. Dan saya pikir tren ini masih akan seperti ini ke depan,” jelas dia saat Zooming with Primus : Peluang & Tantangan Hilirisasi CPO yang tayang langsung di BeritaSatu TV pada Kamis (18/11).

Zooming with Primus - Peluang dan Tantangan Hilirisasi CPO live di Beritasatu TV, Kamis (18/11/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Peluang dan Tantangan Hilirisasi CPO live di Beritasatu TV, Kamis (18/11/2021). Sumber: BSTV

Lebih jauh Joko mengatakan, berkaca dari pasar internasional, harga produk mentah yakni CPO dan produk hilir seperti RBD di pasar internasional sebenarnya mirip atau tidak jauh berbeda. Kerapkali, harga RBD lebih mahal dan sebaliknya CPO kadang juga lebih mahal. Namun di Indonesia, dengan diberlakukannya kebijakan PE yang tujuannya untuk pengembangan industri sawit, PE CPO dan RBD dibedakan yakni tarif PE CPO lebih tinggi dan semakin tinggi harganya maka semakin besar besaran PE itu.

Di sisi lain, Indonesia juga menerapkan kebijakan BK dan apabila dikombinasikan antara PE dan BK pada berbagai level harga maka semakin tinggi harga makan semakin besar tarif PE dan juga BK. “Yang menarik, gap antara tarif CPO dan yang olahan (refined) itu semakin besar. Kebijakan atau regulasi di Indonesia inilah yang membuat hilirisasi berjalan selama ini,” ungkap Joko Supriyono.

Dengan kebijakan PE dan BK, ungkap Joko, net price baik CPO maupun olahan jauh di bawah harga internasional, bahkan apabila dilihat lebih detil di Indonesia adalah harga CPO menjadi lebih murah daripada yang refined.  “Inilah yang menyebabkan ekspor sawit Indonesia lebih didominasi olahan, artinya mengekspor olahan lebih menguntungkan daripada mengekspor CPO karena efek atau dampak dari PE dan BK. Saya ingin mengatakan, hilirisasi sawit di Indonesia itu relatif berjalan dengan baik karena didukung oleh kebijakan PE dan BK,”jelas Joko.

 

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN