Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Desa Wisata Nglanggeran, Bantul, Yogyakarta. Foto: Investor Daily/IST

Desa Wisata Nglanggeran, Bantul, Yogyakarta. Foto: Investor Daily/IST

Mengintip Pesona Desa Wisata Nglanggeran Bantul

Minggu, 12 Desember 2021 | 19:50 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

Keindahan dan kecantikan alam Indonesia memang tak terbantahkan lagi di mata dunia. Banyak wisatawan mancanegara melihat Indonesia seperti gadis cantik yang harus diperebutkan. Tak heran bila jutaan wisatawan mancanegara terus mengunjungi Indonesia untuk melihat secara langsung keindahannya.

Salah satunya tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi sebagai destinasi wisata adalah Desa Wisata Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan beberapa hari lalu Desa ini berhasil meraih penghargaan sebagai Best Tourism Village 2021 dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO).

Penghargaan ini dianugerahkan kepada Desa Wisata Nglanggeran pada seremoni UNWTO Best Tourism Villages yang dilaksanakan dalam rangkaian program “Thematic Session” pada Sidang Umum UNWTO ke-24 di Madrid, Spanyol, Kamis (02/12/2021) waktu setempat. Desa yang berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul ini berhasil mengalahkan 44 desa wisata lainnya dari 32 negara di dunia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengapresiasi penghargaan yang diraih oleh Desa Wisata Nglanggeran.

Ia mengatakan Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu destinasi kelas dunia.

“Masyarakat manunggal dengan pemerintah daerah, pengelola, serta masyarakat yang mendorong pariwisata sebagai salah satu penggerak pembangunan desa. Ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam rangka memaksimalkan kontribusi desa wisata, lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan di pedesaan,” kata Sandiaga, seperti dilansir dari laman Kemenparekraf.

Sandiaga menyatakan, penghargaan terhadap Desa Wisata Nglanggeran, menjadi momentum kebangkitan ekonomi Indonesia khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Terlebih, sebelumnya Desa Wisata Nglanggeran telah ditetapkan Menparekraf sebagai desa wisata mandiri inspiratif.

“Prestasi ini jadi angin segar di tengah hiruk-pikuk pandemi dan tantangan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja hampir dua tahun belakangan,” ujarnya.

Gelar ini, menambah panjang daftar penghargaan yang telah diterima Desa Wisata Nglanggeran. Sebelumnya, pada 2017, desa ini dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik ASEAN tahun 2017.

Mengenal Desa Nglanggeran

Desa Wisata Nglanggeran, Bantul, Yogyakarta. Foto: Investor Daily/IST
Desa Wisata Nglanggeran, Bantul, Yogyakarta. Foto: Investor Daily/IST

Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu lokasi wisata yang memiliki objek wisata unggulan yang tidak dimiliki oleh desa wisata lainnya. Desa ini memiliki Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, dan Kampung Pitu. Bahkan, seperti ditulis dalam laman http://gunungapipurba.com, gunung api Purba merupakan gunung batu dari karst atau kapur dengan ketinggian kurang lebih 700 meter dari permukaan laut. Gunung ini merupakan suatu gunung api purba yang terbentuk sekitar 60-70 juta tahun yang lalu.

Puncak Gunung Api Purba merupakan spot yang bagus untuk menikmati pemandangan asri dari Desa Wisata Nglanggeran. Puncak gunung api Purba juga menyuguhkan pemandangan sunrise dan sunset yang indah. Jika ingin melihat pemandangan

Sunrise atau sunset, wisatawan dapat melakukan camping dengan mendirikan tenda di area camping ground yang telah disediakan.

Di setiap pos terdapat gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat. Jalur turun dari Gunung Api Purba juga sudah dilengkapi dengan besi pembatas antara jalur dan jurang, besi pembatas ini juga bisa digunakan untuk pegangan saat turun gunung. Waktu trekking yang dibutuhkan dari naik hingga turun tanpa camping adalah 50-60 menit.

Selain Gunung Api Purba, Desa Nglanggeran memiliki embung yang juga merupakan objek wisata unggulan. Embung Nglanggeran ini adalah sebuah inovasi tampungan air digunakan sebagai pengairan kebun buah durian dan kelengkeng. Inovasi ini justru mengundang perhatian para wisatawan untuk berkunjung. Di Embung Nglanggeran , wisatawan dapat menikmati pemandangan hamparan air embung yang biru dengan background  gunung api Purba yang gagah.

Di pinggiran embung juga terdapat gazebo-gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai sambil menikmati hembusan angin segar. Pemandangan paling menarik pada embung Nglanggeran ini adalah saat senja, karena menyuguhkan panorama sunset yang indah.

Objek wisata unggulan selanjutnya adalah Kampung Pitu. Kampung Pitu terletak di puncak sisi timur Gunung Api Purba, kampung ini hanya dihuni 7 keluarga. Sebelum menjadi hunian penduduk, kampung ini awalnya adalah hutan belantara. Konon di hutan ini terdapat sebuah pohon langka bernama pohon kinah gadung wulung.

Pohon ini dipercaya menyimpan sebuah pusaka yang memiliki kekuatan besar. Pihak keraton yang mengetahui hal tersebut, langsung mengirim utusan ke gunung api Purba untuk menjaga, membersihkan daerah sekitar pohon dan merawat pusaka yang berada di dalamnya.

Untuk mendapat orang terbaik, pihak keraton kemudian membuat sayembara untuk menentukan siapa yang akan berangkat ke Gunung Api Purba. Bagi siapapun yang sanggup melaksanakan tugas dari keraton, maka akan diberi tanah secukupnya untuk anak dan keturunannya. Pusaka tersebut menarik banyak orang untuk mendapatkannya.

Dari beberapa orang, hanya Eyang Ira Dikrama yang mampu menjalankan perintah dari Keraton. Eyang Ira Dikrama berhasil masuk hutan dan mengamankan pusaka yang berada di dalam pohon kinah gadung wulung, selanjutnya pusaka tersebut disimpan di Keraton Yogyakarta.

Setelah itu banyak empu dan orang sakti yang berdatangan ingin tinggal di daerah Tlogo, namun hanya tujuh orang yang mampu bertahan hidup. Jumlah kepala keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Pitu dari dahulu hingga sekarang tetap berjumlah tujuh, tidak kurang tidak pula lebih.

Apabila dari keturunan mereka sudah menikah dan ingin mendirikan rumah dan KK sendiri, maka harus keluar dari sekitar Padukuhan Tlogo. Walaupun tetap ingin tinggal di sekitar Tlogo, maka harus menunggu sampai ada kepala keluarga yang meninggal terlebih dahulu.

Menurut cerita, bila ada seorang warga Kampung Pitu yang mendirikan bangunan rumah dan jumlah KK lebih dari tujuh, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kepala keluarga sering sakit-sakitan atau tidak betah sehingga ingin pergi dari rumahnya.Keunikan ini yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Selain dengan mitosnya, Kampung Pitu juga menyuguhkan pemandangan yang indah. Wisatawan yang berkunjung ke kampung ini dapat menikmati sunrise yang syahdu, perjalanan ke Kampung Pitu juga tidak memakan waktu yang lama, karena perjalanannya dapat ditempuh menggunakan kendaraan.

Penggagas dan pendiri Ekowisata Desa Nglanggeran Sugeng Handoko di Gunung Kidul, mengatakan, dirinya dan masyarakat Desa Nglanggeran sangat terharu dan bersyukur menjadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2021.

“Sebuah desa kecil di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, yang dulu asing terdengar susah dieja diucapkan, Alhamdulillah kini menjadi sebuah desa yang mendapatkan apresiasi oleh badan pariwisata dunia UNWTO,” kata Sugeng Handoko, seperti ditulis antaranews.

Ia mengatakan, aktivitas pengembangan Desa Wisata Nglanggeran dinilai baik dalam hal pengembangan kepariwisataan dan terbukti dapat menjaga desa, lingkungan alam, budaya dan keharmonisan masyarakatnya termasuk gastronomi lokal menjadi berkembang. 

Sebanyak 44 desa dari 32 negara di lima wilayah dunia diberikan pengakuan pada tahun 2021. Semuanya menonjol karena sumber daya alam dan budayanya serta tindakan dan komitmen inovatif dan transformatifnya terhadap pengembangan pariwisata sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

“Kami juga mengajak pegiat desa wisata di Indonesia untuk semakin semangat dan optimistis berkarya dari desa, membangun Indonesia melalui pengembangan desa wisata. Mari kita libatkan anak-anak muda, penerus estafet kepemimpinan di desa, memegang tokoh kunci agar mudah melakukan koordinasi serta kerja sama yang apik karena pariwisata tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri,” katanya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN