Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Dody Budi Waluyo. Foto: IST

BI Pertahankan Suku Bunga Rendah Sampai Muncul Risiko Lonjakan Inflasi

Rabu, 26 Januari 2022 | 17:20 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia memastikan akan tetap mempertahankan suku bunga rendah hingga munculnya risiko lonjakan inflasi. Kebijakan ini juga untuk mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

“Kami akan mempertahankan suku bunga rendah sampai ada indikasi risiko inflasi,” ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo dalam diskusi Peluncuran Laporan Transparansi dan Akuntabilitas BI, Rabu (26/1).

Ia menjelaskan, apabila tidak ada risiko lonjakan inflasi di tahun ini, maka suku bunga acuan akan tetap di level sekarang, yakni 3,5%. “Kalau tidak ada indikasi, kami akan pertahankan suku bunga rendah,” tegas Dody.

Peningkatan inflasi yang terjadi di negara maju, kata Dody, merupakan scarring effect yang ditimbulkan pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lama. Pemulihan ini mendongkrak kegiatan ekonomi masyarakat yang kemudian mendorong peningkatan dari sisi permintaan, namun tidak diimbangi dari sisi suplai, sehingga mengganggu rantai pasok.

“Kita belum tahu, yang inflasi ini bersifat sementara atau bahkan permanen. Tidak ada yang tahu,” tuturnya.

Tak hanya itu, peningkatan inflasi yang tinggi di berbagai negara maju juga mulai mendorong normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara. Kebijakan ini akhirnya akan memberikan dampak bagi pasar keuangan negara berkembang.

Menurut Dody, kebijakan BI untuk menghadapi tapering tidak hanya melalui suku bunga acuan, tetapi menjaga stabilitas harga dan mendukung stabilitas sistem keuangan melalui kombinasi langkah-langkah kebijakan.

“Tidak hanya suku bunga, tetapi BI juga menjaga sisi likuiditas, aliran modal, nilai tukar, dan yang paling penting, dengan makroprudensial. Kami menempatkan kebijakan makroprudensial, tidak hanya untuk tujuan stabilitas keuangan saja, tetapi juga untuk mendukung stabilitas moneter, yaitu inflasi dan juga sistem keuangan itu sendiri,” tegasnya.

Yang keempat adalah BI 2022, yang akan mengarahkan seluruh bauran kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan.

Lebih lanjut, Dody mengatakan, bahwa arah kebijakan moneter BI masih tetap kuat yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dalam merespon suku bunga. Oleh karena itu, kebijakan yang akan ditempuh BI akan berdasarkan perkembangan data terkini dan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan perkembangan inflasi domestik.

“Jadi ini adalah pendekatan yang bergantung pada data, tetapi pada dasarnya kami tetap menganggap (faktor global) akan menjadi tekanan untuk tujuan kami, yaitu inflasi dan stabilitas nilai tukar,” tegasnya. Di sisi lain, Bank Indonesia juga akan tetap menjaga stabilitas rupiah, melalui triple intervention di pasar spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya normalisasi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berencana mempercepat kenaikan suku bunga acuan, berbagai risiko ini berpotensi memberikan tekanan di pasar keuangan domestik, khususnya aliran modal keluar yang akhirnya dapat menekan kinerja rupiah. Oleh karena itu, BI akan memastikan ketahanan eksternal domestik tetap terjaga mulai dari neraca pembayaran.

“Mengingat (risiko) ini akan menjadi spillover yang berasal dari normalisasi kebijakan moneter global. Ada satu masalah. Jadi kita akan menyeimbangkan bagaimana kita mengatur stabilitas nilai tukar,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dody mengatakan bahwa BI akan memantau perkembangan rencana kenaikan suku bunga The Fed dan memitigasi dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Pasalnya, dampaknya akan lebih terlihat pada kenaikan US Treasury (UST), alhasil akan mempengaruhi sisi eksternal Indonesia dalam hal arus dana asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Adapun apabila selisih yield UST dengan yield surat utang pemerintah semakin menipis, maka arus modal akan bergerak ke luar atau (capital outflow), sehingga berpotensi memberikan tekanan pada sisi nilai tukar rupiah.

“Saya harus katakan bahwa perbedaan yield US Treasury dan yield SBN dan masih sangat menarik bagi investor yang masih datang ke negara itu, hanya itu yang kami percaya. Sehingga kebijakan moneter akan kami padukan dengan kebijakan akomodatif dari makroprudensial akan terus memperkuat pemulihan,” kata Dody.

Meski demikian, Dody menegaskan bahwa sinergi Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas sistem keuangan akan ditempatkan secara logis. Lantaran saat ini pemerintah masih harus mempercepat vaksinasi dengan pembukaan sektor-sektor ekonomi.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN