Menu
Sign in
@ Contact
Search
Rasio utang pemerintah terhadap PDB

Rasio utang pemerintah terhadap PDB

Menkeu Tegaskan Utang Ditarik untuk Bantu Masyarakat Hadapi Pandemi Covid-19

Selasa, 22 Maret 2022 | 13:32 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan  utang yang ditarik pemerintah digunakan untuk menyelamatkan dan mensejahterakan masyarakat di tengah krisis pandemi Covid-19.

Ia menjelaskan bahwa pada saat awal pandemi Covid-19, APBN menjadi instrumen yang bekerja keras untuk mendukung pemulihan ekonomi dan mengendalikan pandemi Covid-19 melalui berbagai program.

Alhasil APBN menjadi tidak sehat karena belanja lebih besar dibandingkan penerimaan negara yang saat itu mengalami drop hingga 18 persen, sejalan dengan aktivitas dunia usah dan perekonomian terhenti akibat pembatasan mobilitas.

“Walaupun kita defisit, drop, kita masih bisa berutang tapi itu untuk menyelamatkan masyarakat, ekonomi dan sosial,” katanya dalam Economic Outlook di Jakarta, Selasa (22/3).

Di sisi lain, pemerintah melalui belanja negara justru harus menopang kebutuhan masyarakat yang mengalami ancaman kesehatan hingga terkena PHK melalui belanja negara.

“Maka walaupun instrumen APBN mengalami ancaman dia harus hadir untuk bisa menyetop tadi, ancaman selama Covid-19,  ini kalau tidak akan terjadi efek domino akan ambruk semua”ucapnya.

Hal itu yang melatarbelakangi pemerintah  melebarkan defisit dari yang tadinya maksimal 3 persen dari PDB kemudian diperbolehkan di atas 3 persen seiring adanya UU Nomor 2 Tahun 2020.

“Walaupun kita defisit dan drop tapi kita masih bisa berutang tapi untuk menyelamatkan masyarakat ekonomi dan sosial. Makanya kita mengatakan defisit kita bisa di atas 3 persen dan ini masih di bawah 60 persen total dari utang negara yang diperbolehkan UU keuangan negara,” ujar Sri Mulyani.

Ia menuturkan hasil dari penarikan utang untuk penanganan Covid-19,  seperti meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit, pembuatan tempat isolasi, penyediaan PCR, APD, ventilator serta vaksin.

Terlebih lagi, masyarakat terkena Covid-19 yang harus rawat inap di rumah sakit pun ditanggung biayanya oleh pemerintah hingga anggarannya mencapai sekitar Rp220 triliun. Tak hanya itu, pemerintah turut menyediakan bantalan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, bantuan langsung tunai, bantuan bagi pelaku UMKM, KUR, dan sebagainya.

“Ini tujuannya agar space masyarakat membesar, bantalan makin kuat tapi ada biayanya. Biayanya itu lah APBN, defisitnya naik dari tadinya kita ingin 1,76 persen melonjak jadi 6,1 persen kemudian 2021 sudah turun lagi,” jelasnya.

Kendati begitu, saat ini proses pemulihan ekonomi terus berjalan menguat sehingga penerimaan negara juga mulai meningkat. Alhasil  utang menjadi semakin rendah mengingat pemerintah dapat membayar utang.

 “Kita bisa mendapatkan penerimaan waktu ekonomi pulih, itu yang dipakai membayar utang. Ini menggambarkan APBN itu tools, saat dibutuhkan dia harus kerja keras. Saat dia mulai bisa sehat dia menyehatkan sendiri,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi utang Indonesia masih cukup rendah dibandingkan negara-negara anggota G20 baik dari sisi India sebagai emerging country hingga Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Jerman sebagai negara maju.

 “Mengenai utang 40 persen atau 41 persen (Indonesia), anggota G20 tidak ada utangnya serendah kita. Advance country seperti AS, Perancis, Inggris, Jerman semuanya sudah di atas 60 persen bahkan di atas 100 persen,” jelasnya.

Sebagai informasi, utang pemerintah hingga akhir Januari 2022 sebesar Rp6.919,15 triliun dengan rasio utang terhadap PDB turun menjadi 39,36 persen dibandingkan 41 persen pada Desember 2021 atau 40,28 persen pada Januari 2021.


 

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com