Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang dolar AS di antara mata uang rupiah di sebuah penukaran uang di Jakarta.  Foto:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Mata uang dolar AS di antara mata uang rupiah di sebuah penukaran uang di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rilis Data Inflasi AS Picu Rupiah Melemah Rp 14.585

Kamis, 12 Mei 2022 | 13:57 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia menyebut pergerakan rupiah pada Kamis siang (12/5/2022) terpantau melemah di posisi Rp 14.583 terhadap dolar. Hal ini disebabkan sentimen negatif global yang berasal dari rilis data inflasi Amerika Serikat semalam, kinerja inflasinya mencapai 8,3%.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menyatakan, sentimen penguatan USD masih akan berlanjut. Hal ini tercermin dari indeks dolar (DXY) masih menggambarkan nilai tukar USD terhadap mata uang lain menembus kembali pada level diatas 104.

“Hal ini didorong oleh kekhawatiran thd angka inflasi di US yg masih persisten tinggi. Angka inflasi US terkini (April'22) di 8,3% lebih tinggi dari ekspektasi 8,1%,” ucapnya kepada Investor Daily, Kamis (12/5/2022).

Baca juga: Menteri ESDM Resmikan PLTGU Riau

Secara umum mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap USD, kendati begitu, pelemahan rupiah dinilainya masih relatif terbatas dibandingkan beberapa mata uang negara dikawasan Asia. Relatif terbatasnya pelemahan rupiah, disokong oleh kontribusi suplai valas dari eksportir yang turut menyokong rupiah.

“BI tentu terus mengawal perkembangan nilai tukar Rupiah, dengan mengutamakan bekerjanya mekanisme pasar, dan akan berada di pasar apabila diperlukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” ujarnya.

Selain data inflasi AS, perkembangan di pasar keuangan global dalam beberapa kurun waktu terakhir banyak diwarnai oleh sentimen ‘risk off’, sebagai dampak dari masalah geopolitik Rusia - Ukraina, lebih agresifnya normalisasi kebijakan Moneter di beberapa negara khususnya negara maju, dan dampak lockdown terkait isu Covid di Tiongkok terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok.

Baca juga: Implementasi Smart Manufacturing Perlu Dilakukan Bertahap

Sementara terkait sentimen domestik, Edi meyakini kinerja ekonomi dalam negeri saat ini terus menunjukkan perbaikan sehingga menjadi sentimen positif bagi perkembangan rupiah dan untuk mendorong aliran modal asing masuk ke dalam negeri. Hal ini juga telah dikonfirmasinya oleh para investor yang menyebutkan merasa confidence atas kondisi ekonomi dalam negeri.

“Saya baru saja diskusi dengan beberapa pelaku investasi asing, dan mereka masih sangat confident terhadap ekonomi Indonesia, apalagi angka pertumbuhan ekonomi yg baru dirilis untuk kuartal I 2022 sebesar 5,01% yang ini di atas ekspektasi. Jadi yang terjadi ini lebih karena a bit nervous akibat faktor global,” pungkasnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN