Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam acara peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.38 pada Jumat, (13/5/2022).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam acara peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.38 pada Jumat, (13/5/2022).

BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,4%

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:28 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -- Bank Indonesia (BI) kembali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2022 menjadi 3,4% year on year (yoy) atau turun tipis dibandingkan perkiraan sebelumnya 3,5%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global tahun ini disebabkan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.

"Kondisi ekonomi global terutama sebagai dampak dari gangguan mata rantai pasokan global yang masih berlanjut saat ini telah mengurangi volume perdagangan global yang merupakan salah satu penggerak ekonomi global. Hal ini terjadi seiring ketegangan geopolitik terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina," ucap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (24/5/2022).

Baca Juga: Suku Bunga Acuan Tetap, Rupiah Terapresiasi

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di berbagai negara seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India berisiko lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Selain itu, faktor harga komoditas global yang meningkat termasuk energi, pangan, dan logam juga memberikan tekanan pada inflasi global, alhasil memicu percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju termasuk AS dan negara berkembang.

“Kondisi ini kemudian akan berdampak pada peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global yang kemudian mendorong terbatasnya aliran modal asing dan menekan perkembangan nilai tukar di berbagai negara termasuk Indonesia,” jelas Perry.

Sementara itu, ada juga faktor dari kebijakan Tiongkok yang mengimplementasikan kebijakan zero Covid-19 untuk menekan kasus Covid-19. Hal ini berimbas pada volume perdagangan ke berbagai negara ikut menurun.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN