Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petrokimia

Petrokimia

Rugikan Industri, Pembebasan BM Bahan Baku Plastik UEA Wajib Dievaluasi

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:13 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) melaksanakan perundingan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab (Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement /IUAE-CEPA). Dalam perundingan itu, UEA mengajukan opsi penurunan tarif bea masuk (BM), bahkan bisa 0% untuk bahan baku plastik dengan kode HS 39.

Hal itu wajib dievaluasi, karena dapat merugikan industri petrokimia nasional selaku produsen bahan baku plastik. Jika tarif BM bahan baku plastik mencapai 0%, impor produk itu dari UEA bakal membengkak 50%.

Advertisement

Pemerhati ekonomi dan industri Fauzi Aziz mengatakan, setiap perjanjian bilateral di bidang ekonomi dan perdagangan selalu cenderung bersifat win win. Artinya, jika ada indikasi merugikan Indonesia dan nilainya signifikan, sebaiknya pemerintah harus mengulur waktu.

“Misalnya dengan menunda pelaksanaannya yang menurut kita akan menekan pertumbuhan industri dalam negeri," ungkap Fauzi, Selasa (28/6/2022).

Mantan Dirjen IKM Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ini berpendapat, kerja sama perdagangan bebas tidak harus bicara trade, tetapi lebih pas jika dirancang membangun kolaborasi dalam kerja sama investasi. Adapun permintaan dari Indonesia adalah joint venture investasi di proyek substitusi impor. Jadi dasarnya adalah industrial cooperation antara UEA dan Indonesia.

"Kalau free trade seperti itu. Jadi, master agreement-nya adalah kerja sama investasi. Hasil dari kerja sama investasi adalah ekspor dan mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sebaiknya, strateginya diubah dari situ, lalu masuk isu local content dan yang belum diproduksi di dalam negeri bisa diberikan tarif 0%. Jujur, Indonesia butuh dana investasi dari UEA. Kalau joint venture pasti mereka mau," tukas Fauzi Aziz.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira mengatakan, klausul UEA agar Indonesia menurunkan tarif BM bahan baku plastik masih dapat dikaji dengan melihat sejumlah indikator. Jangan sampai hal ini bertentangan dengan rencana perluasan industri petrokimia di Indonesia.

Menurut dia, sejumlah klausul masih bisa dikaji lebih dalam, seperti ongkos produksi serta beberapa potensi kehilangan investasi, yang dinilai diperhitungkan secara hati-hati dalam perundingan dengan UEA.

Selain itu, kata Bhima, posisi tawar Indonesia untuk melobi UEA membangun pabrik petrokimia di Tanah Air sulit, karena negara tersebut memiliki sumber yang melimpah untuk industri tersebut.

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN