Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi anggaran. (Foto: Pixabay)

Ilustrasi anggaran. (Foto: Pixabay)

Penerimaan Moncer, Outlook Defisit Anggaran Susut Jadi 3,92%

Jumat, 1 Juli 2022 | 18:53 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini menyusut menjadi 3,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan penurunan yang hampir 1% dari target awal 4,85%. Defisit ini menurun signifikan ditopang oleh penerimaan pajak yang akan kembali melampaui target seperti tahun lalu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit akan dibawah 4% terhadap atau 3,92% terhadap PDB senilai Rp 732,2 triliun. Defisit yang sangat turun menggambarkan APBN jadi relatif lebih sehat dan kuat dan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi kondisi volatil di pasar keuangan dengan inflasi global dan kenaikan suku bunga.

Advertisement

"Yang paling penting dari outlook ini besaran defisit akan turun lebih dalam lagi tadinya kami sampaikan 4,85% terhadap PDB akan turun ke 4,5%, tapi sekarang akan turun lagi jadi 3,92%," ujarnya dalam Lapsem Banggar, Jumat (1/7/2022).

Baca juga: Program Pengungkapan Sukarela Berakhir, Setoran PPh Capai Rp 61,01 Triliun

Adapun defisit yang menurun lebih dalam disokong oleh penerimaan negara yang moncer imbas dari naiknya harga komoditas energi. Secara rinci, outlook pendapatan negara mencapai Rp 2.436,9 triliun atau 107,5% dari target dalam Perpres 98/2022 mencapai Rp 2.266,2 triliun.

Ia menyebut target pendapatan negara dalam Perpres 98/2022 telah dinaikkan hingga Rp 420,1 triliun, tetapi outlook-nya hingga akhir tahun masih akan tetap melebihi target.

Penerimaan pajak tahun ini juga diperkirakan tumbuh 25,8% (yoy) mencapai Rp 1.608,1 triliun atau 108,3% dari target dalam Perpres. Kemudian penerimaan kepabeanan dan cukai tahun ini diramal mencapai Rp 316,8 triliun, atau tumbuh 17,7% dari tahun lalu. Penerimaan ini juga akan melampaui target sebesar 105,9% dan outlook Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diperkirakan sebesar Rp 510,9 triliun atau tumbuh 11,4% dari tahun lalu.

Sementara, belanja negara pada tahun ini diperkirakan tembus Rp 3.169,1 triliun atau 102% dari target dan mengalami pertumbuhan 13,7% dibandingkan tahun lalu. Outlook belanja pemerintah pusat sebesar Rp 2.370 triliun atau mencapai 103% dari target.

"Kami akan dukung belanja negara khususnya belanja pemerintah pusat yang akan tumbuh 18,5% (yoy)," ucapnya.

Baca juga: BI: Pelemahan Rupiah Hanya Berlangsung Temporer  

Sementara untuk Belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) proyeksinya akan mencapai Rp 1.032,5 triliun atau mencapai 109,2% dari target dalam Perpres sebesar Rp 945,8 triliun, namun outlook ini lebih kecil secara tahunan atau year on year hingga 13,3%, untuk tetap mendukung realisasi belanja K/L pemerintah akan melakukan beberapa relaksasi untuk automatic adjustment.

"Outlook belanja K/L masih alami tekanan meskipun kami akan melakukan beberapa relaksasi automatic adjustment," tegasnya.

Sementara itu, belanja non K/L outlook-nya mencapai Rp 1.337,5 triliun atau setara 98,6% dari target dalam Perpres yang mencapai Rp 1.355,9 triliun dengan pertumbuhan secara tahunan (yoy) akan melonjak hingga 65,2%.

Baca juga: Inflasi Tahun Ini Bisa Naik hingga 4,5%

Dengan rincian komponen belanja non K/L meliputi outlook subsidi mencapai Rp 284,6 triliun atau 100,3% terhadap pagu dalam Perpres yang mencapai Rp 283,7 triliun dan secara yoy akan tumbuh 17,6%.

"Kompensasi BBM dan listrik outlook pertumbuhannya akan mencapai 512,7% (yoy) atau senilai Rp 293,5 triliun atau terealisasi 100% dari pagu. Jadi belanja negara tahun ini akan mencapai Rp 3.169,1 triliun ini jauh jauh lebih besar dari APBN awal hanya anggarkan Rp 2.714 triliun. Ini cerita memberikan selimut atau bantalan untuk melindungi masyarakat dari guncangan," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN