Menu
Sign in
@ Contact
Search
Para pembicara  talkshow Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)  Youth 20 (Y20) Indonesia 2022 Summit  di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/7/2022). Isu ketenagakerjaan kawula  muda  dan  implikasi bonus demografi terhadap keamanan sosial menjadi topik hangat yang dibahas dalam  talkshow tersebut. (Foto: Investor Daily)

Para pembicara talkshow Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Youth 20 (Y20) Indonesia 2022 Summit di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/7/2022). Isu ketenagakerjaan kawula muda dan implikasi bonus demografi terhadap keamanan sosial menjadi topik hangat yang dibahas dalam talkshow tersebut. (Foto: Investor Daily)

Isu Tenaga Kerja Kawula Muda dan Bonus Demografi Jadi Topik Hangat Y20 Summit

Senin, 18 Juli 2022 | 21:33 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor - Isu ketenagakerjaan kawula muda dan implikasi bonus demografi terhadap keamanan sosial menjadi topik hangat yang dibahas dalam talkshow Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Youth 20 (Y20) Indonesia 2022 Summit di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/7/2022).

Delegasi Y20 2022 dari Amerika Serikat (AS), John Dominguez mengatakan, agar bonus demografi mendatangkan manfaat maksimal, negara yang tengah menyambut bonus demografi harus mempersiapkannya dengan baik. Dengan demikian, kawula muda akan terhindar dari kesenjangan lapangan kerja dan hambatan kewirausahaan.

“Bila dimanfaatkan dengan baik, bonus demografi akan menambah pemasukan negara, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujar John.

Menurut Co-Chair T20 Taskforce Inequality, Human Capital, and Well-being, Vivi Alatas, untuk memanfaatkan momentum bonus demografi di tengah pandemi Covid-19, pemerintah perlu mengeluarkan anggaran yang lebih besar dan lebih bijak untuk perlindungan sosial.

“Kita belajar dari sejarah, misalnya bagaimana krisis energi, penyakit, dan makanan bisa memberi dampak luar biasa terhadap seluruh negara. Tidak ada yang kebal terhadap krisis-krisis ini,” tegas Vivi.

Dia menjelaskan, beberapa tahun sebelum pandemi terjadi 18.000 bencana alam di seluruh dunia dengan kerugian US$ 16 miliar. Hal ini membuat banyak orang keluar-masuk garis kemiskinan. Setidaknya setiap tahun ada 15% masyarakat miskin baru di dunia.

Vivi menilai, angka kemiskinan itu juga turut disebabkan adanya kerentanan pada kelompok perempuan dan pemuda. Sebab, ada perbedaan pada partisipasi kerja dalam angkatan kerja Indonesia. Kedua kelompok itu termasuk yang paling rentan.

“Dari sisi bonus demografi, apabila kita ingin mengambil bonus demografi itu sebagai suatu yang bermanfaat, kita harus maksimalkan potensi generasi muda. Selain itu, perlindungan sosial menjadi sangat penting agar kita bisa membantu para pemuda untuk mencegah, memitigasi, dan tangguh menangani guncangan,” papar dia.

Tiga Pilar

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury mengatakan, banyak hal yang lebih cepat berubah setelah pandemi, termasuk dalam hal ketenagakerjaan pemuda. Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, ia membuat tiga pilar yang perlu diperhatikan banyak pihak.

Pertama, kata Pahala, adalah pentingnya digitalisasi yang mencakup pengembangan media. Semua negara, termasuk Indonesia, perlu bisa mengembangkan kemampuan terkait hal ini. Sektor media dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi sangat penting.

“Kita harus bisa mengembangkan keterampilan pemuda Indonesia supaya mereka bisa mengambil kesempatan. Kawula muda harus menjadikan ini kesempatan, bukan hanya bagi pebisnis, tapi juga pemuda, agar bisa berpartisipasi aktif,” tegas dia.

Kedua, menurut Pahala Mansury, adalah yang terkait dengan sektor energi terbarukan. Juga sektor-sektor lainnya, seperti pertambangan, energi, dan pertanian. Saat ini hampir seluruh dunia menghadapi tantangan krisis energi, khususnya dari sektor energi terbarukan. Hal yang sama muncul di sektor pertanian, khususnya pangan.

“Yang harus dilakukan yaitu bagaimana kita mengembangkan teknologi yang mendukungnya. Indonesia juga melihat tantangan yang sama. Kami ingin para pemuda lebih bisa mengembangkan kemampuan dan pengetahuan. Bukan hanya untuk mengembangkan sektor ini dengan pola pikir tradisional, tapi dengan cara yang lebih berorientasi masa depan,” tandas Pahala.

Dia mengemukakan, salah satu pengembangan yang berorientasi masa depan adalah mengembangkan baterai atau penyimpanan energi. Dalam hal ini, Indonesia bisa berpartisipasi pada sektor energi yang akan menjadi sektor masa depan.

Pahala Mansury optimistis Indonesia bisa menjadi salah satu pusat pemasok baterai karena memiliki sektor pertambangan mineral yang mendukung. Sisanya adalah tugas banyak pihak, termasuk para pemuda, untuk memperdalam rantai nilai dan sektor industri di Indonesia yang berorientasi teknologi masa depan.

Pahala menegaskan, penting bagi negara ini untuk memikirkan cara mengembangkan sumber daya manusia (SDM), khususnya dari segi pendidikan kejuruan, pendidikan teknis yang memungkinkan para pemuda memasuki dunia kerja profesional.

Pilar ketiga, kata Pahala, yaitu mengembangkan kewirausahaan. Masa depan Indonesia tidak akan bisa bertahan bila hanya mengembangkan pekerja saja. “Di pilar ketiga ini, kita bisa kembangkan pendidikan yang menekankan pentingnya keterampilan wirausaha bagi para pemuda. Para pelaku ekonomi di seluruh dunia akan melakukan strategi serupa,” ujar dia. (C02)

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com