Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu

BKF Prediksi Defisit APBN 2022 Lebih Kecil dari 3,92% terhadap PDB

Senin, 8 Agustus 2022 | 13:43 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu memperkirakan, defisit APBN 2022 akan lebih kecil dari outlook pemerintah pada saat ini sebesar 3,92% PDB atau Rp 732,2 triliun.

Keyakinan defisit yang lebih rendah didukung oleh kinerja ekonomi yang membaik serta kinerja APBN hingga Juli terpantau masih mengalami surplus Rp 106,1 triliun atau 0,57% terhadap PDB.

"Dari awal defisit anggaran didesain 4,85% terhadap PDB defisit, dan terakhir kami bahas dengan DPR (Perpres 98/2022) bahwa tingkat defisit bisa lebih rendah di 3,92% terhadap PDB  bahkan ada ruang bagi kita untuk menjaga ini bahkan bisa (defisit APBN) lebih rendah lagi sampai ke akhir tahun 2022," katanya, Senin (8/8/2022).

Baca juga: BBM hingga Detergen bakal Kena Cukai? BKF: Tidak Tergesa-gesa

Febrio mengatakan, APBN telah bekerja keras sebagai shock absorber sejak tahun 2020 hingga 2022 di tengah tekanan pandemi Covid-19 melalui berbagai program untuk melindungi daya beli masyarakat. Bahkan pemerintah juga menggelontorkan dana sekitar Rp 500 triliun untuk subsidi dan kompensasi untuk meredam naiknya harga energi.

Alhasil, lanjut dia, defisitnya melebar. Namun disaat yang sama pemerintah juga perlu melakukan langkah-langkah konsolidasi fiskal harus  untuk menyehatkan APBN walaupun dengan tetap hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak pada perekonomian.

"Ini kami harapkan jadi disiplin fiskal bagaimana pemerintah mengelola fiskal kedepan," ucapnya.

Baca juga: BKF Kaji Cukai atas Detergen, BBM hingga Ban Karet

Adapun surplus keuangan negara hingga Juli disokong oleh pendapatan negara meningkat lebih besar dibandingkan belanja negara dengan rincian pendapatan negara Rp 1.551 triliun atau tumbuh 21,2% (yoy)sedangkan belanja negara hanya tumbuh 13,7% (yoy) atau setara Rp1.444,8 triliun.

Oleh karena itu, Kemenkeu akan terus memantau berbagai perkembangan terkini mengingat saat ini harga komoditas mulai mengalami pelandaian untuk itu pemerintah berharap pendapatan negara dapat terus tumbuh kuat dan belanja negara digunakan seefisien mungkin menggunakan skema spending better dan berkualitas.

"Untuk melakukan proyeksi pemerintah itu konservatif dalam konteks penerimaan negara sebab kenaikan harga komoditas. Saat ini kami melihat arah pendapatan negara untuk kemudian menghasilkan defisit di tahun 2022 3,92% terhadap PDB itu perhitungan yang relatif konservatif jadi kami yakin ini bagian disiplin fiskal yang harus ekstra hati-hati," tegasnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com