Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat meninjau War Room Pertamina Hulu Rokan, Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022). (Foto: Primus Dorimulu)

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat meninjau War Room Pertamina Hulu Rokan, Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022). (Foto: Primus Dorimulu)

Pertamina Berkontribusi 60% Produksi Minyak Mentah Indonesia

Senin, 8 Agustus 2022 | 15:13 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id) ,Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

PEKANBARU, investor.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan, mayoritas produksi minyak mentah Indonesia berasal dari wilayah kerja (WK) yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero).

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, sangat banyak WK yang sudah beralih pengelolaan ke Pertamina. Keberhasilan Pertamina mengelola WK tersebut membuat produksi minyak bumi dari total produksi nasional lebih dari 60%.

"Kalau kita bicara minyak sekarang ini sudah di atas 60%, mungkin 65-67% produksi minyak nasional sudah di Pertamina. Jadi itu meningkat sangat pesat sesuai cita-cita zaman dahulu. Ketika saya baru masuk (jadi dirut Pertamina] itu baru 24% produksi minyak nasional ada di Pertamina. Kami sangat senang peningkatannya sudah sangat panjang," kata Dwi di Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022).

Baca juga: Dalam Setahun Operasi, Pertamina Hulu Rokan Mampu Tingkatkan Produksi Minyak

Dwi menuturkan, sikap Indonesia dalam pengelolaan minyak dan gas bumi berbeda dengan negara-negara lain. Sebab Indonesia berani menetapkan target produksi minyak bumi 1 juta barel per hari dan gas bumi sebanyak 12 billion cubic feet per hari di 2030. Sedangkan negara-negara lain ‘hening’ dalam pengelolaan migas di tengah isu transisi energi.

Salah satu rig di Lapangan Minyak Duri, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Riau. Dalam setahun beroperasi, PHR membangun 21 rig dan pada akhir 2022 akan mencapai 27 rig.  Pada periode yg sama, PHR mengebor 370 sumur, meningkat dari 105 sumur setahun sebelumnya. PHR memproduksi minyak 161.000 bpd, 30% dari produksi Subholding Upatream Pertamina atau 26% produksi minyak mentah nasional. (Foto: Primus Dorimulu)
Salah satu rig di Lapangan Minyak Duri, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Riau. Dalam setahun beroperasi, PHR membangun 21 rig dan pada akhir 2022 akan mencapai 27 rig. Pada periode yg sama, PHR mengebor 370 sumur, meningkat dari 105 sumur setahun sebelumnya. PHR memproduksi minyak 161.000 bpd, 30% dari produksi Subholding Upatream Pertamina atau 26% produksi minyak mentah nasional. (Foto: Primus Dorimulu)

Dikatakannya, target 1 juta barel tersebut di situasi penurunan laju alamiah (decline) yang sudah berlangsung lebih dari 20 tahun di Indonesia. Alhasil, muncul paradigma penurunan produksi alamiah itu sebuah kenormalan.

Baca juga: Pertamina Jaring Putra-Putri Riau Jadi Karyawan di PHR WK Rokan

"Kita sepakat menetapkan target cita-cita untuk incline (naik produksi), hari ini jujur kita dalam posisi stress struggle untuk menahan decline, bagaimana untuk incline itu karena 2030 sudah dekat. Kalau kita kehilangan momentum, kita lebih berat lagi mengangkatnya," ujarnya.

WK Rokan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan Pertamina pasca alih kelola. Peningkatan produksi migas dari rata-rata 158,7 MBOPD sebelum alih kelola menjadi 161 MBOPD saat ini. Volume cadangan pun meningkat dari 320,1 MMBOE pada awal transisi menjadi 370,2 MMBOE setelah satu tahun alih kelola.

Produksi sumur minyak Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Produksi sumur minyak Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Sementara itu, data di atas menunjukkan, produksi sumur lama (warna biru) terus menurun. Pada Januari 2022 sebesar 140.800 bpd. Dari ke bulan terus menurun dan tinggal 123.300 bpd pada Juli 2022. Di akhir tahun, sumur lama hanya menghasilkan sekitar 109.100 bpd atau turun 31.700 bpd.

Jika tidak ada upaya lain, produksi minyak PHR akan terus menurun. Sebaliknya, upaya memaksimalkan produksi sumur tua dan sumur baru (warna hijau tua) menunjukkan peningkatan. Pada Januari 2022, sumur baru sudah memproduksi 13.000 bpd. Sedangkan upaya memaksimalkan sumur lama belum memperlihatkan hasil yang signifikan.

Dengan demikian, kenaikan produksi minyak PHR dari 157.100 bpd pada Januari 2022 menjadi 161.000 bpd pada Juli 2022 adalah sebuah upaya sistematis dan all out dari PHR.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com