Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi grafik inflasi.

Ilustrasi grafik inflasi.

Kapan Inflasi Global Mulai Turun?

Senin, 8 Agustus 2022 | 18:00 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Ekonom BRI Anton Hendranata memproyeksi inflasi global akan mulai menurun pada kuartal IV-2022. Oleh karena itu, pemerintah masih perlu terus mengamati dan mewaspadai berbagai perkembangan, mengingat puncak inflasi global akan terjadi kuartal III kemudian menurun hingga akhir tahun ini.

"Harus diakui tingkat inflasi global masih terus meningkat. Mudah-mudahan diperkirakan inflasi itu akan mulai menurun pada kuartal IV-2022, puncaknya kemungkinan besar ada di kuartal III-2022 di tingkat global, kemudian melambat sampai akhir tahun. Begitu juga inflasi inti, trennya serupa, namun demikian kita harus waspada, inflasi saat ini di di situasi upnormal," ucapnya dalam diskusi Taklimat Media, Senin(8/8).

Ia menjelaskan bahwa tensi geopolitik Rusia-Ukraina mendorong ketidakpastian global semakin meningkat, alhasil mendorong terganggunya rantai pasok perdagangan global dan memicu lonjakan inflasi di berbagai negara. Kendati begitu, saat ini harga komoditas terutama pangan dinilainya sudah relatif menurun.

Aktivitas Ekonomi RRT Mulai Pulih
Inflasi global, lanjut Anton, disebabkan sisi suplai yang meningkat tinggi namun tidak diimbangi dengan sisi demand.

"Ini terlihat dari inflasi di negara maju, di mana faktor supply 66% dan sisanya dari demand 33,75%. Ini pola yang sama di negara berkembang. Kalau dilihat, kontribusi supply driven inflation terus meningkat akibat perang Rusia-Ukraina, ini menyebabkan cost of input harga komoditas meningkat. Tekanan di perekonomian global akibat supply shock ini semakin nyata di kuartal II tahun ini," tuturnya.

Menurut Anton, berdasarkan survei dari Mc Kinsey & Co pada Juni 2022, inflasi merupakan faktor utama kekhawatiran pelaku usaha di dunia, sekitar 50% responden. Sedangkan kekhawatiran ekonomi akibat konflik Rusia-Ukraina menunjukkan penurunan, begitu juga disrupsi rantai pasok, karena aktivitas ekonomi Tiongkok sudah mulai kembali pulih.

"Ada hal menarik kalau melihat kondisi perekonomian saat ini. ternyata, pelaku usaha di dunia saat ini lebih khawatir tentang tingginya inflasi dibandingkan stabilitas politik dan rantai pasok. Ini dari survei  McKinsey yang dilakukan pada 899 perusahaan di dunia. Akibat tingginya inflasi yang semakin nyata, bahkan pertumbuhan real wage pekerja menurun baik di Jepang, Inggris, AS, dan Jerman," tandasnya. 

Dampak lebih lanjut dari lonjakan inflasi terjadi pada arah kebijakan moneter yang lebih agresif dan ketat di banyak negara. Hal ini digunakan untuk meredam lonjakan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Dampak inflasi yang tinggi mulai terasa pada penurunan pertumbuhan upah riil pekerja di berbagai negara. Ini berpotensi menurunkan daya beli," ucapnya.

Inflasi AS sudah menyentuh 9,1% (yoy) Juni lalu, padahal normalnya inflasi Negeri Paman Sam di kisaran 2-2,5%. Lonjakam inflasi juga terjadi di Eropa, inflasinya sudah mencapai 8,6%. Begitu pula inflasi Jepang tembus 2,3% dan Singapura 6,7%.

"Tingginya inflasi menyebabkan bank sentral di banyak negara mengetatkan kebijakan moneter. Ini menjadi pertanyaan besar, kebijakan moneter saat ini saya kira bukan obat yang pas, karena tingginya inflasi itu karena faktor supply, bukan demand. Kalau masalahnya sisi demand, (pengetatan dari) sisi moneter akan efektif," ucapnya.

Adapun hingga saat ini Bank Sentral AS (The Fed) telah menaikkan suku bunganya secara agresif sebesar 225 bps, menjadi 2,25%-2,5%. Kenaikan suku bunga The Fed ini pun direspons oleh banyak negara.

Negara berkembang yang ketahanan eksternalnya rapuh ikut menaikkan suku bunga acuannya. Contohnya Sri Lanka sudah menaikkan suku bunganya  950 bps, Pakistan 525 bps, Kazakhstan 425 bps, India 90 bps, dan Malaysia 50 bps.

 "Mereka (negara berkembang) yang ketahanan eksternalnya rapuh memilih menaikkan suku bunga lebih agresif, supaya tidak ada capital outflow," tuturnya.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com