Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Jokowi Minta Sri Mulyani Stress Test APBN

Selasa, 9 Agustus 2022 | 09:47 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkanPresiden Joko Widodo (Jokowi) memintanya untuk melakukan uji ketahanan atau stress test terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2023 dengan skenario apabila kondisi ekonomi global tak kunjung membaik.

"Untuk tahun ini, Presiden meminta untuk dari sisi APBN membuat simulasi stress test, kalau seandainya kondisi global dalam situasi yang tidak membaik," ujarnya dalam konferensi pers usai sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/8/2022).

Baca juga: RAPBN 2023 Tetap Dirancang Fleksibel untuk Redam Guncangan Global

Sebagai informasi, stress test bertujuan untuk mengukur ketahanan sebuah sistem keuangan dalam menghadapi skenario ekonomi terburuk. Melalui simulasi ini diharapkan APBN dapat memitigasi berbagai risiko yang masih dihadapi tahun depan serta dapat membuat APBN tahun 2023 tetap terjaga dan berkelanjutan di tengah tekanan global.

"Ini yang sedang terus kami finalkan. Tadi kami membuat beberapa skenario mengenai kondisi tahun depan apabila gejolak akan berlangsung lebih besar dari yang kami asumsikan," kata Sri Mulyani.

Lebih lanjut, Menkeu mengatakan, RAPBN 2023 dirancang untuk mampu bertahan di tengah guncangan perekonomian global dan gejolak ketidakpastian yang sangat tinggi.

Disamping itu, Presiden Jokowi juga meminta APBN bisa dijaga tetap kredibel, berkelanjutan, dan sehat. "Oleh karena itu, APBN 2023 harus didesain untuk bisa mampu tetap menjaga fleksibilitas dalam mengelola gejolak yang terjadi, ini kita sering menyebutnya sebagai shock absorber," tutup Bendahara Negara itu.

Sri Mulyani menjelaskan, Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen di tahun ini.

Lembaga ini pun memproyeksikan pelemahan ekonomi masih akan berlanjut di tahun depan. IMF memperkirakan ekonomi global hanya akan tumbuh 2,9 persen di 2023 mendatang. “Ini artinya bahwa lingkungan global kita akan menjadi melemah, sementara tekanan inflasi justru meningkat,” ungkap dia.

Baca juga: BKF Prediksi Defisit APBN 2022 Lebih Kecil dari 3,92% terhadap PDB

Adapun IMF memperkirakan inflasi global akan naik mencapai 6,6 persen di negara-negara maju dan 9,5 persen di negara-negara berkembang pada 2022.

Lonjakan inflasi yang sangat tinggi di negara maju tersebut, telah memicu pengetatan kebijakan moneter dan likuiditas, yang memacu keluarnya aliran modal asing (capital outflow) dan volatilitas di sektor keuangan.

Oleh sebab itu, untuk mengantisipasinya, pemerintah akan meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) agar kebijakan fiskal dan moneter bisa sejalan dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional.

“Inilah yang harus kita terus kelola di dalam negeri. Kami bersama Pak Gubernur BI terus meramu kebijakan fiskal dan moneter secara fleksibel, namun juga pada saat yang sama efektif dan kredibel. Karena ini adalah suatu persoalan yang kombinasi kebijakan fiskal maupun moneter bekerja sama dengan kebijakan struktural,” tutupnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com