Menu
Sign in
@ Contact
Search
Aktivitas pengisian BBM di SPBU Coco Pertamina, Tangerang. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Aktivitas pengisian BBM di SPBU Coco Pertamina, Tangerang. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Inflasi Bisa 7% jika Harga BBM Bersubsidi Naik

Kamis, 1 September 2022 | 23:14 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan, dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan mengerek inflasi hingga 7%. Sebab kenaikan BBM bersubsidi bisa memiliki efek domino ke harga komoditas lainnya.

“Prediksi saya akan mempengaruhi inflasi umum, bukan hanya 4% tetapi 6% sampai 7% kalau harga BBM naik. Kalau BBM naik bisa di atas 6% dengan catatan harga Pertalite di harga Rp 10.000. Kalau BBM bersubsidi tidak naik, maka inflasi di kisaran 4,5% sampai 5%,” ucap Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad kepada Investor Daily, Kamis (1/9/2022).

Dia mengatakan, bila harga BBM naik, maka akan berdampak ke kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau hingga transportasi. Dalam hal ini akan terjadi kenaikan biaya logistik secara signifikan.

Baca juga: Ini Komoditas Penyumbang Deflasi 0,21% di Agustus 2022

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi deflasi sebesar 0,21% pada Agustus 2022. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2022 sebesar 3,63% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2022 terhadap Agustus 2021) sebesar 4,69%. Deflasi terjadi karena penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau (-1,80%); serta transportasi (-0,08).

“Saya kira penurunan ini bersifat temporer karena trennya di musim berikutnya karena komoditas yang menyebabkan deflasi adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit kan yang sifatnya bergejolak. Saat ada perubahan musim maka akan naik lagi, jadi sifatnya sangat temporer,” kata Tauhid.

Apalagi kondisi inflasi inti tahun ke tahun sudah menyentuh angka 3,04% pada Agustus 2022. Hal ini menunjukan tingginya daya beli di masyarakat sehingga terjadi kenaikan inflasi inti. Tingginya inflasi juga berdampak pada langkah Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan.

Baca juga: Soal Kenaikan Harga BBM, Jokowi: Masih Proses Hitung

“Saya kira karena inflasi inti ini makanya BI ahead the curve artinya membuat uang beredar turun dan mengurangi ekspektasi inflasi dengan menaikan suku bunga acuan. Jadi ini (harus) diantisipas karena kalau enggak akan cenderung tinggi,” kata Tauhid.

Sedangkan inflasi harga komoditas bergejolak tahun ke tahun sudah mencapai 8,93% pada Agustus 2022. Tauhid menilai bila terjadi inflasi bahan makanan lebih tinggi dari inflasi umum maka ada masalah besar dari bahan makanan. Bisa saja terjadi masalah dalam pengendalian harga bahan pangan.

“Harusnya menjaga bukan hanya tersedia tetapi harganya terjangkau. Hal ini yang saya kira mulai diperhatikan terutama beras, bahan makanan, tepung dan gandum,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com