Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pabrik petrokimia Chandra Asri di Cilegon, Banten. (IST)

Pabrik petrokimia Chandra Asri di Cilegon, Banten. (IST)

Jaga Ekonomi RI, Industri Petrokimia Bertekad Subtitusi Impor

Senin, 26 September 2022 | 15:06 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Industri petrokimia nasional bertekad melakukan substitusi priduk impor melalui penambahan investasi bernilai fantastis. Hal ini bisa menghemat devisa impor, menambah daya saing industri petrokimia nasional, dan menjaga ekonomi Indonesia. 

Saat ini, berdasarkan data Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, danPlastiklndonesia (Inaplas) menunjukkan, impor produk petrokimia hulu, seperti polipropilena (PP), polivinil klorida (PVC), polietilena (PE), dan polistirena (PS) hampir mencapai 6 juta ton. Adapun industri dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 30% permintaan domestik.

Ketua Inaplas, Suhat Miyarso mengatakan, sebetulnya sejumlah proyek baru petrokimia sekarang ini ditujukan untuk subtitusi impor. Artinya, selama proyek itu belum selesai, Indonesia terpaksa harus impor, karena pertumbuhan di petrokimia hilir itu cukup besar dan belum bisa dipenuhi. 

Dia menyatakan, substitusi impor petrokimia harus bertahap,  karena pertama volumenya masih besar, berkisar 40-50% terhadap total pasar domestik. Kemudian, untuk membangun industri petrokimia, perlu waktu lama, sekitar lima tahu.. Ini tetap harus dijadikan pedoman pembangunan industri petrokimia yang tak bisa instan.

“Kebutuhan petrokimia dalam negeri perlu segera dipenuhi. Jika terus mengandalkan impor, harga produk olahan atau produk turunan dari petrokimia akan semakin tinggi. Indonesia pun dapat selamanya mengandalkan impor, yang akan terus menggerus devisa,” ungkap Suhat di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Lebih lanjut dia mengatakan, pendirian pabrik-pabrik petrokimia memberikan angin segar untuk perkembangan ekonomi dalam negeri. Dengan peningkatan jumlah produksi petrokimia di Indonesia, nilai volume impor produk petrokimia akan menurun.

“Di samping itu, industri petrokimia adalah sektor yang padat karya yang menyerap tenaga kerja cukup tinggi. Sebagai gambaran, satu pendirian pabrik petrokimia baru dapat menyerap 25 ribu lebih tenaga kerja, termasuk tenaga kerja ahli. Efek berkesinambungan yang positif ini tentunya akan mendorong perekonomian di Indonesia,” tukas dia.

Di tempat yang sama, Sekertaris Jendera Inaplas Fajar Budiono mengatakan, substitusi impor terkait dengan permintaan dan penawaran. Contoh, impor produk plastik dengan nomor HS 3901 sampai 3907 mencapai 50% dari kebutuhan dalam negeri 7,4 juta ton. Namun, dengan adanya proyek  CAP 2 milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang akan jalan di 2026, Lotte, dan lainnya, impor produk ini bisa ditekan.

“Bahkan, kemungkinan kita bisa ekspor produk itu tahun 2029,” kata dia.

Menurut dia, pengembangan industri petrokimia merupakan perjalanan panjang. Meskipun demikian, pendirian pabrik baru Chandra Asri di Cilegon merupakan salah satu tonggak kokoh untuk pengembangan industri petrokimia yang memunculkan harapan cerah bagi industri-industri dalam negeri lainnya.

Ke depan, dia menyatakan, Indonesia tak perlu lagi bergantung pada produk petrokimia impor. Bahkan, Indonesia bisa tidak lagi menjadi pasar, melainkan produsen petrokimia yang diakui dunia.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com