Menu
Sign in
@ Contact
Search
Produksi timah PT Timah Tbk (TINS). (Foto: Perseroan)

Produksi timah PT Timah Tbk (TINS). (Foto: Perseroan)

Kebijakan Larangan Ekspor dan Hilirisasi Timah Dinilai Tak Tepat

Rabu, 28 September 2022 | 23:25 WIB
Rangga Prakoso dan Euis Rita Hartati (redaksi@investor.id)

JAKARTA,ID – Pemerintah diminta hati-hati dan mempertimbangkan banyak hal sebelum memberlakukan kebijakan larangan ekspor dan hilirisasi komoditas timah. Saat ini dinilai bukanlah waktu yang tepat untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

“Kalau kondisi makro masi belum berubah. Perang dan juga inflasi tidak teratasi, sebentar lagi atau sekarang saja banyak negara mengalami resesi. Apakah tepat untuk memaksakan investasi yang nilainya signifikan di masa seperti ini?,” kata Sekjen Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Jabin Sufianto kepada Investor Daily, di Jakarta.

Wacana larangan ekspor timah mengemuka saat Presiden Jokowi mengungkapkannya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2022, Rabu (7/9) lalu. "Tahun ini, stop (ekspor) timah. Tahun depan bauksit, ke depannya lagi, tembaga," ujar Presiden.

Hal ini dipertegas kembali oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif yang menyebutkan bahwa yang akan dilarang adalah jenis timah di bawah timah Ingot. "Turunannya Ingot, masih ada turunannya lagi," terang Menteri Arifin di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/9).

Arifn mengatakan, pelarangan kegiatan ekspor timah akan dijalankan segera. Pelarangan ekspor itu berlaku supaya kegiatan hilirisasi timah bisa berjalan demi keuntungan negara yang lebih besar. Arifin menyebutkan bahwa hilirisasi memang harus dipaksakan supaya Indonesia memiliki nilai tambah lebih dalam ekspor mineral khususnya timah. "Dulu kita apa-apa juga tidak siap. Disuruh jadi siap," tandasnya,

Dalam dokumen Kajian Dampak Larangan Ekspor Timah Ingot yang dikeluarkan oleh AETI, pelaku usaha mempertanyakan jenis komoditas yang dilarang, apakah bijih timah ataukah logam timah atau ingot. Pasalnya, selama ini timah Indonesia sudah tidak diekspor dalam bentuk bijih (raw material), melainkan dalam bentuk ingot atau timah murni batangan Sn min 99,9% dan produk turunan lainnya.

Menurut Jabin, ide hilirisasi jika bisa dicapai akan sangat fantastis. Namun, kata dia, jika kalau melihat belum adanya roadmap yang konkret dan juga waktu yang diberikan sangat singkat yakni tahun ini, kalangan pelaku usaha sangat cemas mengenai keberlangsungan usaha.

“Kami di pertimahan sudah lengkap dan mengekspor barang timah batangan murni 99.9-99.99% Sn. Ini sudah produk final yang bisa dicapai untuk kami penambang/ smelter. Apakah kami penambang wajib juga dipaksa untuk buat pabrik solder atau turunan lain nya timah? Terus terang kami tidak ada keahlian di bidang itu,” papar Jabin yang juga Ketua Pokja Hilirisasi Minerba.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Ristek dan Inovasi yang juga menjabat sebagai (PJS) Wakil Ketua Umum Bidang ESDM Kadin Indonesia Carmelita Hartoto mengatakan, hilirisasi timah harus dilakukan secara bertahap sebelum pemerintah memutuskan pelarangan tersebut. Pasalnya, dia mengemukakan Indonesia saat ini menjadi eksportir logam timah terbesar di dunia.

Tercatat, ekspor logam timah Indonesia pada tahun 2021 menembus 74 ribu ton, naik dibandingkan tahun 2020 yang hanya mencapai 65 ribu ton. Sementara untuk serapan domestik atau dalam negeri logam timah hanya mencapai 5% dari produksi timah secara nasional. Dalam 10 tahun terakhir transaksi perdagangan timah domestik naik dari 900 ton ke 3.500 ton.

Sementara itu, PT Timah Tbk menegaskan ekspor yang dilakukan sudah dalam bentuk logam dengan kadar minimal 99,9 persen. Perusahaan timah plat merah itu pun mengaku turut memberi masukan dalam focus discussion group (FGD) yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar mengatakan produk timah yang dijual dalam dan luar negeri dalam bentul logam, bukan bijih timah. "Kami memang tidak pernah ekspor bijih timah. Yang kami jual baik ekspor maupun suplai dalam negeri, dalam bentuk logam timah dengan kadar Sn minimal sebesar 99,9%," kata Abdullah kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (27/9).

PT Timah pun memiliki anak perusahaan yang mengembangkan produk hilir timah seperti tin chemical dan tin solder. Anak usaha itu bernama PT Timah Industri yang terletak di Cilegon, Banten. Adapun kapasitas pabrik tersebut yakni 10 ribu ton tin chemical per tahun dan 4.000 ton tin solder per tahun.

PT Timah juga telah memiliki fasilitas pengolahan mineral (smelter) timah. Fasilitas tersebut kini ditingkatkan dengan mengadopsi teknologi baru. Proses pengerjaan project TSL Ausmelt Furnace melibatkan PT Wijaya Karya (Wika) Tbk dan Outotec Pty Ltd. Proyek ini dibangun di kawasan Unit Metalurgi Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Teknologi TSL Ausmelt merupakan babak baru transformasi teknologi dalam pengolahan timah yang mampu menekan biaya produksi. Selain itu proses peleburan lebih baik dengan waktu singkat sehingga kapasitas lebih tinggi. Smelter eksisting berkapasitas 30 ribu crude tin per tahun. Dengan ausmelt kapasitas meningkat menjadi 40 ribu crude tin per tahun. Teknologi Ausmelt pun lebih ramah lingkungan dan mudah pengoperasian lantaran secara otomasi dengan proses control system.

Adapun pembangunan proyek smelter ausmelt ini dimulai pada awal 2020 silam. Proyek dengan investasi sebesar US$ 80 juta itu menggunakan skema pendanaan Export Credit Agency (ECA) dengan Finvera dari Finlandia dan Indonesia Exim Bank.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com