Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Rupiah Bergejolak, Ini Harapan Kadin kepada Otoritas Moneter dan Fiskal

Senin, 3 Oktober 2022 | 23:28 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Di tengah kurs rupiah yang sedang bergejolak, Kadin Indonesia memiliki sejumlah harapan terhadap Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter dan Kementerian Keuangan selaku otoritas fiskal.

"Kadin Indonesia berharap BI dapat memperdalam pasar keuangan terutama valas untuk mengurangi tekanan terhadap inflasi. Selain itu, BI segera menerbitkan instrumen-instrumen keuangan (operasi pasar) sebagai alternatif investasi untuk devisa hasil ekspor di luar produk perbankan,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid kepada Investor Daily, Minggu (2/10/2022).

Dari sisi fiskal, lanjut Arsjad, Kementerian Keuangan diharapkan hati-hati menjaga pergerakan asumsi makro ekonomi sesuai target hingga akhir tahun, karena indikator ini merupakan preferensi utama investor memegang SBN. Pemerintah juga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat di tengah lonjakan inflasi, melalui pemberian bantuan tunai pada masyarakat menengah ke bawah, untuk menjaga permintaan dalam negeri.

Di sisi lain, Arsjad mengakui pelaku usaha membutuhkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk subsidi ekspor bagi pelaku usaha sebagai upaya meningkatkan volume ekspor produk-produk dalam negeri.

“Sejalan dengan pemberian subsidi ekspor, pemerintah juga diharapkan dapat memberikan kebijakan penurunan pajak dan biaya impor bagi industri-industri yang sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri, untuk membantu menekan biaya produksi,” kata Ketua Umum Kadin.

Selain itu, perluasan perjanjian kerja sama penggunaan mata uang lokal juga dapat menjadi solusi untuk menurunkan permintaan terhadap dolar AS. Kemudian, mempromosikan produk-produk unggulan dalam negeri ke pasar nontradisional melalui kedutaan besar dan atase perdagangan ke wilayah-wilayah yang potensial, misal Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

“Menarik investasi masuk ke Indonesia pada sektor-sektor yang padat karya, agar dapat meningkatkan penyerapan lapangan usaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan per kapita yang berdampak pada peningkatan konsumsi masyarakat dalam jangka panjang,” lanjut Arsjad.

Hal lain yang juga menjadi harapan Kadin adalah mendorong masyarakat untuk membelanjakan produk-produk dalam negeri dengan memperbanyak pameran-pameran produk UMKM. Pemerintah memberikan diskon dan subsidi pariwisata untuk menarik wisatawan luar negeri pada objek-objek wisata unggulan.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (3/10/2022) melemah, tertekan data inflasi September 2022. Rupiah ditutup melemah 76 poin atau 0,5% ke posisi Rp 15.303 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.227 per dolar AS.

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp 15.293 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.232 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 1,17 persen pada September 2022. Dengan terjadinya inflasi pada September, maka inflasi tahun kalender September 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,84% dan inflasi tahun ke tahun (yoy) September 2022 terhadap September 2021 sebesar 5,95%.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com