Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisma Atlet Siap Tampung OTG Covid-19. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Wisma Atlet Siap Tampung OTG Covid-19. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Anggaran Isolasi di Hotel Berasal dari Pos BNPB

Selasa, 15 September 2020 | 23:47 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kementerian Keuangan mengatakan anggaran untuk isolasi pasien Covid-19 yang ditempatkan di hotel bintang dua dan tiga, berasal dari anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah digelontorkan Kementerian Keuangan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, anggaran isolasi tersebut sudah masuk dalam tambahan anggaran yang diajukan BNPB pada Maret 2020 untuk menangani pandemi Covid -19 yang mencapai Rp3,5 triliun.

"Dalam hal ini anggaran tambahan yang kita alokasikan sebesar Rp3,5 triliun untuk BNPB, tentu di situ termasuk antisipasi kemungkinan penggunaan hotel untuk ruang isolasi pasien," kata Sri Mulyani dalam doorstop virtual, Selasa (15/9).

Menkeu Sri Mulyani dalam acara Future Financial Festival 2020
Menkeu Sri Mulyani.

Selain menggunakan hotel, pemerintah juga telah  melakukan penambahan kapasitas ruangan dan fasilitas kesehatan untuk menangani pasien Covid-19 di  Wisma Atlet Kemayoran dengan membuka tower enam dan tujuh untuk ruang isolasi tambahan.

"Di Kemayoran beberapa tower sudah ditambah, kalau tidak salah tower enam dan tujuh di Wisma Atlet. Jadi kita akan melihat penggunaan secara maksimal termasuk yang sudah ditetapkan pemerintah, termasuk gedung-gedung pelatihan," tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa yang terpenting saat ini adalah tanggung jawab pelaksanaan pagu anggaran yang sudah ditetapkan untuk menangani pandemi Covid -19. Hal ini agar pengelolaan dana yang dialokasikan untuk penanganan pandemi lebih transparan dan akuntabel.

"Paling fokus bagi kami adalah untuk semua penggunaan fasilitas itu dan berapa biaya untuk menggunakannya, ada perencanaan dan pertanggungjawaban oleh unit spirit BNPB," tutupnya.

Airlangga Hartarto. Sumber: BSTV
Airlangga Hartarto. Sumber: BSTV

Sebelumnya, Menteri Airlangga Hartarto mengatakan bahwa,  fasilitas kesehatan dan kapasitas rumah sakit di Jakarta tersedia dan akan terus ditingkatkan untuk menangani pasien Covid-19.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada semua pihak terkait, untuk tidak mengatakan bahwa sistem kesehatan tidak mampu dengan  kapasitas rumah sakit yang penuh. Pasalnya dapat menyebabkan ketidkapastian dan kekhawatiran.

“Jadi, jangan sampai mengatakan sistem kesehatan kita tidak mampu. Itu sama sekali tidak. Sebab pemerintah siapkan dana Rp 78  triliun  dan dana masih tersedia setiap saat dapat di-demploy,”kata Airlangga dalam program “Crosscheck From Home bertajuk 'Anies Rem Darurat, Ekonomi Tercekat?” secara virtual, Minggu (13/9).

Ia menjelaskan bahwa dari 67 rumah sakit rujukan Covid di Jakarta sebanyak 40%-nya merupakan punya pemerintah sehingga pemerintah mengetahui kapasitas kemampuan pemerintah.

Sementara sisanya dimiliki oleh swasta yang sebagaian besar juga sudah memiliki fasilitas yang mumpuni untuk menangani pasien Covid-19.

Bahkan untuk meningkatkan lagi kapasitas tempat tidur  di rumah sakit, maka pemerintah juga menambah beberapa tower di Wisma Atlet seiring dengan penambahan kasus positif Covid-19.

“Jakarta ditunjang nasional, jadi Jakarta tidak stand alone tapi ditunjang mekansime support nasional, termasuk jaring pengaman sosial, dan bansos Jabodetabek.  Jadi pemerintah punya data itu semua, pemerintah melihat dengan data scientific saat bicara Covid harus bicara scientific,”tegasnya.

Airlangga menegaskan bahwa tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Jakarta mencapai 75,2%. Angka tersebut lebih tinggi dari tingkat nasional yang hanya 71,4%. 

Adapun fatality rate atau tingkat kematiannya hanya sebesar 2,7%. Data ini lebih rendah dari tingkat nasional yang sebesar 4%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN